Cashless dan Literasi Keuangan Dorong Kebiasaan “Latte Factor” Gen Z di Surabaya

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Generasi Z di Surabaya semakin akrab dengan kebiasaan membeli kopi secara rutin—fenomena yang dikenal sebagai latte factor. Penelitian terbaru oleh Nazzanin Kamila Insani dan Insyirah Putikadea dari Universitas Negeri Surabaya mengungkap bahwa gaya hidup cashless dan tingkat literasi keuangan berperan penting dalam perilaku ini. Studi yang dilakukan pada Desember 2025 hingga Februari 2026 ini menyoroti bagaimana kebiasaan kecil yang berulang dapat berdampak besar terhadap kondisi finansial generasi muda.

Fenomena latte factor merujuk pada pengeluaran kecil yang dilakukan secara rutin tanpa disadari, seperti membeli kopi, berlangganan layanan digital, atau membeli produk gaya hidup. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh David Bach dan kini semakin relevan di tengah gaya hidup urban dan digital, terutama di kalangan Gen Z yang tumbuh bersama teknologi dan media sosial.

Latar Belakang: Gaya Hidup dan Tekanan Sosial

Surabaya sebagai kota metropolitan dengan banyak coffee shop menjadi ruang sosial favorit bagi Gen Z. Aktivitas seperti bekerja, belajar, hingga bersosialisasi sering dilakukan di kafe. Di sisi lain, fenomena fear of missing out (FOMO) dan gaya hidup “You Only Live Once” (YOLO) mendorong konsumsi yang cenderung impulsif.

Kemudahan akses teknologi finansial seperti e-wallet, mobile banking, dan QRIS semakin memperkuat pola konsumsi ini. Transaksi digital membuat proses pembayaran terasa lebih cepat dan “tidak terasa”, sehingga individu cenderung lebih sering mengeluarkan uang tanpa pertimbangan panjang.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 100 responden Gen Z di Surabaya yang aktif menggunakan pembayaran non-tunai dan sering mengunjungi coffee shop. Data dikumpulkan melalui kuesioner online menggunakan skala Likert dan dianalisis menggunakan SPSS versi 30.

Variabel yang dianalisis meliputi:

  • Cashless society (penggunaan pembayaran digital)
  • Mental accounting (cara individu mengelola dan mengelompokkan uang)
  • Financial literacy (pemahaman keuangan)
  • Latte factor behavior (perilaku konsumsi kecil berulang)

Temuan Utama Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin penting:

1. Cashless society berpengaruh signifikan dan positif terhadap latte factor.
Artinya, semakin sering menggunakan pembayaran digital, semakin tinggi kecenderungan melakukan pengeluaran kecil berulang.
2. Financial literacy juga berpengaruh signifikan terhadap perilaku tersebut.
Namun menariknya, literasi keuangan tidak selalu menurunkan konsumsi, melainkan membuat individu lebih sadar dan tetap mengontrol pengeluaran dalam batas tertentu.
3. Mental accounting tidak berpengaruh signifikan.
Pengelompokan keuangan secara mental belum cukup kuat untuk menekan kebiasaan konsumsi kecil ini.

Analisis regresi menunjukkan bahwa variabel cashless dan literasi keuangan menjadi faktor dominan, sementara model penelitian hanya menjelaskan sekitar 11% variasi perilaku, menandakan masih banyak faktor lain yang memengaruhi kebiasaan konsumsi Gen Z.

Makna di Balik Angka

Penelitian ini mengungkap paradoks menarik: individu dengan literasi keuangan tinggi tetap melakukan pengeluaran kecil seperti membeli kopi. Hal ini terjadi karena mereka merasa mampu mengontrol pengeluaran tersebut, bukan karena kurangnya pengetahuan finansial.

Selain itu, sistem pembayaran digital mengurangi “rasa kehilangan uang” saat bertransaksi. Tanpa uang fisik, pengeluaran terasa lebih ringan, sehingga frekuensi pembelian meningkat tanpa disadari.

Dampak bagi Masyarakat dan Dunia Usaha

Temuan ini memiliki implikasi luas:

  • Bagi masyarakat, penting untuk meningkatkan kesadaran bahwa pengeluaran kecil yang rutin dapat berdampak besar dalam jangka panjang.
  • Bagi pelaku usaha, terutama coffee shop, tren ini menunjukkan peluang besar dalam mempertahankan pelanggan Gen Z melalui sistem pembayaran digital dan pengalaman sosial.
  • Bagi pembuat kebijakan, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), diperlukan edukasi finansial yang lebih kontekstual, terutama terkait pengelolaan pengeluaran kecil di era digital.

Peneliti dari Universitas Negeri Surabaya menekankan bahwa literasi keuangan tetap menjadi kunci, tetapi harus diiringi dengan kontrol diri dan kesadaran perilaku konsumsi.

Profil Penulis

Nazzanin Kamila Insani adalah peneliti di bidang manajemen keuangan dan perilaku konsumen dari Universitas Negeri Surabaya. Ia bekerja sama dengan Insyirah Putikadea, akademisi yang fokus pada literasi keuangan dan pengambilan keputusan ekonomi. Keduanya aktif meneliti perilaku finansial generasi muda di era digital.

Sumber Penelitian

Insani, Nazzanin Kamila & Putikadea, Insyirah. (2026). The Influence of Cashless Society, Mental Accounting, and Financial Literacy on Generation Z’s Latte Factor Behavior at Coffee Shops in Surabaya. Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 4, 1185–1204. DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i4.58, URL: https://journalfjmr.my.id/index.php/fjmr

Posting Komentar

0 Komentar