Transformasi Digital di UNIMA Tingkatkan Literasi Ekonomi Digital Mahasiswa

Ilustrasi by AI

MANADO – Transformasi digital yang diterapkan di Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Manado (UNIMA) berhasil meningkatkan literasi ekonomi digital mahasiswa, meskipun masih menghadapi tantangan dalam tata kelola teknologi, kesiapan sumber daya manusia, dan keamanan siber. Temuan ini dilaporkan oleh tim peneliti yang terdiri dari Pontoh, Watung, Manongko, Wuisang, dan Lempas dalam penelitian yang dipublikasikan pada Mei 2026 di Journal of Educational Analytics (JEDA). Hasil penelitian ini penting karena menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital di perguruan tinggi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kualitas tata kelola, inovasi pembelajaran, dan kesiapan pengguna.

Perkembangan ekonomi digital mendorong perguruan tinggi untuk menyesuaikan sistem pembelajaran dengan kebutuhan dunia kerja dan masyarakat modern. Penguasaan teknologi digital, kemampuan analisis data, kolaborasi, serta literasi ekonomi digital menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan oleh lulusan perguruan tinggi. Karena itu, berbagai institusi pendidikan tinggi mulai mengintegrasikan teknologi digital ke dalam proses pembelajaran dan layanan akademik.

Penelitian ini mengkaji implementasi transformasi digital di Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Manado dengan menggunakan pendekatan Input–Process–Output (IPO). Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dokumentasi, serta analisis faktor internal dan eksternal untuk mengidentifikasi dampak, peluang, dan tantangan transformasi digital di lingkungan kampus.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi digital di UNIMA telah diterapkan melalui pemanfaatan Learning Management System (LMS) Amelia, pembelajaran hybrid, penguatan infrastruktur teknologi informasi, serta penyesuaian kurikulum yang memasukkan unsur ekonomi digital.

Beberapa temuan utama penelitian meliputi:

  • Universitas Negeri Manado berada pada posisi strategi agresif (Quadrant I) dalam pengembangan transformasi digital.
  • Komitmen pimpinan menjadi faktor pendukung utama keberhasilan transformasi digital.
  • Infrastruktur digital seperti LMS Amelia, jaringan internet kampus, dan laboratorium komputer mendukung proses pembelajaran yang lebih fleksibel.
  • Sekitar 70 persen implementasi transformasi digital masih berfokus pada digitalisasi administrasi dibanding inovasi pembelajaran yang lebih mendalam.
  • Literasi transaksi keuangan digital mahasiswa mencapai sekitar 83 persen.
  • Keterlibatan mahasiswa sebagai inovator bisnis digital masih relatif rendah, yaitu sekitar 42 persen.
  • Literasi keamanan siber mahasiswa hanya mencapai sekitar 58 persen, menunjukkan perlunya peningkatan pemahaman terkait risiko digital.

Penelitian juga menemukan bahwa belum adanya standar Enterprise Architecture (EA) menyebabkan sistem digital di berbagai unit kampus berkembang secara terpisah. Akibatnya, mahasiswa dan dosen harus beradaptasi dengan berbagai platform yang berbeda, sehingga menimbulkan kebingungan dan meningkatkan beban kognitif selama proses pembelajaran.

Selain itu, para mahasiswa mengapresiasi fleksibilitas pembelajaran digital yang memungkinkan akses materi kapan saja dan dari mana saja. Namun, sebagian mahasiswa juga mengalami digital fatigue atau kelelahan digital akibat penggunaan layar secara intensif, rutinitas pembelajaran daring yang berulang, serta penggunaan berbagai platform yang tidak terintegrasi.

Di sisi lain, para dosen menilai transformasi digital sebagai kebutuhan yang tidak dapat dihindari untuk menjaga relevansi pendidikan ekonomi di era digital. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi tidak selalu diikuti dengan pemahaman konseptual yang mendalam. Mahasiswa yang mahir menggunakan platform digital belum tentu memiliki kemampuan analisis ekonomi yang kuat.

Menurut tim peneliti dari Universitas Negeri Manado, transformasi digital harus bergerak melampaui sekadar digitalisasi administrasi menuju transformasi pedagogis yang lebih substantif. Teknologi perlu digunakan untuk mendorong pembelajaran yang lebih kritis, kolaboratif, dan berorientasi pada pemecahan masalah nyata.

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya penguatan literasi ekonomi digital. Meskipun mahasiswa cukup memahami transaksi digital, penggunaan fintech, dan e-commerce, kemampuan dalam kewirausahaan digital, mitigasi risiko keuangan, serta keamanan siber masih memerlukan perhatian khusus.

Temuan tersebut memiliki implikasi strategis bagi pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia. Perguruan tinggi perlu membangun sistem tata kelola teknologi yang terintegrasi, meningkatkan pelatihan kompetensi digital bagi dosen dan mahasiswa, serta memperluas kolaborasi dengan dunia industri agar lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja digital.

Bagi pembuat kebijakan pendidikan, penelitian ini menunjukkan bahwa investasi teknologi harus disertai pengembangan sumber daya manusia dan inovasi pembelajaran. Tanpa perubahan budaya organisasi dan peningkatan kompetensi pengguna, transformasi digital berisiko hanya menjadi modernisasi teknis tanpa menghasilkan peningkatan kualitas pendidikan yang signifikan.

Profil Penulis

  • Pontoh - Universitas Negeri Manado
  • Watung - Universitas Negeri Manado
  • Dr. Allen Ch. Manongko - Universitas Negeri Manado
  • Dr. Jerry R.H. Wuisang - Universitas Negeri Manado
  • Lempas - Universitas Negeri Manado

Sumber Penelitian

Pontoh, Watung, Manongko, A.C., Wuisang, J.R.H., & Lempas. (2026). Digital Transformation in Economics Education: Governance, Learning Innovation, and Digital Economic Literacy at Universitas Negeri Manado. Journal of Educational Analytics (JEDA), Vol. 5 No. 2, Mei 2026, hlm. 333–352.

DOI: https://doi.org/10.55927/ijbae.v5i3.20

URL: https://journalijbae.my.id/index.php/ijbae


Posting Komentar

0 Komentar