Integrasi Teknologi di Sekolah Dasar Masih Terkendala Internet dan Dukungan Institusi

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Santiago, Filipina - Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dalam pembelajaran di sekolah dasar masih menghadapi berbagai hambatan, terutama keterbatasan infrastruktur, akses internet, serta dukungan institusional. Temuan tersebut terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Charmaine D. Saflor dan Celso C. Dumalig dari Graduate School, Northeastern College, Inc., Santiago City, Filipina, yang dipublikasikan pada tahun 2026 di Formosa Journal of Multidisciplinary Research.

Penelitian ini menyoroti praktik penggunaan ICT oleh guru kelas 5 di Distrik Echague West, Isabela, Filipina. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun teknologi sudah mulai digunakan dalam proses belajar mengajar, tingkat integrasinya masih berada pada kategori sedang dan belum mampu mengubah proses pembelajaran secara optimal.

Temuan ini penting karena banyak negara, termasuk Filipina dan Indonesia, tengah mendorong transformasi digital di sektor pendidikan. Namun, keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada ketersediaan perangkat teknologi, tetapi juga kesiapan guru, dukungan sekolah, serta kualitas infrastruktur pendukung.

Teknologi Sudah Ada, Namun Belum Sepenuhnya Memadai

Penelitian melibatkan 100 guru kelas 5 yang memiliki pengalaman mengajar dan pernah menggunakan teknologi dalam pembelajaran. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang mengukur ketersediaan sumber daya ICT, kompetensi guru, dukungan institusi, tantangan yang dihadapi, serta strategi yang digunakan untuk mengatasinya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas ICT di sekolah tergolong "cukup tersedia" dengan nilai rata-rata 3,03 dari skala 4. Komputer dan proyektor relatif tersedia di sebagian besar sekolah, namun kualitas koneksi internet masih menjadi persoalan utama.

Kecepatan internet memperoleh nilai terendah dibandingkan indikator lainnya. Kondisi ini menyebabkan guru kesulitan menjalankan pembelajaran berbasis teknologi secara konsisten, terutama ketika membutuhkan akses daring atau penggunaan platform pembelajaran digital.

Selain masalah internet, aspek pemeliharaan perangkat juga masih tergolong kurang memadai. Banyak sekolah memiliki perangkat teknologi, tetapi belum didukung sistem perawatan dan pembaruan perangkat yang berkelanjutan.

Kompetensi Guru Berada pada Tingkat Menengah

Penelitian menemukan bahwa kompetensi ICT guru berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata 3,13.

Sebagian besar guru sudah menguasai keterampilan dasar seperti:

  • Penggunaan komputer
  • Pengolahan dokumen
  • Presentasi digital
  • Navigasi internet dasar

Namun, kemampuan yang lebih kompleks masih menjadi tantangan, antara lain:

  • Penggunaan perangkat lunak pendidikan tingkat lanjut
  • Pembelajaran daring interaktif
  • Pemecahan masalah teknis (troubleshooting)
  • Pengelolaan platform pembelajaran digital

Data juga menunjukkan bahwa 15 persen responden belum pernah mengikuti pelatihan ICT sama sekali. Sementara itu, mayoritas guru hanya mengikuti satu hingga dua pelatihan terkait teknologi pendidikan.

Menurut Saflor dan Dumalig, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelatihan yang tersedia belum cukup berkelanjutan untuk membangun kompetensi digital yang kuat di kalangan guru.

Beban Kerja dan Keterbatasan Waktu Menjadi Hambatan Besar

Salah satu temuan paling menonjol dalam penelitian ini adalah tingginya hambatan yang berasal dari beban kerja guru.

Tantangan utama yang dihadapi guru meliputi:

  • Koneksi internet yang buruk
  • Keterbatasan perangkat teknologi
  • Peralatan yang sudah usang
  • Beban kerja administratif yang tinggi
  • Waktu yang terbatas untuk menyiapkan pembelajaran berbasis ICT

Nilai rata-rata tantangan terkait ketersediaan teknologi mencapai 3,49, sementara hambatan akibat waktu dan beban kerja mencapai 3,39, keduanya masuk kategori tinggi.

Kondisi tersebut membuat banyak guru hanya memanfaatkan teknologi untuk fungsi dasar seperti presentasi materi dan komunikasi, bukan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif dan berpusat pada siswa.

Guru Tetap Adaptif di Tengah Keterbatasan

Meski menghadapi berbagai kendala, penelitian menemukan bahwa guru menunjukkan tingkat adaptasi yang tinggi.

Strategi yang paling banyak digunakan meliputi:

  • Belajar mandiri mengenai teknologi
  • Berkolaborasi dengan rekan sejawat
  • Menggunakan perangkat pribadi
  • Melakukan improvisasi ketika fasilitas sekolah terbatas

Skor strategi adaptasi guru mencapai rata-rata 3,39, termasuk kategori tinggi.

Menurut para peneliti, temuan ini menunjukkan bahwa guru memiliki kemauan kuat untuk tetap memanfaatkan teknologi demi meningkatkan kualitas pembelajaran, meskipun dukungan yang diterima belum optimal.

Kolaborasi antar guru juga terbukti menjadi salah satu faktor penting yang membantu keberlangsungan penggunaan ICT di sekolah.

Faktor Penentu Keberhasilan Integrasi ICT

Penelitian menemukan hubungan yang signifikan antara berbagai faktor pendukung dengan tingkat integrasi ICT dalam pembelajaran.

Beberapa hasil penting antara lain:

  • Hubungan antara ketersediaan sumber daya ICT dan integrasi ICT memiliki koefisien korelasi 0,65.
  • Hubungan antara kompetensi ICT guru dan integrasi ICT memiliki koefisien korelasi 0,70.
  • Hubungan antara sistem dukungan institusi dan efektivitas ICT memiliki koefisien korelasi 0,60.

Angka tersebut menunjukkan bahwa semakin baik fasilitas teknologi, kompetensi guru, dan dukungan institusi, maka semakin tinggi pula penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran.

Dengan kata lain, penyediaan perangkat saja tidak cukup. Sekolah juga harus memastikan adanya pelatihan yang berkelanjutan, dukungan teknis yang memadai, serta kebijakan yang mendorong inovasi pembelajaran digital.

Implikasi bagi Dunia Pendidikan

Hasil penelitian ini memberikan pesan penting bagi pengambil kebijakan pendidikan, khususnya di wilayah pedesaan dan daerah dengan keterbatasan sumber daya.

Investasi pada perangkat teknologi perlu dibarengi dengan:

  • Peningkatan kualitas internet sekolah
  • Pelatihan guru yang berkelanjutan
  • Dukungan teknis yang responsif
  • Kebijakan sekolah yang mendukung inovasi digital
  • Pengurangan beban administratif guru

Saflor dan Dumalig menegaskan bahwa transformasi digital pendidikan hanya dapat berhasil jika pembangunan infrastruktur, penguatan kapasitas guru, dan dukungan institusional dilakukan secara bersamaan.

Tanpa pendekatan yang menyeluruh, penggunaan teknologi di sekolah berisiko hanya menjadi pelengkap pembelajaran, bukan alat transformasi yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan secara signifikan.

Profil Penulis

Charmaine D. Saflor merupakan peneliti pendidikan dan mahasiswa pascasarjana di Graduate School, Northeastern College, Inc., Santiago City, Filipina. Bidang kajiannya berfokus pada teknologi pendidikan, integrasi ICT dalam pembelajaran, dan pengembangan kompetensi guru.

Celso C. Dumalig adalah akademisi dan peneliti dari Graduate School, Northeastern College, Inc., Santiago City, Filipina. Keahliannya meliputi manajemen pendidikan, pengembangan profesional guru, teknologi pembelajaran, dan kebijakan pendidikan.

Sumber Penelitian

Saflor, C. D., & Dumalig, C. C. (2026). ICT-Based Instruction in the Teaching Practices of Grade 5 Teachers in Echague West District. Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 5, hlm. 1543–1564.

DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i5.68

Jurnal: Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), 2026.

Posting Komentar

0 Komentar