Implementasi Kurikulum MATATAG di Wilayah Pegunungan Terkendala Fasilitas dan Pelatihan Guru

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Provinsi Ifugao, Filipina - Implementasi Kurikulum MATATAG di Distrik Tinoc, Provinsi Ifugao, Filipina, menunjukkan hasil yang cukup positif dalam meningkatkan praktik pembelajaran literasi dan numerasi. Namun, keterbatasan fasilitas pendidikan, akses teknologi, serta minimnya pelatihan khusus bagi guru masih menjadi hambatan utama dalam pelaksanaannya di daerah pegunungan yang terpencil.

Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Ela Flor Peralta dari Program Pascasarjana Northeastern College Inc., Santiago City, Filipina, bersama Dr. Celso C. Dumalig, yang dipublikasikan pada tahun 2026 dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR).

Penelitian ini menjadi penting karena Kurikulum MATATAG merupakan reformasi pendidikan terbaru yang diperkenalkan Departemen Pendidikan Filipina untuk menyederhanakan kurikulum K-12, memperkuat kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung, serta meningkatkan pembelajaran yang lebih kontekstual sesuai kebutuhan peserta didik.

Tantangan Pendidikan di Daerah Terpencil

Distrik Tinoc merupakan salah satu wilayah pegunungan yang tergolong daerah terpencil dan memiliki keterbatasan infrastruktur pendidikan. Kondisi geografis tersebut membuat implementasi kebijakan pendidikan nasional tidak selalu berjalan mulus.

Menurut Peralta dan Dumalig, keberhasilan kurikulum tidak hanya ditentukan oleh isi kurikulum itu sendiri, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kesiapan guru, kepemimpinan sekolah, ketersediaan sumber belajar, serta dukungan masyarakat sekitar.

Di wilayah seperti Tinoc, faktor-faktor tersebut semakin kompleks karena terbatasnya akses transportasi, jaringan internet, fasilitas sekolah, dan kesempatan mengikuti pelatihan profesional.

Melibatkan 150 Guru dan Pimpinan Sekolah

Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods atau gabungan metode kuantitatif dan kualitatif.

Sebanyak 150 responden terlibat dalam penelitian ini yang terdiri dari:

  • 125 guru kelas
  • 19 guru utama (Master Teachers)
  • 6 kepala bidang atau pimpinan sekolah

Data dikumpulkan melalui survei, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terarah (focus group discussion).

Pendekatan tersebut digunakan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kesiapan tenaga pendidik, praktik pembelajaran, ketersediaan sumber daya, kolaborasi sekolah dengan masyarakat, serta berbagai kendala yang dihadapi selama penerapan Kurikulum MATATAG.

Guru dan Kepala Sekolah Dinilai Siap

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas guru dan pimpinan sekolah memiliki tingkat kesiapan yang tinggi dalam menjalankan Kurikulum MATATAG.

Sebagian besar responden juga memiliki latar belakang pendidikan yang cukup baik:

  • 39 persen sedang menempuh pendidikan magister.
  • 19 persen telah menyelesaikan pendidikan magister.
  • Sebagian kecil telah menempuh atau menyelesaikan program doktoral.

Selain itu, mayoritas responden telah mengikuti berbagai pelatihan profesional, terutama dalam bidang:

  • Manajemen kelas (67 persen)
  • Integrasi teknologi dalam pembelajaran (49 persen)
  • Penilaian dan pembelajaran berdiferensiasi (35 persen)

Temuan ini menunjukkan adanya budaya pengembangan profesional yang cukup kuat di kalangan tenaga pendidik di Distrik Tinoc.

Praktik Pembelajaran Dinilai Efektif

Penelitian menemukan bahwa guru secara konsisten menerapkan praktik pembelajaran yang mendukung peningkatan literasi dan numerasi siswa.

Para guru dinilai berhasil:

  • Mengaitkan materi pelajaran dengan situasi nyata.
  • Mendorong kemampuan berpikir kritis siswa.
  • Mengembangkan komunikasi dan diskusi kelas.
  • Menggunakan teknologi untuk meningkatkan interaktivitas pembelajaran.
  • Memberikan pengalaman belajar yang lebih berpusat pada siswa.

Menurut hasil evaluasi, praktik-praktik tersebut memperoleh penilaian sangat baik dari guru maupun pimpinan sekolah.

Peralta dan Dumalig menyimpulkan bahwa kapasitas profesional tenaga pendidik menjadi faktor utama yang membantu keberhasilan implementasi Kurikulum MATATAG meskipun berada dalam kondisi geografis yang menantang.

Keterbatasan Sarana Masih Menjadi Hambatan

Di balik capaian positif tersebut, penelitian juga menemukan sejumlah kendala yang cukup serius.

Keterbatasan yang paling sering dilaporkan meliputi:

  • Kurangnya bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum baru.
  • Keterbatasan perangkat teknologi pendidikan.
  • Akses internet yang tidak stabil.
  • Fasilitas sekolah yang belum memadai.
  • Terbatasnya pelatihan khusus bagi guru di daerah terpencil.

Kondisi tersebut menyebabkan kualitas implementasi kurikulum tidak selalu merata di seluruh sekolah.

Peneliti mencatat bahwa tantangan lingkungan dan keterbatasan sumber daya memiliki pengaruh langsung terhadap efektivitas pelaksanaan pembelajaran.

Kolaborasi Sekolah dan Masyarakat Belum Konsisten

Penelitian juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mendukung reformasi pendidikan.

Meskipun kerja sama antara sekolah dan masyarakat telah berjalan, tingkat partisipasinya masih belum konsisten di semua wilayah.

Dukungan dari pemerintah daerah, organisasi masyarakat, orang tua, dan berbagai pemangku kepentingan dinilai sangat diperlukan untuk membantu sekolah memenuhi kebutuhan sumber daya dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

"Implementasi kurikulum tidak hanya bergantung pada guru dan sekolah, tetapi juga membutuhkan dukungan lingkungan yang lebih luas," tulis Peralta dan Dumalig dalam pembahasan penelitian mereka.

Rekomendasi untuk Pemerintah dan Sekolah

Berdasarkan temuan penelitian, para peneliti merekomendasikan sejumlah langkah strategis untuk meningkatkan keberhasilan Kurikulum MATATAG di daerah terpencil.

Beberapa rekomendasi utama meliputi:

  1. Menyelenggarakan pelatihan berkelanjutan bagi guru dan kepala sekolah.
  2. Memperkuat pembelajaran literasi dan numerasi melalui program yang lebih terstruktur.
  3. Menambah ketersediaan bahan ajar dan teknologi pendidikan.
  4. Memperkuat kemitraan antara sekolah dan masyarakat.
  5. Meningkatkan program pendampingan, supervisi, serta mentoring bagi guru.
  6. Mengembangkan program kesejahteraan guru untuk mengurangi beban kerja dan meningkatkan motivasi.

Sebagai tindak lanjut, penelitian ini menghasilkan sebuah Curriculum Implementation Enhancement Plan (CIEP) atau Rencana Peningkatan Implementasi Kurikulum yang dirancang untuk membantu sekolah mengatasi berbagai hambatan yang ditemukan.

Dampak bagi Dunia Pendidikan

Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa reformasi kurikulum dapat berjalan efektif bahkan di wilayah pegunungan yang terpencil apabila didukung oleh tenaga pendidik yang kompeten.

Namun demikian, investasi pada infrastruktur pendidikan, teknologi, dan pengembangan kapasitas guru tetap menjadi faktor penentu keberhasilan jangka panjang.

Temuan ini juga relevan bagi negara-negara berkembang yang menghadapi tantangan serupa dalam menerapkan kebijakan pendidikan di daerah terpencil dan tertinggal.

Profil Penulis

Ela Flor Peralta
Mahasiswa Pascasarjana, Northeastern College Inc., Santiago City, Filipina. Fokus kajian meliputi implementasi kurikulum, manajemen pendidikan, dan pengembangan kualitas pembelajaran.

Dr. Celso C. Dumalig
Akademisi dan praktisi pendidikan dari Northeastern College Inc. serta pejabat pendidikan di Department of Education (DepEd) Filipina. Bidang keahlian meliputi kepemimpinan pendidikan, kebijakan pendidikan, pengembangan kurikulum, dan peningkatan kualitas sekolah.

Sumber Penelitian

Peralta, E.F., & Dumalig, C.C. (2026).

Judul: Educational Transformation in the Highlands: A Study on Matatag Curriculum Implementation in Tinoc District

Jurnal: Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 5, 2026, halaman 1565–1584.

DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i5.69

Penerbit: Formosa Journal of Multidisciplinary Research.

Posting Komentar

0 Komentar