Riset STT Ekumene Jakarta: Deep Learning Tingkatkan Metakognisi Siswa hingga 62 Persen

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Kemampuan siswa untuk memahami cara mereka sendiri belajar ternyata bisa meningkat signifikan melalui pendekatan pembelajaran berbasis deep learning. Temuan ini diungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Herman Pakiding dan Ruth Judica Siahaan dari Sekolah Tinggi Teologi Ekumene Jakarta pada 2025 dan dipublikasikan di Formosa Journal of Science and Technology tahun 2026.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis deep learning berkontribusi sebesar 62 persen terhadap peningkatan kompetensi metakognitif siswa. Metakognitif adalah kemampuan seseorang untuk merencanakan, memantau, dan mengevaluasi proses berpikirnya sendiri saat belajar. Kemampuan ini semakin penting di era pendidikan digital dan kecerdasan buatan (AI), ketika siswa tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga memahami bagaimana mereka belajar secara efektif.

Herman Pakiding dan Ruth Judica Siahaan menilai sistem pembelajaran di Indonesia masih terlalu berorientasi pada hasil akhir dibanding proses berpikir siswa. Akibatnya, banyak siswa belum terbiasa melakukan refleksi terhadap cara belajar mereka sendiri. Penelitian ini hadir untuk menjawab kebutuhan akan model pembelajaran yang lebih reflektif, kritis, dan berpusat pada siswa.

Dalam dunia pendidikan modern, deep learning tidak merujuk pada teknologi AI semata, melainkan pendekatan pembelajaran yang mendorong pemahaman mendalam, keterhubungan konsep, serta refleksi kritis terhadap pengetahuan. Model ini berbeda dari pembelajaran hafalan yang hanya menekankan penguasaan materi secara permukaan.

Penelitian dilakukan menggunakan metode campuran atau mixed method sequential explanatory. Tim peneliti menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai pengaruh pembelajaran deep learning terhadap kemampuan metakognitif siswa.

Penelitian melibatkan siswa kelas VII dan VIII di salah satu SMP yang telah menerapkan pembelajaran berbasis deep learning. Sampel kuantitatif terdiri dari 60 siswa, sementara tahap kualitatif melibatkan 12 siswa, enam guru, serta dua informan pendukung dari pihak sekolah. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, observasi, dan dokumentasi pembelajaran.

Hasil penelitian menunjukkan tingkat penerapan deep learning di sekolah tersebut tergolong tinggi, dengan skor rata-rata 3,87 dari skala 5. Tiga dimensi utama yang diukur meliputi meaningful learning, reflective learning, dan integrative learning. Dimensi reflective learning memperoleh skor lebih rendah dibanding dua dimensi lainnya, menunjukkan bahwa refleksi siswa masih perlu diperkuat.

Sementara itu, kompetensi metakognitif siswa berada pada kategori sedang hingga tinggi dengan skor rata-rata 3,65. Aspek perencanaan belajar memperoleh skor tertinggi, sedangkan kemampuan monitoring atau memantau proses berpikir saat belajar menjadi titik terlemah siswa. Banyak siswa baru menyadari metode belajar mereka kurang efektif setelah tugas selesai dikerjakan.

Analisis regresi memperlihatkan bahwa reflective learning menjadi faktor paling dominan dalam meningkatkan kemampuan metakognitif siswa. Nilai koefisien reflektif mencapai 0,428 dan menjadi variabel paling berpengaruh dibanding pembelajaran bermakna maupun pembelajaran integratif.

Dalam wawancara penelitian, salah satu siswa mengaku mulai memahami cara berpikirnya sendiri setelah diminta menjelaskan hasil diskusi di kelas. Siswa lain mengatakan ia kini terbiasa menentukan target belajar sebelum memulai pelajaran agar lebih fokus memahami materi.

Namun penelitian juga menemukan adanya kesenjangan antara praktik deep learning dan pengembangan strategi metakognitif secara eksplisit. Guru dinilai lebih fokus pada aktivitas diskusi dan proyek, tetapi belum secara khusus mengajarkan cara siswa mengontrol dan mengevaluasi proses berpikir mereka.

Pemanfaatan teknologi pembelajaran juga belum optimal untuk mendukung refleksi belajar siswa. Teknologi masih lebih banyak digunakan untuk mencari materi atau mengerjakan tugas, bukan untuk membantu siswa mengevaluasi proses belajar mereka secara mandiri.

Temuan ini menjadi penting karena perkembangan AI dan teknologi pendidikan saat ini mulai memengaruhi pola belajar siswa. Penelitian menyebutkan bahwa penggunaan teknologi tanpa strategi pedagogis yang tepat justru berpotensi memunculkan “kemalasan metakognitif”, yakni kondisi ketika siswa terlalu bergantung pada teknologi sehingga kemampuan refleksi berpikir menurun.

Menurut Herman Pakiding dan Ruth Judica Siahaan, pembelajaran masa depan perlu diarahkan pada penguatan kesadaran belajar siswa, bukan sekadar penggunaan teknologi canggih di kelas. Guru disarankan mulai mengintegrasikan strategi refleksi terstruktur, self-monitoring, dan evaluasi diri dalam proses belajar sehari-hari.

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya perubahan paradigma pendidikan dari teacher-centered menjadi learner-centered. Dalam pendekatan ini, siswa diposisikan sebagai subjek aktif yang membangun pengetahuan melalui pengalaman, refleksi, dan interaksi sosial.

Dari sisi praktis, hasil penelitian berpotensi menjadi acuan bagi sekolah, guru, dan pembuat kebijakan pendidikan dalam merancang pembelajaran abad ke-21 yang lebih adaptif terhadap tantangan era digital. Model pembelajaran berbasis deep learning yang terintegrasi dengan strategi metakognitif dinilai mampu membantu siswa menjadi lebih kritis, reflektif, dan mandiri dalam belajar.

Meski demikian, peneliti mengakui penelitian ini masih memiliki keterbatasan, terutama pada jumlah sampel yang relatif kecil dan penggunaan instrumen berbasis persepsi siswa. Mereka merekomendasikan penelitian lanjutan dengan desain longitudinal dan pemanfaatan learning analytics agar perkembangan metakognitif siswa dapat diukur lebih objektif.

Profil Penulis

Herman Pakiding merupakan akademisi dari Sekolah Tinggi Teologi Ekumene Jakarta yang meneliti bidang pendidikan, pembelajaran reflektif, dan pengembangan kompetensi metakognitif siswa di era digital. Penelitian ini ditulis bersama Ruth Judica Siahaan, akademisi dari institusi yang sama dengan fokus kajian pendidikan modern dan integrasi teknologi dalam pembelajaran.

Sumber Penelitian

Pakiding, Herman & Siahaan, Ruth Judica. “Reorientation of Deep Learning Based Instruction in Enhancing Students' Metacognitive Competence.” Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 4, 2026, halaman 1075–1086. 

URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst

DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i4.55

Posting Komentar

0 Komentar