Gestur Mencuk Busana Seksi Memikat: Semiotika Ronggeng Karawang

Illustration by Ai


Gerak Mencuk Ronggeng Karawang Diubah Jadi Fashion Modern Berbantuan Kecerdasan Buatan

Gerakan mencuk dalam tari Ronggeng Karawang yang selama ini dikenal sebagai simbol keluwesan, keberanian, dan daya tarik perempuan Sunda kini berhasil diterjemahkan menjadi desain busana kontemporer berbasis budaya lokal. Inovasi ini dilakukan oleh Retno Andri Pramudyarini, bersama I Gede Mugi Raharja, Nyoman Dewi Pebryani, dan Tjok Istri Ratna C.S, akademisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, dalam riset yang dipublikasikan pada 2026. Penelitian ini menjadi penting karena menawarkan model baru bagaimana warisan budaya tak benda Indonesia dapat diolah menjadi produk fashion modern yang relevan secara global, sekaligus memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk mempercepat proses desain.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA), Volume 6 Nomor 4, April 2026, dengan judul Mencuk Gesture to Sexy Alluring Fashion: Semiotics of Ronggeng Karawang. Studi ini menunjukkan bahwa gerak tari tradisional tidak hanya bisa dipertahankan sebagai seni pertunjukan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi bahasa visual baru dalam industri mode.

Dari Gerak Tari Menjadi Bahasa Fashion

Tari Ronggeng Karawang merupakan salah satu ekspresi budaya khas Jawa Barat yang lekat dengan unsur spontanitas, interaksi sosial, energi tubuh, dan ekspresi feminin. Salah satu gerak khasnya adalah mencuk, yaitu gerakan tubuh dinamis dengan posisi tubuh condong, langkah cepat, tangan tegas, dan ritme patah yang terinspirasi dari pencak silat.

Selama ini, penelitian tentang Ronggeng lebih banyak berfokus pada pelestarian tari atau kostum pertunjukan tradisional. Namun Retno Andri Pramudyarini dan tim melihat potensi lain: gerakan tari itu sendiri bisa dibaca sebagai simbol visual, lalu diterjemahkan menjadi desain busana modern.

“Gerak bukan hanya ekspresi tubuh, tetapi juga simbol budaya yang menyimpan makna sosial, estetika, dan identitas,” tulis tim peneliti dari ISI Bali dalam publikasinya.

Meneliti Langsung di Karawang

Untuk memahami makna gerakan mencuk secara mendalam, tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Research and Development.

Pengumpulan data dilakukan melalui:

  • Observasi langsung pertunjukan Ronggeng Karawang
  • Dokumentasi visual gerakan penari
  • Wawancara mendalam dengan seniman dan tokoh budaya
  • Studi arsip, foto, buku, dan literatur tari tradisional

Salah satu narasumber utama adalah Haji Wahab, tokoh budaya dari Desa Tempuran, Kabupaten Karawang, yang menjelaskan sejarah dan filosofi gerak mencuk dalam tradisi ronggeng.

Setelah data budaya terkumpul, peneliti menganalisis gerakan menggunakan teori semiotika Roland Barthes, yang membaca makna simbol melalui tiga lapisan:

  • Makna literal
  • Makna budaya
  • Makna mitologis

Dari proses ini, peneliti menemukan bahwa gerak mencuk menyimpan tiga filosofi utama.

Tiga Makna Filosofis Gerak Mencuk

1. Kekuatan (Power)

Gerakan mencuk menunjukkan energi tubuh, keberanian, penguasaan ruang, dan sikap tegas.

Makna ini diterjemahkan menjadi elemen desain seperti:

  • Siluet H-Line
  • Potongan diagonal tegas
  • Warna merah
  • Tekstur macramé
  • Material jacquard dan taffeta

Elemen tersebut dipilih untuk menampilkan karakter kuat dan terstruktur.

2. Keindahan (Beauty)

Gerak mencuk juga menghadirkan keluwesan, sensualitas, dan transisi tubuh yang lembut.

Makna ini diwujudkan melalui:

  • Siluet fit body
  • Warna merah dan hitam
  • Motif bunga mawar
  • Material renda, organza, dan voal

Kombinasi ini memberi kesan elegan sekaligus memancarkan daya tarik panggung.

3. Kesuburan (Fertility)

Gerakan pinggul dan ritme tubuh mencerminkan energi kehidupan, kreativitas, dan hubungan perempuan dengan alam.

Makna tersebut diterjemahkan menjadi:

  • Siluet fit and flare
  • Warna natural dan netral
  • Motif abstrak ritmis
  • Detail draperi berlapis
  • Material satin dan tulle

Menurut peneliti, elemen ini menggambarkan perempuan Sunda sebagai sosok yang hidup, spontan, dan penuh vitalitas.

AI Membantu Mencoba Busana Sebelum Diproduksi

Salah satu aspek paling menarik dari penelitian ini adalah penggunaan teknologi AI Virtual Try-On (VTON).

Alih-alih langsung membuat prototipe fisik, tim peneliti terlebih dahulu menguji desain menggunakan sistem kecerdasan buatan seperti:

  • VITON-HD
  • LaDI-VTON
  • TryOnDiffusion

Teknologi ini memungkinkan gambar desain busana dipadukan secara digital dengan model manusia sehingga peneliti bisa melihat:

  • Kesesuaian bentuk tubuh
  • Jatuhnya kain
  • Ritme lipatan
  • Proporsi siluet
  • Stabilitas tekstur

Dengan pendekatan ini, proses eksperimen desain menjadi jauh lebih cepat tanpa menghilangkan sensitivitas budaya.

Retno Andri Pramudyarini menyebut teknologi AI bukan pengganti proses artistik, melainkan alat bantu untuk mempercepat iterasi desain.

Fashion “Sexy Alluring” Didefinisikan Ulang

Dalam konteks global, istilah sexy sering diasosiasikan dengan eksploitasi visual. Namun penelitian ini menawarkan definisi berbeda.

Tim ISI Bali mendefinisikan “sexy alluring” sebagai daya tarik panggung yang muncul dari:

  • Keluwesan gerak kain
  • Integritas bentuk busana
  • Harmoni antara tubuh dan siluet
  • Keanggunan visual, bukan eksploitasi tubuh

Pendekatan ini dirancang agar tetap sesuai dengan nilai budaya Sunda dan dapat diterima masyarakat luas.

Peluang Baru bagi Industri Kreatif Indonesia

Temuan ini membuka peluang baru bagi pengembangan industri mode berbasis budaya lokal.

Beberapa implikasi praktis dari penelitian ini antara lain:

Bagi desainer fashion

Gerak tari tradisional dapat menjadi sumber inspirasi desain yang autentik dan memiliki nilai cerita.

Bagi perguruan tinggi seni

Metode ini dapat menjadi model pembelajaran desain berbasis riset budaya dan teknologi.

Bagi industri kreatif

Produk fashion berbasis warisan budaya berpotensi masuk pasar global dengan identitas khas Indonesia.

Bagi pelestarian budaya

Warisan budaya tak benda tidak hanya disimpan sebagai arsip, tetapi dapat hidup dalam produk ekonomi kreatif.

Tim peneliti bahkan menyebut model ini dapat diterapkan pada tari tradisional lain seperti Legong Bali, Bedhaya Jawa, hingga Saman Aceh.

Profil Penulis

Retno Andri Pramudyarini
I Gede Mugi Raharja
Nyoman Dewi Pebryani
Tjok Istri Ratna C.S

Sumber Penelitian

Pramudyarini, R.A., Raharja, I.G.M., Pebryani, N.D., & Ratna, T.I. (2026).
Mencuk Gesture to Sexy Alluring Fashion: Semiotics of Ronggeng Karawang.
Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA), 
Volume 6 Nomor 4, April 2026, halaman 435–452.
DOI: 10.55927/mudima.v6i4.38

Posting Komentar

0 Komentar