Etnotheologi Tarian Kosu: Merekonstruksi Makna Syukur Amarasi dalam Kerangka Pendidikan Agama Kristen Multikultural

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Kupang - Merajut Tradisi dan Iman: Menemukan Makna Teologis di Balik Keindahan Tari Kosu Masyarakat Amarasi. Temuan ini diungkapkan dalam riset Febrina Norliantyn Atty dari Universitas Kristen Indonesia dalam artikel agama yang dipublikasikan pada Indonesian Journal of Christian Education and Theology (IJCET) edisi Vol. 5 No. 2 Tahun 2026 menyoroti bahwa sepanjang tahun 2023 untuk menggali kearifan lokal yang terkandung dalam Tari Kosu, sebuah tarian tradisional suku Amarasi di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Temuan ini diungkapkan dalam riset Febrina Norliantyn Atty dari Universitas Kristen Indonesia menyoroti bahwa Langkah ini menjadi sangat krusial karena selama ini kekayaan teologi lokal dalam seni budaya Nusantara belum dieksplorasi secara optimal untuk mendukung sistem pendidikan dan kerukunan multikultural

Menyatukan Berkat Melalui Gerakan Ritmik
Bagi masyarakat umum, tarian adat sering kali hanya dipandang sebagai sarana hiburan atau tontonan semata. Namun, Tari Kosu yang hidup dalam denyut nadi suku Amarasi memiliki fungsi liturgis-sosial yang jauh lebih tinggi. Tradisi ini secara khusus dipentaskan sebagai puncak dari rangkaian upacara pernikahan adat, tepatnya setelah prosesi hantaran mahar (belis) dan acara makan bersama selesai dilakukanSecara harfiah, kata "kosu" dalam bahasa Amarasi menggambarkan gerakan tubuh yang ritmik dan dinamis dengan diiringi oleh nyanyian komunal. Ketika alunan musik dari gong, gendang, dan vokal mulai menggema, suasana meriah langsung berubah menjadi sakral. Sepasang pengantin yang mengenakan busana adat lengkap akan duduk di kursi kehormatan yang terletak tepat di tengah-tengah arena. Posisi sentral ini menjadi simbol bahwa mereka siap menerima curahan doa dan dukungan dari seluruh komunitas yang hadirSatu demi satu, anggota keluarga, kerabat dekat, hingga para tamu undangan akan melangkah maju mendekati pelaminan. Mereka menari dengan langkah yang teratur mengikuti ketukan musik. Saat berada tepat di hadapan kedua mempelai, dengan penuh kelembutan dan rasa hormat, para penari akan merogoh saku mereka dan meletakkan sejumlah uang secara langsung di atas kepala pengantin pria dan pengantin wanita.

Metodologi: Mendengar Suara dari Dalam Komunitas
Untuk menangkap esensi sejati dari tradisi ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografis yang mendalam. Pendekatan ini dipilih agar peneliti bisa memahami makna dari sudut pandang orang dalam (emic) masyarakat Amarasi sendiri, bukan sekadar menjadi pengamat luar yang pasifProses pengumpulan data berlangsung intensif selama sembilan bulan, terhitung sejak Januari hingga September 2023. Peneliti terjun langsung ke tiga wilayah inti pemukiman suku Amarasi di Kupang, yaitu Kecamatan Amarasi, Kecamatan Amarasi Selatan, dan Kecamatan Amarasi Timur. Selama periode tersebut, peneliti mengamati langsung lima upacara pernikahan adat yang menyelenggarakan Tari KosuSelain melakukan pengamatan partisipatif, kekuatan riset ini bertumpu pada wawancara mendalam terhadap 22 orang informan kunci. Mereka terdiri dari para tetua adat (mnane), pemimpin dan penari Tari Kosu yang berpengalaman, pasangan pengantin yang pernah menjalani ritual ini, tamu undangan, pendeta dari Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), serta guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) setempat. Analisis juga diperkuat dengan membedah lirik lagu pengiring, catatan sejarah pernikahan Amarasi dalam literatur misionaris Belanda, hingga dokumen kebijakan inkulturasi gereja.

Empat Dimensi Spiritual Pembentuk Karakter
Melalui analisis etnoteologis, riset ini berhasil merrekonstruksi empat pilar teologis utama yang terkandung di dalam praktik Tari Kosu:
  • Kesukarelaan sebagai Teologi Kasih Karunia: Nilai paling mendasar dari Tari Kosu adalah ketiadaan paksaan. Tidak ada standar nominal minimum yang ditetapkan oleh keluarga maupun adat. Siapa pun, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan finansial, dapat memberikan kontribusi sesuai kemampuan dan tetap dihormati secara setara.
  • Ketulusan Hati: Nilai pemberian tidak diukur dari besar kecilnya angka, melainkan dari kemurnian niat sang pemberi. Tradisi Amarasi mengajarkan bahwa memberi dengan bersungut-sungut atau sekadar pamer tidak akan mendatangkan berkat.
  • Kehidupan Komunal: Tradisi ini menolak keras paham individualisme. Di wilayah Amarasi, tidak ada pasangan yang dibiarkan memulai bahtera rumah tangga sendirian. Seluruh jaringan keluarga besar, tetangga, hingga rekan kerja hadir untuk ikut memikul beban awal kehidupan baru mereka.
  • Berkat yang Nyata dan Holistik: Doa-doa yang dipanjatkan tidak berhenti sebagai konsep abstrak. Uang yang diletakkan di atas kepala pengantin nantinya dikumpulkan oleh pihak keluarga untuk dijadikan modal awal (seed money) bagi pasangan tersebut dalam membangun ekonomi rumah tangga baru.
Implementasi dalam Dunia Pendidikan dan Masyarakat
Hasil rekonstruksi makna budaya ini membawa dampak penting bagi dunia pendidikan, khususnya dalam pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Kristen (PAK) Multikultural. Penulis menawarkan tiga model integrasi praktis yang bisa diterapkan di sekolah-sekolah:
  • Tari Kosu sebagai Teks Pembelajaran: Guru dapat menyandingkan nilai-nilai kebaikan Tari Kosu dengan teks-teks kitab suci mengenai kemurahan hati agar siswa dapat melakukan analisis perbandingan yang kritis.
  • Metode Simulasi Pengalaman langsung: Siswa diajak mensimulasikan esensi Tari Kosu di kelas, misalnya dengan mengumpulkan barang atau bantuan sukarela secara tulus untuk membantu teman sekelas yang sedang mengalami kesulitan.
  • Gerbang Diskusi Teologi Kontekstual: Menjadikan Tari Kosu sebagai pemantik agar generasi muda mampu mengidentifikasi kearifan lokal lain di sekitar mereka yang searah dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Langkah integrasi ini disambut baik oleh para pendidik di lapangan. Berdasarkan penuturan salah satu guru PAK di Amarasi, metode pembelajaran yang berangkat dari realitas budaya yang sudah dikenal akrab oleh siswa terbukti jauh lebih efektif dan teologis daripada hanya menyodorkan materi hapalan yang terasa berjarak dari kehidupan sehari-hari merekaRiset ini merekomendasikan institusi pendidikan tinggi di NTT untuk mulai menyusun kurikulum berbasis kearifan lokal Timor secara sistematis. Selain itu, lembaga keagamaan seperti GMIT disarankan untuk memperbanyak ruang dialog dengan budayawan dan tetua adat demi menjaga keberlanjutan proses inkulturasi budaya yang harmonis.

Profil Peneliti
Febrina Norliantyn Atty adalah seorang akademisi dan peneliti yang berafiliasi dengan Universitas Kristen Indonesia. Ia memiliki fokus keahlian di bidang Pendidikan Agama Kristen (PAK) Multikultural dan Etnoteologi

Sumber Penelitian

Febrina Norliantyn Atty (2026). Ethnotheology of Kosu Dance: Reconstruction of the Meaning of Syukur Amarasi Within the Framework of Multicultural Christian Religious Education. Indonesian Journal of Christian Education and Theology (IJCET). Volume 5, No 2 (2026), Halaman 109-116
DOI: https://doi.org/10.55927/ijcet.v5i2.13
URL: https://journalijcet.my.id/index.php/ijcet

Posting Komentar

0 Komentar