Pengaturan Luas Penyinaran Tingkatkan Kontras Hasil Rontgen di RSI Ibnu Sina Padang

Ilustrasi by AI

Padang — Pengaturan luas lapangan penyinaran dalam pemeriksaan radiografi terbukti berpengaruh langsung terhadap kualitas kontras gambar rontgen. Temuan ini disampaikan oleh Cicillia Artitin, Nerifa Dewilza, M Redho Agustri, dan Berliana Eka Putri dari Universitas Baiturrahmah melalui kegiatan pengabdian masyarakat di Instalasi Radiologi RSI Ibnu Sina Padang pada 2024 yang dipublikasikan tahun 2026.

Kegiatan ini menyoroti pentingnya teknik kolimasi dalam dunia radiologi, terutama untuk meningkatkan kualitas citra sekaligus menekan paparan radiasi pada pasien. Dalam praktik medis, kualitas gambar radiografi sangat menentukan ketepatan diagnosis dokter.

Radiografi merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan yang menggunakan sinar-X untuk menampilkan struktur tubuh. Namun, kualitas gambar yang dihasilkan tidak hanya ditentukan oleh alat, tetapi juga teknik yang digunakan oleh radiografer, termasuk pengaturan luas penyinaran.

Berdasarkan hasil kegiatan, banyak radiografer di lapangan masih menggunakan luas penyinaran yang terlalu besar. Hal ini memicu meningkatnya radiasi hambur yang justru menurunkan kontras gambar.

Penelitian menunjukkan bahwa semakin luas area penyinaran, semakin besar radiasi hambur yang dihasilkan. Radiasi ini menyebabkan gambar menjadi kurang jelas karena detail perbedaan jaringan tubuh tidak terlihat optimal. Sebaliknya, pembatasan area penyinaran melalui kolimasi mampu meningkatkan kontras dengan mengurangi radiasi hambur.

Dalam diskusi yang dilakukan selama kegiatan, dijelaskan bahwa luas lapangan penyinaran yang lebih kecil dapat meningkatkan kualitas citra radiografi. Namun, teknik ini tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan pemeriksaan agar tidak mengurangi area diagnostik yang diperlukan.

Kegiatan sosialisasi yang dilakukan pada 17 September 2024 ini melibatkan seluruh radiografer di Instalasi Radiologi RSI Ibnu Sina Padang. Metode yang digunakan meliputi pemaparan materi, diskusi interaktif, serta studi kasus hasil radiografi dengan variasi luas penyinaran.

Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman radiografer terkait hubungan antara luas penyinaran dan kontras gambar. Para peserta juga mulai memahami pentingnya penggunaan kolimasi untuk menghasilkan citra yang optimal sekaligus mengurangi paparan radiasi.

Selain itu, kegiatan ini meningkatkan kesadaran tenaga radiografi terhadap prinsip keselamatan radiasi, khususnya konsep ALARA (As Low As Reasonably Achievable). Prinsip ini menekankan bahwa paparan radiasi harus ditekan seminimal mungkin tanpa mengurangi kualitas hasil pemeriksaan.

Dalam praktik sehari-hari, radiografer sering memilih membuka lapangan penyinaran lebih luas untuk menghindari pengulangan pemeriksaan. Namun, pendekatan ini justru berdampak pada peningkatan dosis radiasi pasien dan penurunan kualitas citra.

Cicillia Artitin dari Universitas Baiturrahmah menjelaskan bahwa penggunaan kolimasi yang tepat tidak hanya meningkatkan kontras gambar, tetapi juga melindungi pasien dari paparan radiasi berlebih. Oleh karena itu, penguasaan teknik ini menjadi kompetensi penting bagi tenaga radiografi.

Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa edukasi berkelanjutan sangat diperlukan untuk memastikan standar praktik radiografi tetap terjaga. Dengan peningkatan kompetensi tenaga medis, kualitas pelayanan kesehatan dapat ditingkatkan secara signifikan.

Temuan ini memberikan implikasi penting bagi rumah sakit dan institusi kesehatan untuk memperkuat pelatihan teknis bagi radiografer, khususnya dalam pengaturan kolimasi dan optimasi kualitas citra radiografi.

Profil Penulis
Cicillia Artitin, Nerifa Dewilza, M Redho Agustri, dan Berliana Eka Putri merupakan peneliti dari Universitas Baiturrahmah.

Sumber Penelitian
Judul: Socialization of the Effect of Radiography Film Contrast on Different Field Areas in Radiographers at the Radiology Installation of RSI Ibnu Sina Padang
Jurnal: Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa, 2026

Posting Komentar

0 Komentar