Revitalisasi Ritual Nyapuh Leger Tingkatkan Literasi Spiritual Generasi Muda di Amlapura
Sebuah kegiatan pengabdian masyarakat yang dipimpin Ni Kadek Ayu Paramanandani bersama tim dari STKIP Agama Hindu Amlapura pada Maret 2026 menunjukkan bahwa revitalisasi ritual Nyapuh Leger mampu meningkatkan pemahaman spiritual dan partisipasi masyarakat. Penelitian ini penting karena menjawab tantangan menurunnya pemaknaan generasi muda terhadap tradisi keagamaan di tengah arus modernisasi.
Ritual Nyapuh Leger merupakan bagian penting dalam tradisi Hindu Bali, khususnya bagi individu yang lahir pada Wuku Wayang. Secara spiritual, ritual ini dipercaya sebagai sarana penyucian diri untuk menetralisir pengaruh negatif serta menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Namun, perubahan sosial akibat globalisasi dan digitalisasi membuat banyak generasi muda hanya memandang ritual ini sebagai kewajiban seremonial, bukan sebagai praktik spiritual yang bermakna.
Melihat kondisi tersebut, tim peneliti dari STKIP Agama Hindu Amlapura menginisiasi program berbasis Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pendekatan kolaboratif. Kegiatan ini berlangsung pada 8–14 Maret 2026 dengan melibatkan 64 peserta yang lahir pada Wuku Wayang, bekerja sama dengan Yayasan Parisadha dan Yadnya Prawerti Parisadha (YPP) Amlapura.
Program ini menggunakan metode partisipatif yang menempatkan masyarakat sebagai subjek aktif. Peserta tidak hanya mengikuti ritual, tetapi juga terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga refleksi kegiatan. Pendekatan ini dipadukan dengan pengalaman langsung melalui rangkaian ritual seperti pertunjukan wayang Sapuh Leger, prosesi melukat (penyucian diri), hingga doa bersama.
Hasilnya menunjukkan perubahan signifikan dalam cara pandang peserta terhadap ritual. Awalnya, sebagian besar peserta hanya memahami Nyapuh Leger sebagai tradisi turun-temurun. Namun setelah terlibat langsung, mereka mulai memahami makna filosofis di balik ritual tersebut, termasuk konsep keseimbangan kosmis dan pentingnya penyucian diri.
Beberapa temuan utama dari kegiatan ini meliputi:
- Peningkatan pemahaman spiritual: Peserta lebih memahami nilai filosofis dan religius dalam ritual Nyapuh Leger
- Penguatan partisipasi masyarakat: Keterlibatan aktif meningkatkan kesadaran kolektif terhadap pentingnya tradisi
- Pengalaman spiritual mendalam: Prosesi melukat memberikan pengalaman reflektif yang berbeda dari ritual biasa
- Efisiensi biaya: Pelaksanaan massal membantu masyarakat menghemat biaya hingga puluhan juta rupiah
Menurut Ni Kadek Ayu Paramanandani dari STKIP Agama Hindu Amlapura, pendekatan partisipatif menjadi kunci keberhasilan program ini. Ia menegaskan bahwa keterlibatan langsung masyarakat mampu mengubah ritual dari sekadar aktivitas seremonial menjadi proses pembelajaran spiritual yang bermakna.
Pertunjukan wayang Sapuh Leger juga menjadi media edukasi yang efektif. Melalui narasi dalang, peserta memahami konsep Bhuta Kala, keseimbangan alam semesta, serta hubungan manusia dengan kekuatan spiritual. Hal ini memperkuat fungsi wayang tidak hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai sarana komunikasi nilai-nilai religius.
Selain dampak individual, program ini juga memperkuat hubungan sosial di masyarakat. Kegiatan bersama menciptakan rasa kebersamaan dan solidaritas, sekaligus memperkuat identitas budaya lokal. Dalam konteks ini, ritual keagamaan tidak hanya berfungsi secara spiritual, tetapi juga sosial.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga keagamaan, dan masyarakat menjadi salah satu kekuatan utama program ini. Mahasiswa dan dosen tidak hanya berperan sebagai pelaksana, tetapi juga fasilitator yang menjembatani pengetahuan akademik dengan praktik budaya. Model ini dinilai efektif dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat.
Dari sisi pendidikan, kegiatan ini membuka peluang integrasi nilai-nilai lokal ke dalam kurikulum. Ritual Nyapuh Leger dapat dijadikan media pembelajaran kontekstual untuk membentuk karakter dan kesadaran spiritual mahasiswa maupun pelajar.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal dapat menjadi strategi efektif dalam menghadapi tantangan modernisasi. Dengan menggabungkan edukasi, partisipasi, dan pengalaman langsung, tradisi tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dimaknai ulang secara relevan dengan kehidupan masa kini.
Ke depan, model pengabdian masyarakat seperti ini berpotensi direplikasi di daerah lain dengan menyesuaikan konteks budaya setempat. Hal ini membuka peluang penguatan identitas budaya nasional sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan spiritual masyarakat.
Profil Penulis
Ni Kadek Ayu Paramanandani, S.Pd., M.Pd., adalah dosen di STKIP Agama Hindu Amlapura dengan keahlian di bidang pendidikan agama Hindu dan pengembangan masyarakat berbasis kearifan lokal. Ia bekerja sama dengan Ni Putu Gatriyani, Ni Wayan Apriani, Ni Komang Aryani, I Wayan Mardana Putra, I Komang Badra, Ayu Widha Erlia, Ni Kadek Ari Jayanti Kusuma Dewi, dan I Kadek Agus Aryanta dalam penelitian ini.Sumber Penelitian
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsd.v5i2.18
URL : https://journalijsd.my.id/index.php/ijsd/index
0 Komentar