Asosiasi Status Metabolik dan Kadar Hemoglobin dengan Gejala Tuberkulosis Presumtif di Kalangan Pekerja Migran Indonesia: Studi Potong Lintang


Ilustrasi by AI 
FORMOSA NEWS

Kolesterol Tinggi Berkaitan dengan Gejala Tuberkulosis pada Pekerja Migran Indonesia di Malaysia

Kadar kolesterol yang tinggi ternyata dapat menjadi indikator penting dalam mendeteksi risiko tuberkulosis (TB) pada pekerja migran Indonesia. Temuan ini berasal dari penelitian yang dipublikasikan tahun 2026 oleh Dr. Purnamawati Tjhin, Dr. Meiyanti, Dr. Eveline Margo dari Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, serta drg. Laurensia Lim dari Melati Hospital. Penelitian tersebut dimuat dalam International Journal of Integrative Sciences (IJIS) dan menyoroti hubungan antara kondisi metabolik tubuh dengan gejala TB pada pekerja migran Indonesia yang bekerja di Johor Bahru, Malaysia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja migran dengan kadar kolesterol total di atas 200 mg/dL memiliki risiko hampir empat kali lebih tinggi mengalami gejala yang mengarah pada tuberkulosis dibandingkan mereka yang memiliki kadar kolesterol normal. Temuan ini dinilai penting karena dapat membantu meningkatkan deteksi dini TB pada kelompok pekerja migran yang selama ini tergolong rentan terhadap penyakit menular.

Pekerja Migran Menghadapi Risiko TB Lebih Tinggi

Tuberkulosis masih menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 10 juta kasus baru TB terjadi secara global pada tahun 2022, dengan Asia Tenggara menjadi kawasan yang menyumbang hampir setengah dari seluruh kasus.

Bagi pekerja migran Indonesia di Malaysia, risiko tersebut menjadi lebih besar. Banyak pekerja migran tinggal di lingkungan padat, bekerja dalam kondisi yang berpotensi meningkatkan paparan penyakit, serta menghadapi berbagai hambatan untuk memperoleh layanan kesehatan. Faktor-faktor tersebut membuat deteksi dan pengobatan TB sering terlambat dilakukan.

Selain faktor lingkungan, para peneliti menilai kondisi metabolik tubuh juga dapat memengaruhi kerentanan seseorang terhadap infeksi TB. Selama beberapa tahun terakhir, penelitian internasional menunjukkan bahwa gangguan metabolisme seperti diabetes dan kelainan profil lemak darah dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh dan memperbesar risiko infeksi.

Meneliti Pekerja Migran Indonesia di Johor Bahru

Penelitian dilakukan pada April 2026 di Sekolah Indonesia Johor Bahru (SIJB), Malaysia, bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru.

Sebanyak 58 pekerja migran Indonesia berusia antara 21 hingga 65 tahun dilibatkan dalam penelitian ini. Para peserta menjalani pemeriksaan kadar gula darah puasa, kolesterol total, dan hemoglobin melalui sampel darah kapiler. Mereka juga diwawancarai mengenai berbagai gejala yang sering dikaitkan dengan tuberkulosis.

Peneliti menggunakan definisi gejala yang lebih luas dibandingkan standar skrining TB pada umumnya. Seseorang dikategorikan memiliki risiko TB apabila mengalami minimal satu gejala pernapasan seperti batuk, batuk berdahak berkepanjangan, atau batuk darah, maupun dua gejala sistemik seperti demam berkepanjangan, keringat malam, dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Pendekatan ini dipilih untuk meningkatkan sensitivitas deteksi pada kelompok pekerja migran yang sering kali tidak melaporkan gejala secara lengkap.

Hampir Sepertiga Peserta Memiliki Gejala Mengarah ke TB

Dari 58 responden yang diperiksa, sebanyak 16 orang atau 27,6 persen memenuhi kriteria risiko TB berdasarkan gejala yang dilaporkan.

Gejala yang paling sering ditemukan adalah:

  • Batuk dalam tiga bulan terakhir: 19 persen
  • Keringat malam: 13,8 persen
  • Batuk berdahak lebih dari dua minggu: 5,2 persen
  • Demam lebih dari satu bulan: 5,2 persen
  • Penurunan berat badan tanpa sebab jelas: 1,7 persen

Persentase tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan hasil yang biasanya diperoleh menggunakan metode skrining TB konvensional. Menurut para peneliti, hal ini menunjukkan bahwa pendekatan skrining yang lebih sensitif dapat membantu menemukan lebih banyak individu berisiko tinggi sebelum penyakit berkembang lebih lanjut.

Kolesterol Tinggi Menjadi Temuan Utama

Temuan paling menonjol dalam penelitian ini adalah hubungan antara kolesterol tinggi dan risiko TB.

Kelompok yang memiliki gejala TB menunjukkan kadar kolesterol median sebesar 207,5 mg/dL, lebih tinggi dibanding kelompok tanpa gejala yang memiliki median 191 mg/dL.

Analisis statistik menunjukkan bahwa peserta dengan kolesterol total minimal 200 mg/dL memiliki risiko 3,67 kali lebih tinggi mengalami gejala yang mengarah pada TB.

Menurut tim peneliti, hasil ini sejalan dengan berbagai penelitian internasional yang menunjukkan bahwa bakteri Mycobacterium tuberculosis memanfaatkan kolesterol dalam tubuh manusia untuk bertahan hidup dan berkembang biak di dalam sel imun.

Gangguan metabolisme lemak juga diketahui berkaitan dengan proses peradangan kronis yang dapat memengaruhi respons imun terhadap infeksi.

Gula Darah dan Hemoglobin Tidak Menunjukkan Hubungan Kuat

Penelitian ini juga mengevaluasi kadar gula darah puasa dan hemoglobin.

Meskipun peserta dengan gejala TB cenderung memiliki kadar gula darah lebih tinggi dibandingkan kelompok tanpa gejala, hubungan tersebut tidak cukup kuat secara statistik untuk dinyatakan sebagai faktor risiko utama.

Sementara itu, kadar hemoglobin tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan gejala TB. Peneliti menduga sebagian besar peserta yang berisiko masih berada pada tahap awal sehingga belum mengalami anemia yang sering ditemukan pada pasien TB aktif.

Implikasi untuk Program Kesehatan Migran

Temuan ini membuka peluang baru dalam strategi pencegahan dan deteksi dini tuberkulosis pada pekerja migran.

Menurut para peneliti dari Universitas Trisakti, pemeriksaan metabolik sederhana seperti profil kolesterol dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari program skrining kesehatan rutin bagi pekerja migran. Pendekatan ini berpotensi membantu mengidentifikasi kelompok berisiko tinggi sebelum muncul gejala yang lebih berat.

Tim peneliti juga menekankan pentingnya pendekatan skrining dua arah, yaitu melakukan pemeriksaan TB pada individu dengan gangguan metabolik serta melakukan evaluasi metabolik pada individu yang dicurigai mengalami TB.

Sebagaimana dijelaskan oleh Purnamawati Tjhin dan tim dari Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, hubungan antara kesehatan metabolik dan kerentanan terhadap penyakit infeksi menunjukkan bahwa pencegahan TB tidak hanya bergantung pada deteksi bakteri, tetapi juga pada pengelolaan kondisi kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Profil Penulis

Dr. Purnamawati Tjhin merupakan dosen dan peneliti pada Departemen Anatomi, Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti dengan fokus penelitian pada kesehatan masyarakat, penyakit infeksi, dan faktor risiko metabolik.

Dr. Meiyanti adalah akademisi pada Departemen Farmakologi dan Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti yang meneliti bidang farmakologi klinis, tuberkulosis, dan kesehatan masyarakat.

Dr. Kurniasari adalah akademisi pada Departemen Farmakologi dan Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti yang meneliti bidang farmakologi klinis, tuberkulosis, dan kesehatan masyarakat.

Dr. Eveline Margo merupakan peneliti dari Departemen Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti dengan keahlian di bidang fisiologi manusia dan kesehatan metabolik.

drg. Laurensia Lim berasal dari Melati Hospital dan aktif dalam pelayanan kesehatan serta penelitian klinis terkait kesehatan masyarakat.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Association of Metabolic Status and Hemoglobin Levels with Presumptive Tuberculosis Symptoms Among Indonesian Migrant Workers: A Cross-Sectional Study
Penulis: Purnamawati Tjhin, Meiyanti, Eveline Margo, dan Laurensia Lim
Afiliasi: Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti dan Melati Hospital
Jurnal: International Journal of Integrative Sciences (IJIS)
Tahun Publikasi: 2026
Volume dan Nomor: Vol. 5 No. 5
Halaman: 645–656
DOI: https://doi.org/10.55927/ijis.v5i5.31
URLhttps://mryformosapublisher.org/index.php/ijis/index

Posting Komentar

0 Komentar