E-Module Berbasis Budaya Bali Tingkatkan Kemandirian dan Motivasi Belajar Siswa SMA di Denpasar


Pengembangan e-module Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) berbasis budaya lokal Bali terbukti meningkatkan kemandirian dan motivasi belajar siswa kelas X di SMA Katolik Santo Yoseph Denpasar. Temuan ini dilaporkan oleh Ni Luh Rani Damayanti, Sukadi, dan I Gede Astra Wesnawa dari Universitas Pendidikan Ganesha dalam penelitian tahun 2026 yang dipublikasikan di International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS). Hasil ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa integrasi teknologi dan budaya lokal dapat menjawab tantangan rendahnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran ekonomi.  Dalam beberapa tahun terakhir, sistem pendidikan di Indonesia menghadapi tantangan dalam membangun kemandirian belajar siswa. Pola pembelajaran yang masih berpusat pada guru serta penggunaan media konvensional membuat siswa cenderung pasif. Kondisi ini semakin terlihat pada masa pembelajaran daring, ketika banyak siswa bergantung pada guru atau orang tua dalam memahami materi.  Di SMA Katolik Santo Yoseph Denpasar, masalah serupa juga terjadi, khususnya pada mata pelajaran ekonomi kelas X. Hasil pretest menunjukkan sebagian besar siswa belum mencapai standar kompetensi minimum. Selain itu, observasi di kelas menunjukkan siswa kurang aktif, minim inisiatif, dan cenderung mengandalkan teman saat mengerjakan tugas. 
Solusi Digital Berbasis Budaya Lokal
Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti mengembangkan e-module IPS ekonomi berbasis budaya Bali. Modul digital ini dirancang interaktif dengan memadukan teks, gambar, video, dan latihan mandiri yang dapat diakses melalui perangkat digital. Yang membedakan e-module ini adalah integrasi nilai budaya lokal Bali seperti Tri Hita Karana dan Menyama Braya, sehingga materi ekonomi menjadi lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pendekatan ini membuat konsep yang sebelumnya abstrak menjadi lebih mudah dipahami. 
Metode Penelitian: Uji Validitas hingga Efektivitas
Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model 4D: define, design, develop, dan disseminate. Subjek penelitian melibatkan dua guru ekonomi dan 38 siswa kelas X.
Produk e-module diuji melalui:
·         Validasi ahli (materi, bahasa, media, budaya)
·         Uji kepraktisan oleh guru
·         Uji efektivitas terhadap siswa menggunakan analisis statistik
Data dikumpulkan melalui observasi dan kuesioner, lalu dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. 
Temuan Utama: Valid, Praktis, dan Efektif
Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-module yang dikembangkan memiliki kualitas sangat tinggi:
1. Validitas sangat tinggi
·         Materi: 0,96 (sangat valid)
·         Bahasa: 97,1
·         Media: 100,0
·         Budaya lokal Bali: 97,5
Ini menunjukkan bahwa konten, bahasa, dan integrasi budaya telah sesuai standar akademik dan relevan dengan konteks siswa.
2. Kepraktisan maksimal
·         Skor rata-rata: 100 (sangat praktis)
Guru menilai e-module mudah digunakan, sesuai waktu pembelajaran, dan efektif dalam penyampaian materi.
3. Efektivitas signifikan
·         Kemandirian belajar: kontribusi 75%
·         Motivasi belajar: kontribusi 65,5%
Uji statistik juga menunjukkan hubungan signifikan antara penggunaan e-module dengan peningkatan kemandirian dan motivasi belajar siswa secara simultan. 
Dampak Nyata bagi Pembelajaran
Temuan ini menegaskan bahwa penggunaan e-module berbasis budaya lokal memberikan dampak langsung pada kualitas pembelajaran. Siswa menjadi lebih:
* Mandiri dalam mengatur proses belajar
* Aktif dalam memahami materi
* Termotivasi untuk menyelesaikan tugas
* Terhubung dengan konteks budaya mereka sendiri
Menurut Ni Luh Rani Damayanti dari Universitas Pendidikan Ganesha, pendekatan kontekstual berbasis budaya lokal membuat pembelajaran lebih bermakna dan relevan. Integrasi nilai budaya tidak hanya membantu pemahaman konsep, tetapi juga memperkuat karakter siswa.
Implikasi bagi Dunia Pendidikan
Penelitian ini memberikan sejumlah implikasi penting:
* Bagi guru: e-module dapat menjadi alternatif bahan ajar inovatif yang lebih menarik dan interaktif
* Bagi sekolah: integrasi budaya lokal dapat meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis konteks
* Bagi pembuat kebijakan: pengembangan bahan ajar digital berbasis kearifan lokal perlu diperluas
Model ini juga sejalan dengan Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran mandiri, kontekstual, dan berpusat pada siswa.
Profil Penulis

* Ni Luh Rani Damayanti – Peneliti pendidikan IPS dan pengembangan media pembelajaran, Universitas Pendidikan Ganesha

* Dr. Sukadi – Akademisi dan peneliti di bidang pendidikan sosial dan kurikulum

* Dr. I Gede Astra Wesnawa – Dosen dan peneliti pendidikan geografi dan kearifan lokal Bali

Sumber Penelitian

Damayanti, N. L. R., Sukadi, & Wesnawa, I. G. A. (2026). Development of Integrated Social Studies E-Modules with Balinese Local Cultural Context to Improve Learning Independence and Student Motivation in Senior High Schools. International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS), Vol. 4 No. 3, 329–342.

DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i3.183

https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijatss


Posting Komentar

0 Komentar