Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Jakarta - Desain Rusun Inklusif di Jakarta Timur Jadi Solusi Hunian Padat dan Ramah Semua Kalangan. Penelitian yang dilakukan oleh Lucas Ferdinatal Taroofao bersama Ulinata dan Yophie Septiady dari Universitas Kristen Indonesia dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 4 Tahun 2026 menyoroti bahwa solusi hunian yang tidak hanya efisien secara ruang, tetapi juga ramah bagi semua kalangan, termasuk lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas.
Penelitian yang dilakukan oleh Lucas Ferdinatal Taroofao bersama Ulinata dan Yophie Septiady dari Universitas Kristen Indonesia menyoroti bahwa pembangunan rusun tidak cukup hanya berfokus pada efisiensi lahan. Desain harus mampu mengakomodasi keberagaman penghuni agar tercipta lingkungan yang adil dan inklusif.
Pendekatan Desain yang Menempatkan Manusia sebagai Pusat
Penelitian ini mengambil lokasi di Kelurahan Pondok Bambu, Jakarta Timur, dengan luas lahan sekitar 2 hektare. Kawasan ini dipilih karena memiliki kepadatan tinggi, akses transportasi yang baik, serta keberagaman sosial dan ekonomi yang tinggi. Tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, survei lokasi, studi preseden, serta analisis tapak dan regulasi. Mereka juga mempertimbangkan aturan tata ruang seperti Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB), dan Koefisien Dasar Hijau (KDH) untuk memastikan desain tetap sesuai kebijakan.
Desain inklusif yang diterapkan berfokus pada empat prinsip utama:
Penelitian yang dilakukan oleh Lucas Ferdinatal Taroofao bersama Ulinata dan Yophie Septiady dari Universitas Kristen Indonesia menyoroti bahwa pembangunan rusun tidak cukup hanya berfokus pada efisiensi lahan. Desain harus mampu mengakomodasi keberagaman penghuni agar tercipta lingkungan yang adil dan inklusif.
Pendekatan Desain yang Menempatkan Manusia sebagai Pusat
Penelitian ini mengambil lokasi di Kelurahan Pondok Bambu, Jakarta Timur, dengan luas lahan sekitar 2 hektare. Kawasan ini dipilih karena memiliki kepadatan tinggi, akses transportasi yang baik, serta keberagaman sosial dan ekonomi yang tinggi. Tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, survei lokasi, studi preseden, serta analisis tapak dan regulasi. Mereka juga mempertimbangkan aturan tata ruang seperti Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB), dan Koefisien Dasar Hijau (KDH) untuk memastikan desain tetap sesuai kebijakan.
Desain inklusif yang diterapkan berfokus pada empat prinsip utama:
- Aksesibilitas universal untuk semua pengguna.
- Fleksibilitas penggunaan ruang.
- Desain yang sederhana dan mudah dipahami.
- Toleransi terhadap kesalahan penggunaan.
Pendekatan ini bertujuan menghilangkan hambatan fisik maupun sosial dalam hunian.
Hasil Desain: Ramah Disabilitas hingga Efisien Energi
Hasil Desain: Ramah Disabilitas hingga Efisien Energi
Hasil perancangan menunjukkan bahwa prinsip inklusivitas dapat diterapkan secara menyeluruh dalam hunian vertikal. Beberapa fitur utama yang dihasilkan antara lain:
Aksesibilitas Tanpa Batas
- Tersedia ramp dan lift di seluruh area utama.
- Lebar koridor minimal 110 cm untuk mobilitas dua arah.
- Unit khusus disabilitas ditempatkan di lantai dasar.
- Ruang dirancang dengan radius putar kursi roda minimal 150 cm.
Pendekatan ini memastikan tidak ada pemisahan antara penghuni disabilitas dan non-disabilitas.
Zonasi Berdasarkan Mobilitas
Hunian dibagi secara vertikal berdasarkan tingkat mobilitas penghuni:
- Lantai bawah untuk lansia dan penyandang disabilitas.
- Lantai atas untuk penghuni dengan mobilitas tinggi.
Strategi ini mempermudah evakuasi dan mengurangi ketergantungan pada lift tanpa menciptakan segregasi sosial.
Integrasi Ruang Sosial
- Ruang terbuka hijau minimal 20%.
- Area bermain anak.
- Ruang komunitas setiap tiga lantai.
- Area usaha produktif.
Fasilitas ini dirancang untuk memperkuat interaksi sosial antar penghuni.
Desain Ramah Lingkungan
- Ventilasi silang alami untuk kenyamanan termal.
- Optimalisasi pencahayaan alami.
- Sistem pengelolaan air hujan.
- Pengolahan sampah terintegrasi.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan, tetapi juga mengurangi konsumsi energi.
Dampak Nyata bagi Kota dan Masyarakat
Konsep rusun inklusif ini menawarkan dampak luas, terutama dalam konteks perkotaan padat seperti Jakarta. Dengan desain yang adaptif dan ramah semua kalangan, hunian tidak lagi menjadi sumber ketimpangan sosial. Penulis menegaskan bahwa pendekatan inklusif bukan sekadar memenuhi standar teknis, tetapi merupakan cara membangun lingkungan yang setara. Hunian yang dirancang dengan prinsip ini mampu meningkatkan kualitas hidup penghuni, baik dari sisi kenyamanan, aksesibilitas, maupun interaksi sosial. Selain itu, model ini berpotensi menjadi acuan kebijakan pemerintah dalam pengembangan perumahan vertikal. Peneliti juga merekomendasikan agar desain inklusif dijadikan bagian dari regulasi wajib, bukan sekadar tambahan. Konsep ini juga relevan untuk direplikasi di kota-kota lain dengan karakteristik serupa, terutama yang menghadapi keterbatasan lahan dan kepadatan tinggi.
Profil Penulis
Lucas Ferdinatal Taroofao adalah akademisi dan peneliti di bidang arsitektur dari Universitas Kristen Indonesia. Ia memiliki fokus pada perancangan hunian berkelanjutan dan inklusif.
Ulinata dan Yophie Septiady, yang sama-sama berafiliasi dengan Universitas Kristen Indonesia dan memiliki minat pada desain arsitektur urban dan perumahan.
Sumber Penelitian
Taroofao, Lucas Ferdinatal; Ulinata; Septiady, Yophie. 2026. Apartment Design with an Inclusive Design Approach in East Jakarta. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS). (Vol. 5, No. 4), hlm. 979–988.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i4.28
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas
Dampak Nyata bagi Kota dan Masyarakat
Konsep rusun inklusif ini menawarkan dampak luas, terutama dalam konteks perkotaan padat seperti Jakarta. Dengan desain yang adaptif dan ramah semua kalangan, hunian tidak lagi menjadi sumber ketimpangan sosial. Penulis menegaskan bahwa pendekatan inklusif bukan sekadar memenuhi standar teknis, tetapi merupakan cara membangun lingkungan yang setara. Hunian yang dirancang dengan prinsip ini mampu meningkatkan kualitas hidup penghuni, baik dari sisi kenyamanan, aksesibilitas, maupun interaksi sosial. Selain itu, model ini berpotensi menjadi acuan kebijakan pemerintah dalam pengembangan perumahan vertikal. Peneliti juga merekomendasikan agar desain inklusif dijadikan bagian dari regulasi wajib, bukan sekadar tambahan. Konsep ini juga relevan untuk direplikasi di kota-kota lain dengan karakteristik serupa, terutama yang menghadapi keterbatasan lahan dan kepadatan tinggi.
Profil Penulis
Lucas Ferdinatal Taroofao adalah akademisi dan peneliti di bidang arsitektur dari Universitas Kristen Indonesia. Ia memiliki fokus pada perancangan hunian berkelanjutan dan inklusif.
Ulinata dan Yophie Septiady, yang sama-sama berafiliasi dengan Universitas Kristen Indonesia dan memiliki minat pada desain arsitektur urban dan perumahan.
Sumber Penelitian
Taroofao, Lucas Ferdinatal; Ulinata; Septiady, Yophie. 2026. Apartment Design with an Inclusive Design Approach in East Jakarta. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS). (Vol. 5, No. 4), hlm. 979–988.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i4.28
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

0 Komentar