![]() |
| Illustration by Ai |
Struktur Modal Jadi Penentu Nilai Emiten Bahan Baku, Green Accounting Belum Menggerakkan Pasar
Nilai perusahaan di sektor bahan baku Indonesia ternyata masih lebih banyak ditentukan oleh keputusan pendanaan dibanding isu keberlanjutan. Temuan ini muncul dalam riset terbaru yang dilakukan Wilda Sahrani Pasaribu, Wiralestari, dan Eko Prasetyo dari Universitas Jambi pada 2025–2026. Penelitian tersebut menganalisis perusahaan sektor basic materials yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sepanjang periode 2022–2024 dan menemukan bahwa struktur modal berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, sementara penerapan green accounting dan profitabilitas belum memberi dampak langsung yang berarti terhadap persepsi pasar. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa investor di pasar modal Indonesia masih menempatkan faktor risiko dan strategi pembiayaan sebagai indikator utama dalam menilai perusahaan.
Nilai Emiten Bahan Baku Naik-Turun Tajam
Peneliti mencatat bahwa nilai perusahaan sektor bahan baku mengalami fluktuasi cukup besar dalam beberapa tahun terakhir. Rasio Price to Book Value (PBV) sektor ini tercatat:
- 2021: 1,65
- 2022: 1,08
- 2023: 0,98
- 2024: 2,57
Perubahan tajam tersebut menunjukkan bahwa persepsi investor terhadap sektor bahan baku sangat dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal maupun eksternal.
Menurut Wilda Sahrani Pasaribu dan tim, kondisi ini memunculkan pertanyaan penting: apakah praktik akuntansi hijau, struktur pendanaan, dan kemampuan menghasilkan laba benar-benar memengaruhi nilai perusahaan di mata investor?
Meneliti 35 Emiten Selama Tiga Tahun
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tim peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis data sekunder dari laporan keuangan, laporan tahunan, dan laporan keberlanjutan perusahaan.
Objek penelitian adalah perusahaan sektor basic materials yang tercatat di BEI selama periode 2022–2024.
Dari total 94 perusahaan, hanya 35 perusahaan yang memenuhi kriteria penelitian, sehingga menghasilkan 105 observasi selama tiga tahun pengamatan.
Peneliti mengukur:
- Nilai perusahaan menggunakan PBV (Price to Book Value)
- Green accounting menggunakan skor PROPER dari Kementerian Lingkungan Hidup
- Struktur modal menggunakan LTDER (Long-Term Debt to Equity Ratio)
- Profitabilitas menggunakan ROA (Return on Assets)
- Ukuran perusahaan dihitung melalui logaritma total aset
Analisis dilakukan dengan panel data regression dan Moderated Regression Analysis (MRA).
Hasil Utama: Investor Lebih Percaya Strategi Pendanaan
Hasil analisis menunjukkan hanya struktur modal yang terbukti berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
Ringkasan temuan penelitian:
1. Green Accounting Tidak Berpengaruh Signifikan
Variabel green accounting memiliki nilai probabilitas 0,3091, lebih tinggi dari batas signifikansi 0,05.
Artinya, praktik pelaporan lingkungan belum mampu meningkatkan valuasi perusahaan secara langsung di pasar modal Indonesia.
Temuan ini menunjukkan bahwa investor belum sepenuhnya memasukkan informasi lingkungan sebagai dasar utama keputusan investasi.
2. Struktur Modal Berpengaruh Signifikan
Variabel struktur modal memiliki probabilitas 0,0016, jauh di bawah batas 0,05.
Ini berarti komposisi utang dan ekuitas benar-benar memengaruhi nilai perusahaan. Koefisien positif sebesar 0,780855 menunjukkan bahwa strategi pembiayaan yang tepat dapat meningkatkan persepsi investor terhadap perusahaan.
3. Profitabilitas Tidak Berpengaruh Langsung
Profitabilitas yang diukur dengan ROA juga tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
Menurut peneliti, volatilitas harga komoditas global membuat laba perusahaan bahan baku dianggap kurang stabil sebagai indikator prospek jangka panjang.
Ukuran Perusahaan Ternyata Punya Peran Selektif
Penelitian ini juga menguji apakah ukuran perusahaan dapat memperkuat atau memperlemah hubungan antarvariabel.
Hasilnya cukup menarik.
Tidak Memoderasi Green Accounting
Ukuran perusahaan tidak mampu memperkuat pengaruh green accounting terhadap nilai perusahaan.
Nilai probabilitas interaksi tercatat 0,8627.
Artinya, perusahaan besar sekalipun belum tentu mendapatkan penghargaan pasar hanya karena menjalankan pelaporan lingkungan.
Tidak Memoderasi Struktur Modal
Ukuran perusahaan juga tidak mengubah pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan.
Nilai probabilitas interaksi sebesar 0,4858 menunjukkan bahwa investor menilai kebijakan pendanaan relatif sama, baik pada perusahaan besar maupun kecil.
Memoderasi Profitabilitas
Di sisi lain, ukuran perusahaan terbukti memoderasi hubungan profitabilitas dengan nilai perusahaan.
Nilai probabilitas 0,0412 menunjukkan hubungan signifikan. Koefisien negatif mengindikasikan bahwa pada perusahaan besar, kenaikan laba tidak selalu direspons pasar secara sekuat pada perusahaan yang lebih kecil.
Dengan kata lain, bagi perusahaan kecil, laba masih menjadi sinyal kuat bagi investor. Namun pada perusahaan besar, reputasi, aset, dan stabilitas jangka panjang cenderung lebih dominan.
Mengapa Green Accounting Belum Dihargai Pasar?
Wilda Sahrani Pasaribu dan tim menjelaskan bahwa secara teori, green accounting seharusnya menjadi sinyal positif bagi investor.
Namun secara empiris, pasar Indonesia tampaknya masih menganggap informasi lingkungan sebagai informasi tambahan, bukan indikator utama yang berdampak langsung pada arus kas atau potensi keuntungan jangka pendek.
“Pasar belum sepenuhnya mengintegrasikan informasi lingkungan ke dalam valuasi perusahaan,” tulis tim peneliti dari Universitas Jambi dalam pembahasannya.
Temuan ini mengindikasikan bahwa transisi menuju investasi berbasis keberlanjutan di Indonesia masih dalam tahap perkembangan.
Implikasi bagi Investor, Emiten, dan Regulator
Hasil penelitian ini membawa sejumlah implikasi penting.
Bagi investor:
Struktur pendanaan perusahaan masih menjadi indikator yang paling konsisten dalam membaca nilai emiten sektor bahan baku.
Bagi perusahaan:
Program keberlanjutan dan green accounting tetap penting untuk legitimasi sosial dan kepatuhan, tetapi belum cukup untuk menaikkan valuasi pasar tanpa kinerja finansial yang solid.
Bagi regulator:
Perlu dorongan lebih kuat agar informasi lingkungan memiliki bobot lebih besar dalam pengambilan keputusan investasi, termasuk standardisasi pelaporan ESG yang lebih terintegrasi.
Profil Penulis
Wilda Sahrani Pasaribu
Universitas Jambi
Wiralestari
Universitas Jambi
Eko Prasetyo
Universitas Jambi

0 Komentar