Penelitian tersebut menjadi penting karena komitmen organisasi merupakan salah satu faktor utama yang menentukan kualitas pelayanan publik, loyalitas pegawai, serta keberhasilan organisasi pemerintah dalam mencapai target kinerjanya. Di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin tinggi, memahami faktor-faktor yang memengaruhi komitmen ASN menjadi kebutuhan strategis bagi instansi pemerintah.
BPS Kota Pontianak dipilih sebagai lokasi penelitian karena lembaga ini memiliki peran penting dalam menyediakan data statistik resmi yang digunakan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat luas. Dalam beberapa tahun terakhir, BPS Pontianak juga menghadapi dinamika sumber daya manusia yang terlihat dari fluktuasi tingkat absensi pegawai dan tantangan peningkatan kualitas layanan.
Peneliti menemukan bahwa budaya organisasi dan self-efficacy atau keyakinan individu terhadap kemampuannya sendiri memiliki hubungan yang kuat dengan tingkat komitmen pegawai terhadap organisasi.
Mengapa Komitmen Organisasi Penting?
Komitmen organisasi menggambarkan sejauh mana pegawai merasa terikat secara emosional, loyal, dan memiliki keinginan untuk tetap menjadi bagian dari organisasi tempat mereka bekerja. Pegawai dengan komitmen tinggi biasanya lebih disiplin, produktif, dan bersedia memberikan kontribusi terbaik bagi institusinya.
Dalam lingkungan pemerintahan, komitmen organisasi menjadi faktor yang berpengaruh terhadap kualitas pelayanan publik. Pegawai yang memiliki komitmen tinggi cenderung lebih bertanggung jawab dalam menjalankan tugas dan lebih siap menghadapi perubahan kebijakan maupun tantangan pekerjaan.
Penelitian ini berangkat dari kondisi bahwa budaya organisasi dan tingkat kepercayaan diri pegawai dapat berbeda-beda, sehingga berpotensi memengaruhi tingkat komitmen mereka terhadap instansi.
Meneliti Seluruh ASN BPS Pontianak
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan seluruh ASN BPS Kota Pontianak yang berjumlah 34 orang, tidak termasuk kepala kantor. Dengan kata lain, seluruh populasi dijadikan responden sehingga hasil penelitian mencerminkan kondisi organisasi secara menyeluruh.
Data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda untuk mengukur pengaruh budaya organisasi dan self-efficacy terhadap komitmen organisasi.
Budaya organisasi yang diteliti mencakup nilai-nilai bersama, norma kerja, aturan organisasi, serta iklim kerja yang berkembang di lingkungan BPS. Sementara itu, self-efficacy mengukur tingkat keyakinan pegawai dalam menyelesaikan tugas dan menghadapi tantangan pekerjaan.
Hasil Penelitian: Pengaruhnya Sangat Kuat
Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara budaya organisasi dan self-efficacy dengan komitmen organisasi ASN.
Beberapa temuan utama penelitian antara lain:
- Nilai koefisien korelasi (R) mencapai 0,784, yang menunjukkan hubungan kuat antara variabel penelitian.
- Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,614, artinya 61,4 persen variasi komitmen organisasi dapat dijelaskan oleh budaya organisasi dan self-efficacy.
- Sisanya, 38,6 persen, dipengaruhi faktor lain di luar model penelitian.
- Budaya organisasi memiliki koefisien pengaruh sebesar 0,558 terhadap komitmen organisasi.
- Self-efficacy memiliki koefisien pengaruh sebesar 0,378 terhadap komitmen organisasi.
Hasil uji statistik juga menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut berpengaruh signifikan, baik secara parsial maupun simultan.
Dengan kata lain, semakin kuat budaya organisasi yang dirasakan pegawai dan semakin tinggi kepercayaan diri mereka dalam bekerja, semakin tinggi pula tingkat komitmen mereka terhadap organisasi.
Budaya Organisasi Menjadi Faktor Dominan
Penelitian menemukan bahwa budaya organisasi memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan self-efficacy.
Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai organisasi yang diterapkan secara konsisten mampu membangun rasa memiliki dan loyalitas pegawai terhadap instansi. Di lingkungan BPS Pontianak, budaya organisasi diwujudkan melalui penerapan nilai dasar ASN BerAKHLAK yang menekankan orientasi pelayanan, akuntabilitas, kompetensi, harmonisasi, loyalitas, adaptivitas, dan kolaborasi.
Menurut peneliti, budaya organisasi yang sehat dapat menjadi pedoman perilaku pegawai sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang mendukung keterikatan mereka terhadap organisasi.
Kepercayaan Diri Pegawai Juga Berperan Besar
Selain budaya organisasi, keyakinan pegawai terhadap kemampuan dirinya sendiri juga terbukti meningkatkan komitmen organisasi.
Pegawai yang merasa mampu menyelesaikan tugas dan menghadapi tantangan kerja cenderung memiliki motivasi yang lebih tinggi untuk bertahan dan berkembang dalam organisasi.
Temuan ini menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi, pelatihan, serta peningkatan kapasitas pegawai tidak hanya berdampak pada kinerja, tetapi juga memperkuat loyalitas dan keterikatan mereka terhadap instansi.
Eru Ahmadia dan Maulidya Raissa Insyira menjelaskan bahwa perubahan pada budaya organisasi maupun peningkatan self-efficacy berjalan seiring dengan perubahan tingkat komitmen organisasi pegawai. Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya pengelolaan aspek organisasi dan psikologis secara bersamaan dalam manajemen sumber daya manusia sektor publik.
Dampak bagi Instansi Pemerintah
Hasil penelitian ini memberikan sejumlah implikasi praktis bagi lembaga pemerintah.
Pertama, penguatan budaya organisasi dapat menjadi strategi untuk meningkatkan loyalitas ASN tanpa harus bergantung pada insentif finansial semata.
Kedua, program peningkatan kompetensi dan pengembangan kapasitas pegawai dapat diarahkan untuk membangun rasa percaya diri dalam menjalankan tugas.
Ketiga, pengelolaan sumber daya manusia yang memperhatikan faktor budaya dan psikologis berpotensi meningkatkan kualitas pelayanan publik serta efektivitas organisasi.
Peneliti juga menyarankan agar penelitian berikutnya mengkaji faktor lain yang mungkin memengaruhi komitmen organisasi, seperti kepuasan kerja, motivasi kerja, gaya kepemimpinan, dan lingkungan kerja.
Profil Penulis
Maulidya Raissa Insyira merupakan peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Pontianak yang memiliki minat pada bidang manajemen sumber daya manusia dan perilaku organisasi.
Eru Ahmadia adalah akademisi dan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Pontianak. Bidang keahliannya meliputi manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, dan manajemen publik.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: The Influence of Organizational Culture and Self-Efficacy on Organizational Commitment of Civil Servants at the Central Bureau of Statistics of Pontianak
Penulis: Maulidya Raissa Insyira dan Eru Ahmadia
Jurnal: Asian Journal of Applied Business and Management (AJABM)
Volume dan Nomor: Vol. 5 No. 2
Tahun Publikasi: 2026
Halaman: 669–684
0 Komentar