Studi yang dipublikasikan dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR) tahun 2026 ini meneliti pengaruh pertumbuhan kredit, LDR, dan suku bunga terhadap NPL pada bank-bank kategori Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) IV selama periode 2015–2024. Kelompok ini mencakup bank-bank terbesar di Indonesia seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri, dan Bank Negara Indonesia (BNI).
Temuan ini penting karena KBMI IV menguasai sebagian besar aset, dana pihak ketiga, dan penyaluran kredit nasional. Kondisi kesehatan kredit pada kelompok bank ini menjadi indikator utama stabilitas sistem keuangan Indonesia.
Kredit Bermasalah Menjadi Indikator Kesehatan Perbankan
NPL merupakan ukuran yang menunjukkan persentase kredit bermasalah dibandingkan total kredit yang disalurkan bank. Semakin tinggi NPL, semakin besar risiko yang dihadapi bank karena nasabah mengalami kesulitan membayar kewajibannya.
Sebelum pandemi COVID-19, industri perbankan Indonesia mencatat rasio NPL yang relatif terkendali. Namun tekanan ekonomi selama pandemi menyebabkan peningkatan kredit bermasalah di berbagai bank. Setelah memasuki masa pemulihan ekonomi, kualitas kredit perlahan membaik meskipun dengan kecepatan yang berbeda-beda di setiap bank.
Menurut Eclesia Eva Celia Putri dan Tony Seno Aji, perubahan NPL tidak hanya dipengaruhi kondisi ekonomi nasional, tetapi juga strategi penyaluran kredit, kemampuan pengelolaan likuiditas, serta kebijakan suku bunga.
Meneliti Data Perbankan Selama Satu Dekade
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis data panel terhadap bank-bank KBMI IV selama periode 2015 hingga 2024. Data diperoleh dari publikasi resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia.
Peneliti mengamati tiga faktor utama yang diduga memengaruhi NPL, yaitu:
- Pertumbuhan kredit (Credit Growth)
- Loan to Deposit Ratio (LDR)
- Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI7DRR)
Analisis dilakukan menggunakan model regresi panel untuk melihat pengaruh masing-masing variabel terhadap perubahan NPL dari waktu ke waktu.
Pertumbuhan Kredit Justru Menekan Kredit Macet
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap NPL.
Artinya, ketika kredit tumbuh lebih tinggi, rasio kredit bermasalah justru cenderung menurun.
Temuan ini menunjukkan bahwa bank-bank KBMI IV tidak sekadar meningkatkan volume kredit, tetapi juga tetap menjaga kualitas penyaluran pembiayaan. Kredit yang diberikan lebih banyak mengalir kepada debitur yang memiliki kemampuan finansial lebih kuat dan prospek usaha yang baik.
Menurut peneliti, keberhasilan tersebut tidak lepas dari penerapan prinsip kehati-hatian perbankan, penilaian kelayakan kredit yang ketat, serta pengawasan kredit yang berkelanjutan.
Selama periode pemulihan ekonomi pascapandemi, bank-bank besar juga cenderung lebih selektif dalam menyalurkan kredit sehingga pertumbuhan pembiayaan tidak diikuti peningkatan risiko gagal bayar.
LDR Tinggi Tidak Selalu Berbahaya
Faktor kedua yang diteliti adalah Loan to Deposit Ratio (LDR), yaitu rasio yang menggambarkan seberapa besar dana masyarakat yang disalurkan kembali dalam bentuk kredit.
Secara umum, LDR yang terlalu tinggi sering dianggap meningkatkan risiko likuiditas. Namun hasil penelitian menunjukkan fakta berbeda.
LDR memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap NPL. Dengan kata lain, semakin tinggi LDR pada bank-bank KBMI IV, semakin rendah tingkat kredit bermasalah yang tercatat.
Peneliti menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi karena peningkatan penyaluran kredit tetap diiringi seleksi debitur yang ketat. Bank tidak menyalurkan kredit secara agresif kepada peminjam berisiko tinggi, melainkan kepada nasabah dengan kemampuan pembayaran yang lebih baik.
Selain itu, pengawasan dari OJK dan Bank Indonesia membuat bank tetap menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan kecukupan likuiditas.
Suku Bunga Tidak Berpengaruh Signifikan
Berbeda dengan dua variabel sebelumnya, suku bunga acuan Bank Indonesia ternyata tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap NPL.
Secara teori, kenaikan suku bunga dapat meningkatkan beban cicilan debitur sehingga berpotensi menaikkan risiko gagal bayar. Namun pada praktiknya, pengaruh tersebut tidak terlihat kuat pada kelompok bank KBMI IV.
Peneliti menemukan bahwa perubahan suku bunga tidak langsung memengaruhi kemampuan debitur dalam membayar pinjaman. Banyak kredit yang memiliki tenor menengah hingga panjang dengan skema bunga yang relatif tetap atau disesuaikan secara bertahap.
Selain itu, bank juga mempertimbangkan kemampuan pembayaran debitur saat menentukan tingkat bunga kredit. Faktor-faktor tersebut membuat dampak perubahan suku bunga terhadap NPL menjadi relatif terbatas.
Kombinasi Faktor Menentukan Kualitas Kredit
Meski suku bunga tidak berpengaruh secara individual, hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga variabel—pertumbuhan kredit, LDR, dan suku bunga—secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap NPL.
Model penelitian mampu menjelaskan sekitar 51,5 persen variasi perubahan NPL pada bank KBMI IV selama periode pengamatan.
Menurut peneliti, kualitas kredit tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal. Perubahan NPL merupakan hasil interaksi antara strategi ekspansi kredit, pengelolaan dana masyarakat, kebijakan harga kredit, serta kondisi ekonomi yang dihadapi debitur.
Karena itu, pengelolaan risiko kredit yang efektif harus mempertimbangkan seluruh aspek tersebut secara bersamaan.
Implikasi bagi Industri Perbankan
Temuan ini memberikan pesan penting bagi industri perbankan Indonesia. Pertumbuhan kredit tidak selalu identik dengan meningkatnya risiko kredit macet selama bank mampu menjaga kualitas debitur dan menerapkan manajemen risiko yang baik.
Bank-bank besar juga perlu terus menjaga keseimbangan antara penghimpunan dana dan penyaluran kredit agar fungsi intermediasi berjalan optimal tanpa mengorbankan kualitas aset.
Bagi regulator, hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap kualitas kredit dan pengelolaan likuiditas dibanding hanya berfokus pada perubahan suku bunga sebagai alat menjaga stabilitas sektor perbankan.
Profil Penulis
Eclesia Eva Celia Putri merupakan peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dengan fokus kajian pada ekonomi perbankan, manajemen risiko kredit, dan stabilitas sistem keuangan.
Tony Seno Aji adalah akademisi dan peneliti pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya yang memiliki bidang keahlian ekonomi moneter, perbankan, dan kebijakan keuangan.
Sumber Penelitian
Putri, Eclesia Eva Celia & Aji, Tony Seno. 2026. “The Effect of Credit Growth, LDR and Interest Rates on Non-Performing Loans (NPL) in KBMI IV Banks in Indonesia.” Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 5, 1361–1376.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i5.73
URL Jurnal: https://journalfjmr.my.id/index.php/fjmr
0 Komentar