Pampanga — Penelitian terbaru yang ditulis oleh Jenny Rose P. Dalmacion, Edward C. Jimenez dari La Consolacion University Philippines, serta Sonny N. De Guzman dari Mabalacat City College pada tahun 2026 mengungkap bagaimana kepercayaan diri guru atau self-efficacy menjadi kunci dalam menghadapi burnout dan menjaga komitmen kerja. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal East Asian Journal of Multidisciplinary Research dan menyoroti kondisi nyata guru sekolah dasar di Filipina yang menghadapi tekanan kerja tinggi namun tetap mempertahankan dedikasi mereka.
Penelitian ini menjadi penting karena tingkat stres dan burnout di kalangan guru terus meningkat secara global, terutama setelah pandemi. Di Filipina sendiri, sebagian besar guru mengalami kelelahan kerja akibat beban tugas yang tinggi, termasuk pekerjaan administratif dan persiapan mengajar yang sering tidak dibayar.
Dalam konteks tersebut, para peneliti mencoba memahami bagaimana guru tetap bertahan dan bahkan berkembang di tengah tekanan kerja. Fokus utama penelitian ini adalah hubungan antara self-efficacy, burnout, dan komitmen kerja dalam lingkungan pendidikan dasar.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Para peneliti menggali pengalaman langsung guru sekolah dasar negeri di Divisi Pampanga melalui analisis tematik. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menangkap pengalaman nyata guru, termasuk tantangan, strategi bertahan, hingga motivasi yang mendorong mereka tetap mengajar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa profesi guru dipandang sebagai perjalanan emosional yang kompleks. Banyak guru menggambarkan pengalaman mengajar sebagai “rollercoaster”, dengan momen kebahagiaan saat siswa berhasil belajar, tetapi juga tekanan saat menghadapi siswa yang sulit atau tuntutan pekerjaan yang berat.
Kepercayaan diri atau self-efficacy terbukti memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif. Guru yang memiliki keyakinan tinggi terhadap kemampuan mereka cenderung lebih efektif dalam mengelola kelas, membangun hubungan dengan siswa dan orang tua, serta meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran.
Namun, penelitian ini juga mengungkap bahwa burnout masih menjadi masalah serius. Sumber utama kelelahan kerja berasal dari beban tugas yang tinggi, seperti ujian, laporan administratif, serta kegiatan tambahan di luar kelas. Banyak guru mengalami kelelahan emosional dan mental akibat tekanan tersebut.
Meski demikian, para guru menunjukkan berbagai strategi untuk mengatasi burnout. Mereka menjaga keseimbangan hidup dengan berolahraga, cukup istirahat, serta mencari dukungan dari rekan kerja dan lingkungan sekolah. Pendekatan ini terbukti membantu mereka tetap fokus dan mempertahankan motivasi dalam bekerja.
Penelitian ini juga menyoroti bahwa komitmen kerja guru tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi kerja, tetapi juga oleh faktor internal seperti passion terhadap pendidikan dan hubungan emosional dengan siswa. Banyak guru menganggap profesi mereka sebagai panggilan hidup, bukan sekadar pekerjaan.
Di sisi lain, tugas administratif yang berlebihan menjadi tantangan besar. Banyak guru merasa bahwa pekerjaan administratif mengalihkan fokus mereka dari kegiatan utama mengajar, bahkan mengurangi rasa percaya diri mereka sebagai pendidik.
Edward C. Jimenez dari La Consolacion University Philippines menekankan bahwa self-efficacy berperan sebagai “pelindung psikologis” bagi guru. Menurutnya, guru yang percaya diri lebih mampu mengelola stres dan mempertahankan komitmen kerja meskipun menghadapi tekanan tinggi.
Temuan penelitian ini memiliki implikasi luas, terutama bagi pembuat kebijakan pendidikan. Program peningkatan kesejahteraan guru, pelatihan profesional, serta pengurangan beban administratif dinilai penting untuk menjaga kualitas pendidikan. Selain itu, dukungan sosial dan lingkungan kerja yang sehat juga menjadi faktor kunci dalam mencegah burnout.
Bagi dunia pendidikan, penelitian ini memberikan pesan kuat bahwa keberhasilan sistem pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum, tetapi juga pada kesejahteraan dan kondisi psikologis guru.
0 Komentar