Efek Samping Obat Jadi Penyebab Utama Pasien TB Putus Berobat di Teluk Bintuni

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Jayapura - Pasien tuberkulosis (TB) di wilayah kerja Puskesmas Bintuni, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, masih menghadapi masalah serius berupa putus pengobatan atau loss to follow-up (LTFU). Penelitian terbaru dari Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih Jayapura menemukan bahwa efek samping obat menjadi faktor paling dominan yang membuat pasien menghentikan terapi sebelum selesai.

Riset ini dilakukan oleh Henderyana Arrang Pantan bersama Hasmi, Sarce Makaba, Arius Togodly, Novita Medyati, dan Rosmin Mariati Tingginehe. Penelitian dipublikasikan dalam Formosa Journal of Science and Technology (FJST) Volume 5 Nomor 4 Tahun 2026. Studi tersebut menganalisis data 245 pasien TB yang menjalani pengobatan sejak Januari 2024 hingga Agustus 2025 di Puskesmas Bintuni.

Temuan ini penting karena penghentian pengobatan TB sebelum waktunya dapat memperburuk kondisi pasien, meningkatkan risiko penularan di masyarakat, hingga memicu munculnya TB resisten obat yang lebih sulit dan mahal diobati.

Secara global, TB masih menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menargetkan pengurangan besar kasus TB pada 2035, namun angka penghentian pengobatan di berbagai negara, termasuk Indonesia, masih menjadi hambatan utama. Di Papua Barat sendiri, angka LTFU dalam empat tahun terakhir masih berada di atas standar WHO yang menetapkan batas aman di bawah 5 persen.

Data Dinas Kesehatan Papua Barat menunjukkan tingkat LTFU TB di provinsi tersebut mencapai lebih dari 18 persen pada 2024. Di Kabupaten Teluk Bintuni, situasinya bahkan lebih mengkhawatirkan. Pada 2023, hampir separuh pasien TB di Puskesmas Bintuni tidak menyelesaikan pengobatan mereka.

Para peneliti menggunakan pendekatan observasional analitik dengan desain cross-sectional. Data pasien dianalisis menggunakan uji statistik untuk melihat hubungan berbagai faktor dengan kejadian LTFU. Faktor yang diteliti meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, jarak ke fasilitas kesehatan, efek samping obat anti tuberkulosis (OAT), keberadaan pengawas minum obat (PMO), dan latar belakang suku pasien.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 245 pasien TB yang diteliti, sebanyak 65 pasien atau 26,5 persen mengalami LTFU. Angka ini jauh di atas standar WHO.

Penelitian menemukan tiga faktor utama yang berhubungan signifikan dengan kejadian putus pengobatan, yaitu:

  • tingkat pendidikan rendah
  • status tidak bekerja
  • efek samping obat TB

Sementara itu, usia, jenis kelamin, jarak rumah ke fasilitas kesehatan, keberadaan PMO, dan suku pasien tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan penghentian pengobatan.

Efek samping obat menjadi faktor yang paling berpengaruh. Analisis statistik menunjukkan pasien yang mengalami efek samping obat memiliki risiko sekitar 4,5 kali lebih besar mengalami LTFU dibandingkan pasien tanpa efek samping.

Keluhan efek samping yang dialami pasien TB umumnya berupa mual, muntah, pusing, lemas, hingga gangguan fisik lain yang membuat pasien merasa tidak sanggup melanjutkan terapi. Kondisi ini sering kali membuat pasien menghentikan obat secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Peneliti menjelaskan bahwa banyak pasien memutuskan berhenti minum obat karena merasa efek samping yang muncul lebih berat dibandingkan gejala penyakit yang mulai membaik. Situasi tersebut diperparah oleh kurangnya pemahaman pasien mengenai pentingnya menyelesaikan terapi TB secara penuh.

Selain efek samping obat, faktor pendidikan juga memainkan peran penting. Pasien dengan tingkat pendidikan rendah tercatat lebih banyak mengalami putus pengobatan dibandingkan pasien berpendidikan lebih tinggi. Menurut peneliti, rendahnya pendidikan dapat memengaruhi kemampuan pasien memahami informasi kesehatan, termasuk risiko berhenti berobat sebelum waktunya.

Kelompok pasien yang tidak bekerja juga lebih rentan menghentikan pengobatan. Peneliti menilai kondisi ekonomi menjadi salah satu penyebab utama. Pasien yang tidak memiliki penghasilan tetap sering mengalami kesulitan biaya transportasi, kebutuhan nutrisi, dan tekanan sosial selama menjalani terapi jangka panjang.

Hasmi dan tim peneliti dari Universitas Cenderawasih menilai pendekatan layanan TB perlu dibuat lebih ramah pasien, terutama bagi kelompok rentan. Edukasi kesehatan sebaiknya menggunakan bahasa sederhana dan mudah dipahami, disertai pemantauan lebih intensif bagi pasien berisiko tinggi mengalami LTFU.

Penelitian juga menekankan pentingnya penanganan efek samping obat secara cepat dan aktif. Tenaga kesehatan diminta tidak hanya fokus memberikan obat, tetapi juga memastikan pasien mampu bertahan menjalani terapi hingga selesai. Pendampingan rutin, konsultasi efek samping, kunjungan rumah, hingga pengingat jadwal kontrol dinilai dapat membantu menurunkan angka putus pengobatan.

Meski jarak rumah ke fasilitas kesehatan tidak terbukti berhubungan signifikan dalam penelitian ini, para peneliti menilai akses layanan tetap harus diperhatikan, terutama di wilayah Papua Barat yang memiliki tantangan geografis cukup berat.

Temuan ini juga memperlihatkan bahwa keberadaan pengawas minum obat belum tentu efektif jika keluarga atau pendamping pasien tidak memahami perannya secara optimal. Dalam beberapa kasus, keluarga bahkan tidak percaya anggota keluarganya benar-benar menderita TB sehingga pengawasan minum obat tidak berjalan maksimal.

Penelitian ini memperkuat sejumlah studi sebelumnya di Indonesia dan luar negeri yang menyebut efek samping obat sebagai salah satu penyebab utama kegagalan pengobatan TB. Jika kondisi ini tidak ditangani serius, angka TB resisten obat diperkirakan akan terus meningkat dan membebani sistem kesehatan nasional.

Bagi pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar memperkuat program pengendalian TB berbasis pendampingan pasien. Penanganan TB tidak cukup hanya menyediakan obat, tetapi juga membutuhkan dukungan psikologis, sosial, dan ekonomi agar pasien mampu menyelesaikan terapi selama berbulan-bulan.

Profil Penulis

Henderyana Arrang Pantan merupakan peneliti dari Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih Jayapura.

Dr. Hasmi adalah dosen dan peneliti di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih dengan bidang keahlian epidemiologi dan kesehatan masyarakat.

Tim penulis lainnya, yaitu Sarce Makaba, Arius Togodly, Novita Medyati, dan Rosmin Mariati Tingginehe, juga berasal dari Program Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih Jayapura dan aktif meneliti isu kesehatan masyarakat di Papua.

Sumber Penelitian

Pantan, Henderyana Arrang, Hasmi, Sarce Makaba, Arius Togodly, Novita Medyati, dan Rosmin Mariati Tingginehe. “Determinants of Incidence of Loss to Follow-up in Tuberculosis Patients at Bintuni Health Center.” Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 4, 2026.

URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst

DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i4.48

Posting Komentar

0 Komentar