Benteng Integritas Jadi Kunci Cegah Kecurangan di RSUD, Studi Peneliti Lampung Ungkap Faktor Penentunya
Sebuah penelitian terbaru dari University of Lampung dan Raden Intan State Islamic University of Lampung mengungkap bahwa upaya mencegah kecurangan di rumah sakit daerah tidak cukup hanya mengandalkan tata kelola yang baik. Faktor paling menentukan justru terletak pada niat manajemen untuk menerapkan sistem pengawasan tambahan yang disebut Integrity Fortress atau “Benteng Integritas”. Studi ini ditulis oleh Mega Metalia dan Agus Kurniawan, dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Sustainable Social Science. Penelitian tersebut menyoroti bagaimana rumah sakit umum daerah (RSUD) sebagai pengelola dana publik memiliki risiko tinggi terhadap fraud atau kecurangan, terutama karena mengelola anggaran besar, pengadaan barang, klaim layanan, hingga keputusan operasional yang kompleks. Bagi masyarakat, hasil penelitian ini penting karena RSUD merupakan institusi pelayanan publik yang bersentuhan langsung dengan kesehatan warga. Jika tata kelola keuangan rumah sakit lemah, dampaknya tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga kualitas pelayanan kesehatan.
Sebuah penelitian terbaru dari University of Lampung dan Raden Intan State Islamic University of Lampung mengungkap bahwa upaya mencegah kecurangan di rumah sakit daerah tidak cukup hanya mengandalkan tata kelola yang baik. Faktor paling menentukan justru terletak pada niat manajemen untuk menerapkan sistem pengawasan tambahan yang disebut Integrity Fortress atau “Benteng Integritas”. Studi ini ditulis oleh Mega Metalia dan Agus Kurniawan, dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Sustainable Social Science. Penelitian tersebut menyoroti bagaimana rumah sakit umum daerah (RSUD) sebagai pengelola dana publik memiliki risiko tinggi terhadap fraud atau kecurangan, terutama karena mengelola anggaran besar, pengadaan barang, klaim layanan, hingga keputusan operasional yang kompleks. Bagi masyarakat, hasil penelitian ini penting karena RSUD merupakan institusi pelayanan publik yang bersentuhan langsung dengan kesehatan warga. Jika tata kelola keuangan rumah sakit lemah, dampaknya tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga kualitas pelayanan kesehatan.
Mengapa RSUD Rentan Terhadap Kecurangan?
Penulis menjelaskan bahwa sektor kesehatan termasuk salah satu sektor paling rentan terhadap praktik fraud. Rumah sakit daerah, khususnya yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menerima dan membelanjakan pendapatan. Fleksibilitas ini memang dirancang untuk meningkatkan mutu layanan, namun di sisi lain membuka peluang penyalahgunaan jika pengawasan internal tidak kuat. Dalam konteks Indonesia, selama ini pemerintah mendorong penerapan Good Hospital Governance (GHG) atau tata kelola rumah sakit yang baik. Prinsipnya meliputi transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, dan keadilan. Namun menurut studi ini, GHG saja belum cukup efektif jika hanya dipahami sebagai aturan administratif.
Apa Itu “Integrity Fortress”?
Istilah Integrity Fortress dalam penelitian ini merujuk pada sistem perlindungan lapis kedua untuk mencegah fraud. Sistem ini bukan sekadar audit biasa, tetapi mencakup:
-kebijakan anti-fraud yang terintegrasi
-sistem pelaporan pelanggaran (whistleblowing)
-perlindungan pelapor
-investigasi internal
-penegakan disiplin
-penilaian risiko fraud secara berkala
Dengan kata lain, Integrity Fortress dirancang untuk menciptakan lingkungan kerja yang membuat pelaku potensial berpikir ulang karena peluang terdeteksi dan terkena sanksi menjadi lebih besar.
Survei pada 181 RSUD di Indonesia
Penelitian dilakukan pada manajemen RSUD di Wilayah 1 Indonesia dengan cakupan 181 rumah sakit dan 1.333 pejabat pengelola sebagai populasi. Responden meliputi direktur rumah sakit, kepala bidang, pejabat keuangan, auditor internal, pejabat pengadaan, hingga dewan pengawas. Data dikumpulkan melalui kuesioner tertulis dan dianalisis menggunakan model statistik struktural. Secara sederhana, para peneliti ingin mengetahui: faktor apa yang membuat manajemen rumah sakit benar-benar mau menerapkan Benteng Integritas, dan apakah hal itu efektif mencegah fraud.
Temuan Utama Penelitian
Hasil studi menunjukkan bahwa pencegahan kecurangan di RSUD lebih dipengaruhi oleh perilaku manajerial daripada sekadar aturan formal. Temuan utama meliputi:
1.Pemahaman tentang Good Hospital Governance meningkatkan niat manajemen untuk menerapkan Integrity Fortress.
2.Tekanan sosial dan moral dari atasan, auditor, serta pemangku kepentingan juga memperkuat niat tersebut.
3.Sikap pribadi manajer terhadap anti-fraud ternyata tidak cukup berpengaruh.
4.Perasaan mampu atau memiliki kontrol juga tidak otomatis membuat sistem diterapkan.
5.Faktor paling kuat adalah niat nyata manajemen untuk menjalankan Integrity Fortress—dan inilah yang berhubungan langsung dengan pencegahan fraud.
Artinya, rumah sakit yang manajemennya benar-benar berkomitmen menerapkan sistem pengawasan tambahan cenderung lebih berhasil menekan potensi penyalahgunaan anggaran.
Pengetahuan Saja Tidak Cukup
Salah satu temuan menarik adalah bahwa pemahaman terhadap tata kelola rumah sakit yang baik tidak langsung berdampak pada pencegahan fraud. Menurut penulis, banyak manajer sudah mengetahui prinsip tata kelola, tetapi implementasinya masih lemah. Misalnya:
-penilaian risiko belum rutin
-sistem pelaporan kecurangan belum optimal
-pengawasan internal masih bisa diabaikan
-sanksi belum diterapkan secara konsisten
Karena itu, pengetahuan harus diikuti sistem operasional yang konkret.
Dampak bagi Pelayanan Publik
Bagi publik, penelitian ini memberikan pesan penting: perlindungan aset negara di rumah sakit tidak hanya soal akuntansi, tetapi juga budaya integritas. Jika sistem seperti Integrity Fortress diterapkan luas di RSUD, manfaat yang dapat dirasakan masyarakat antara lain:
-penggunaan anggaran kesehatan lebih transparan
-pengadaan obat dan alat medis lebih akuntabel
-pelayanan rumah sakit lebih efisien
-kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan pemerintah meningkat
Penulis menilai pendekatan ini dapat menjadi model kebijakan bagi pemerintah daerah dan kementerian kesehatan dalam memperkuat pengawasan layanan kesehatan berbasis dana publik.
Pandangan Penulis
Mega Metalia menyebut bahwa fraud deterrence atau pencegahan kecurangan bukan sekadar hasil dari aturan, tetapi merupakan perilaku organisasi yang dimulai dari komitmen pimpinan. Sementara Agus Kurniawan menekankan bahwa tekanan dari regulator, auditor, dan pemangku kepentingan eksternal justru menjadi pendorong utama lahirnya komitmen anti-fraud di rumah sakit daerah.
Profil Singkat Penulis
Mega Metalia adalah akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, University of Lampung. Bidang keahliannya meliputi akuntansi sektor publik, tata kelola organisasi, dan pengawasan keuangan publik.
Agus Kurniawan merupakan peneliti dari Raden Intan State Islamic University of Lampung dengan fokus kajian tata kelola kelembagaan, akuntabilitas publik, dan kebijakan sektor kesehatan.
Sumber Penelitian
Metalia, M., & Kurniawan, A. (2026). Protecting Public Assets: Safeguarding RSUD Accountability Through Integrity Fortress. International Journal of Sustainable Social Science, 167–178.

0 Komentar