Padangsidimpuan-
Residu Pestisida Ditemukan pada Cabai Merah di Tapanuli Selatan, Namun Masih
Aman Dikonsumsi Penelitian
terbaru yang dilakukan oleh Rismawati, Yusriani Nasution, Dini Puspita
Yanty, Rasmita Adelina, dan Dewi Sartika dari Universitas Graha Nusantara
Padangsidimpuan yang dipublikasikan
dalam International Journal of Education and Life Sciences (IJELS) Vol.
4 No. 2 (Februari 2026).
Penelitian terbaru yang
dilakukan oleh Rismawati, Yusriani Nasution, Dini Puspita Yanty, Rasmita
Adelina, dan Dewi Sartika dari Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan
menemukan bahwa cabai merah yang dibudidayakan di Kecamatan Sipirok, Kabupaten
Tapanuli Selatan, memang mengandung residu pestisida, namun kadarnya masih
berada di bawah batas maksimum yang diizinkan sehingga dinilai aman untuk
dikonsumsi.
Cabai Merah Komoditas Penting dengan
Permintaan Tinggi
Cabai merah (Capsicum annuum L.)
merupakan tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Selain
digunakan sebagai bumbu masakan, cabai juga diolah menjadi berbagai produk
industri seperti saus, bubuk cabai, dan produk olahan lainnya.
Cabai merah juga memiliki kandungan
nutrisi yang cukup lengkap, seperti:
- vitamin
A
- vitamin
C
- protein
- karbohidrat
- mineral
- flavonoid
dan antioksidan
- capsaicinoid
yang memberikan rasa pedas
Tingginya permintaan pasar terhadap
cabai merah mendorong petani meningkatkan produksi melalui berbagai teknik
budidaya, termasuk penggunaan pestisida untuk mengendalikan hama dan penyakit
tanaman.
Namun penggunaan pestisida yang tidak tepat dapat meninggalkan residu pada hasil panen yang berpotensi berdampak pada kesehatan manusia.
Residu Pestisida Berpotensi Mengganggu
Kesehatan
Pestisida merupakan bahan kimia yang
digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman seperti serangga,
jamur, dan gulma. Dalam praktik pertanian modern, pestisida menjadi bagian
penting dari sistem budidaya tanaman.
Namun penggunaan pestisida yang tidak
sesuai dengan dosis dan aturan dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan.
Residu pestisida yang terbawa dalam makanan dapat menumpuk dalam jaringan tubuh
manusia dan dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan:
- gangguan
sistem saraf
- kerusakan
fungsi hati dan ginjal
- gangguan
metabolisme enzim
- penurunan
sistem kekebalan tubuh
- cacat
bawaan
- alergi
- bahkan
kanker
Salah satu jenis pestisida yang sering digunakan pada tanaman hortikultura adalah pestisida golongan organofosfat, seperti chlorpyrifos dan profenofos, yang bekerja dengan cara menghambat enzim asetilkolinesterase dalam sistem saraf.
Penelitian Dilakukan pada Cabai Merah
di Kecamatan Sipirok
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif
dengan analisis laboratorium untuk mengidentifikasi keberadaan residu
pestisida pada cabai merah.
Sampel cabai merah diambil langsung
dari lahan pertanian milik petani di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli
Selatan, yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil cabai di wilayah
tersebut.
Proses penelitian meliputi beberapa
tahap utama:
- Pengambilan
sampel cabai dari lahan pertanian
- Persiapan
dan ekstraksi sampel di laboratorium
- Pemurnian
dan analisis menggunakan instrumen laboratorium
- Perbandingan
hasil analisis dengan standar batas maksimum residu
Parameter yang diuji dalam penelitian
ini adalah residu pestisida golongan organofosfat, khususnya profenofos.
Hasil pengujian kemudian dibandingkan dengan standar Batas Maksimum Residu (BMR) yang ditetapkan dalam SNI 7313:2008, yaitu 3 mg/kg untuk komoditas cabai merah.
Residu Pestisida Ditemukan Namun Masih
di Bawah Batas Aman
Hasil analisis laboratorium
menunjukkan bahwa beberapa sampel cabai merah memang mengandung residu
pestisida organofosfat, khususnya profenofos.
Namun kadar residu yang terdeteksi
masih berada di bawah batas maksimum residu yang diperbolehkan, yaitu 3
mg/kg.
Temuan ini menunjukkan bahwa cabai
merah yang diteliti masih memenuhi standar keamanan pangan berdasarkan
peraturan yang berlaku.
Meskipun demikian, keberadaan residu pestisida tetap menunjukkan bahwa penggunaan pestisida dalam praktik budidaya meninggalkan jejak kimia pada hasil panen.
Banyak Faktor yang Mempengaruhi Residu
Pestisida
Tingkat residu pestisida pada tanaman
dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
- jenis
pestisida yang digunakan
- dosis
aplikasi pestisida
- frekuensi
penyemprotan
- interval
waktu antara penyemprotan terakhir dan panen
- kondisi
lingkungan seperti suhu, curah hujan, dan sinar matahari
Faktor-faktor tersebut dapat
mempengaruhi proses degradasi atau penguraian pestisida pada tanaman sebelum
panen.
Penelitian ini juga sejalan dengan berbagai studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa residu pestisida masih sering ditemukan pada produk hortikultura segar, meskipun sebagian besar masih berada dalam batas aman.
Pentingnya Edukasi Petani dan
Pengawasan Pestisida
Para peneliti menekankan pentingnya
peningkatan kesadaran petani dalam menggunakan pestisida secara bijak.
Beberapa langkah yang disarankan
antara lain:
- menggunakan
pestisida sesuai dosis yang dianjurkan
- memperhatikan
interval waktu antara penyemprotan dan panen
- mengikuti
pedoman penggunaan pestisida yang aman
- meningkatkan
pengawasan dari instansi terkait
Langkah-langkah tersebut diperlukan
untuk memastikan bahwa produk pertanian yang beredar di masyarakat tetap aman
dikonsumsi.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa cabai
merah yang dibudidayakan di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan,
memang mengandung residu pestisida organofosfat seperti profenofos.
Namun kadar residu yang terdeteksi
masih berada di bawah Batas Maksimum Residu (BMR) sebesar 3 mg/kg,
sehingga cabai merah tersebut masih dinyatakan aman untuk dikonsumsi
berdasarkan standar keamanan pangan yang berlaku.
Meski demikian, pemantauan berkala terhadap residu pestisida tetap diperlukan untuk menjaga keamanan pangan dan melindungi kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Profil Penulis
Rismawati
Peneliti dari Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan yang fokus pada
kajian keamanan pangan dan residu pestisida.
Yusriani Nasution, Dini Puspita Yanty,
Rasmita Adelina, dan Dewi Sartika
Akademisi dari Universitas Graha Nusantara yang meneliti bidang pertanian,
lingkungan, dan kesehatan pangan.
Sumber Penelitian
Rismawati, Nasution, Y., Yanty, D. P.,
Adelina, R., & Sartika, D. (2026).Analysis of Pesticide Residues on Red
Chili Fruits (Capsicum annuum L.) in Sipirok District, South Tapanuli Regency.
International Journal of Education and Life Sciences (IJELS), Vol. 4 No.
2, 245–252.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijels.v4i2.283
URL: https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijels

0 Komentar