Analisis Implementasi Bauran Pemasaran di UMKM Kue Mom Ecih

Ilustrasi by AI

Strategi 7P Dorong Daya Saing UMKM Kue Bu Ecih di Tengah Persaingan Kuliner Tasikmalaya

Penelitian terbaru mengungkap bagaimana strategi pemasaran menjadi kunci bertahan bagi pelaku usaha kecil di sektor kuliner. Studi yang dilakukan oleh Asep Saepul Milah dan Yudi Kurniadi dari Politeknik LP3I Tasikmalaya pada 2026 menyoroti penerapan bauran pemasaran 7P pada UMKM Kue Bu Ecih di Tasikmalaya. Hasilnya menunjukkan bahwa strategi sederhana yang dijalankan sudah cukup efektif menarik konsumen, meski masih membutuhkan penguatan, terutama di aspek promosi digital dan kemasan produk.

Di tengah pertumbuhan pesat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), persaingan di sektor kuliner semakin ketat. Konsumen kini memiliki banyak pilihan produk dengan variasi rasa, harga, dan layanan. Kondisi ini memaksa pelaku usaha untuk tidak hanya mengandalkan kualitas produk, tetapi juga strategi pemasaran yang tepat agar tetap kompetitif.

UMKM Kue Bu Ecih menjadi contoh menarik. Usaha rumahan ini memproduksi berbagai jenis kue tradisional dan modern yang menyasar kebutuhan konsumsi harian hingga acara khusus. Dalam situasi pasar yang dinamis, penerapan strategi pemasaran menjadi faktor penting dalam mempertahankan pelanggan sekaligus menarik pembeli baru.

Metode Sederhana, Hasil Nyata

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, serta dokumentasi. Informasi utama berasal dari pemilik usaha, sementara konsumen menjadi informan pendukung.

Analisis dilakukan secara bertahap, mulai dari penyaringan data, penyajian informasi, hingga penarikan kesimpulan. Pendekatan ini memberikan gambaran menyeluruh tentang bagaimana strategi pemasaran dijalankan dalam praktik sehari-hari.

Temuan Utama: 7P Sudah Berjalan, Tapi Belum Maksimal

Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh elemen bauran pemasaran 7P—product, price, place, promotion, people, process, dan physical evidence—telah diterapkan, meskipun masih dalam skala sederhana.

1. Produk (Product)
UMKM Kue Bu Ecih menawarkan beragam jenis kue dengan variasi rasa dan bentuk. Konsumen menilai produk memiliki rasa yang enak, tampilan menarik, dan kualitas yang cukup baik. Variasi ini membantu memenuhi kebutuhan berbagai segmen pelanggan.

2. Harga (Price)
Harga ditetapkan dengan mempertimbangkan biaya produksi dan daya beli masyarakat. Produk dijual dengan harga terjangkau namun tetap kompetitif. Fleksibilitas harga, seperti diskon untuk pembelian dalam jumlah besar, juga menjadi daya tarik tambahan.

3. Lokasi (Place)
Lokasi usaha mudah dijangkau oleh masyarakat sekitar. Selain itu, pemesanan juga dapat dilakukan secara online melalui WhatsApp, sehingga memudahkan konsumen tanpa harus datang langsung.

4. Promosi (Promotion)
Promosi dilakukan melalui WhatsApp, Instagram, dan dari mulut ke mulut. Meski sudah memanfaatkan media digital, strategi ini dinilai belum konsisten dan kurang kreatif dalam penyampaian konten.

5. Sumber Daya Manusia (People)
Pelayanan yang diberikan dinilai ramah dan responsif. Pemilik usaha terlibat langsung dalam melayani pelanggan, menciptakan hubungan yang lebih personal.

6. Proses (Process)
Alur pemesanan hingga pengiriman cukup sederhana dan efisien. Namun, pada pesanan dalam jumlah besar, waktu produksi masih menjadi kendala.

7. Bukti Fisik (Physical Evidence)
Kemasan produk dinilai bersih dan rapi, tetapi masih sederhana. Konsumen mengharapkan desain kemasan yang lebih modern dan menarik.

Dokumentasi visual pada halaman 8 menunjukkan variasi produk kue yang cukup beragam, sementara gambar pada halaman 9 memperlihatkan proses transaksi yang masih manual namun terorganisir. Ini menegaskan bahwa usaha masih berada pada tahap pengembangan, bukan industrialisasi.

Tantangan Utama: Promosi dan Sumber Daya

Penelitian juga mengidentifikasi beberapa kendala utama yang dihadapi UMKM Kue Bu Ecih, antara lain:

  • Promosi digital belum konsisten
  • Keterbatasan tenaga kerja dan waktu
  • Persaingan usaha yang semakin ketat
  • Kemasan produk yang belum optimal

Pemilik usaha mengakui bahwa sebagian besar aktivitas masih dikerjakan sendiri, sehingga sulit mengelola promosi secara maksimal.

Dampak dan Implikasi

Temuan ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran sederhana tetap bisa memberikan dampak positif jika dijalankan secara konsisten. Namun, untuk meningkatkan daya saing, UMKM perlu beradaptasi dengan perkembangan digital.

Asep Saepul Milah dari Politeknik LP3I Tasikmalaya menekankan pentingnya inovasi berkelanjutan. Ia menyebut bahwa “penguatan promosi digital, inovasi produk, dan peningkatan kualitas kemasan menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing UMKM secara berkelanjutan.”

Bagi pelaku usaha, penelitian ini memberikan panduan praktis untuk mengembangkan strategi pemasaran. Sementara bagi pemerintah dan lembaga pendidikan, hasil ini dapat menjadi dasar dalam merancang program pelatihan UMKM, khususnya di bidang digital marketing dan pengembangan produk.

Profil Penulis

Asep Saepul Milah adalah akademisi dari Politeknik LP3I Tasikmalaya yang fokus pada bidang manajemen pemasaran dan pengembangan UMKM.
Yudi Kurniadi merupakan dosen di institusi yang sama dengan keahlian di bidang strategi bisnis dan kewirausahaan.

Keduanya aktif melakukan penelitian yang berfokus pada penguatan daya saing UMKM di tingkat lokal.

Sumber Penelitian

Judul: Analysis of Marketing Mix Implementation at Mom Ecih Cake MSME
Penulis: Asep Saepul Milah, Yudi Kurniadi
Jurnal: International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR)
Tahun: 2026, Vol. 4 No. 4, Hal. 327–338

Posting Komentar

0 Komentar