Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa meskipun guru merasa percaya diri dalam kemampuan mengajar, tekanan kerja dan minimnya dukungan tetap menjadi faktor utama yang memicu kelelahan kerja.
Tekanan Guru Meningkat, Self-Efficacy Jadi Kunci Bertahan
Dalam beberapa tahun terakhir, profesi guru menghadapi tekanan yang semakin tinggi, baik secara fisik, emosional, maupun mental. Di Filipina, sekitar 70% guru dilaporkan mengalami stres kerja yang signifikan. Kondisi ini diperparah oleh beban administratif, keterbatasan sumber daya, serta tuntutan pascapandemi.
Penelitian ini menyoroti bahwa self-efficacy—yakni keyakinan guru terhadap kemampuannya dalam mengajar, mengelola kelas, dan memengaruhi siswa—menjadi “tameng psikologis” yang membantu guru tetap bertahan dalam tekanan kerja.
Namun, hubungan antara self-efficacy dan burnout tidak selalu linear. Dalam konteks lokal, data empiris yang spesifik masih terbatas, sehingga penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut.
Metode: Survei Guru SD dengan Analisis Statistik
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-korelasional yang dilengkapi analisis regresi. Data dikumpulkan dari guru sekolah dasar negeri di delapan distrik wilayah South Sector, Central Luzon.
Responden dibagi menjadi dua kelompok:
- Guru proficient (berpengalaman)
- Guru highly proficient (sangat berpengalaman)
Teknik sampling stratified digunakan untuk memastikan representasi yang seimbang. Analisis kemudian dilakukan untuk melihat hubungan antara self-efficacy, burnout, dan komitmen kerja.
Temuan Utama: Percaya Diri Tinggi, Burnout Tetap Ada
Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin penting:
1. Self-efficacy guru tergolong tinggi
- Guru memiliki kepercayaan diri kuat dalam:
- Mengajar (instructional efficacy)
- Mengelola kelas (disciplinary efficacy)
- Menciptakan lingkungan sekolah positif
- Namun, kemampuan melibatkan komunitas menjadi aspek terlemah
2. Burnout bervariasi tergantung aspek
- Tingkat burnout tergolong:
- Tinggi pada kepuasan karier
- Rendah pada dukungan administratif dan stres kerja
- Sedang pada sikap terhadap siswa
3. Dukungan administratif sangat rendah
- Ini menjadi temuan paling krusial
- Banyak guru merasa kurang didukung oleh pihak sekolah
4. Komitmen kerja sangat tinggi
- Guru menunjukkan:
- Ikatan emosional kuat terhadap profesi
- Rasa tanggung jawab tinggi
- Guru yang lebih berpengalaman memiliki komitmen lebih tinggi
5. Self-efficacy meningkatkan komitmen, tapi tidak menurunkan burnout
- Analisis regresi menunjukkan:
- Self-efficacy berpengaruh signifikan terhadap komitmen kerja
- Tidak berpengaruh signifikan terhadap burnout
Makna Temuan: Masalah Sistemik Lebih Dominan
Menurut Dalmacion dan Jimenez, hasil ini menunjukkan bahwa burnout tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu seperti kepercayaan diri, tetapi juga oleh faktor eksternal seperti:
- Beban kerja
- Lingkungan kerja
- Dukungan manajemen sekolah
Dengan kata lain, guru bisa tetap percaya diri, tetapi tetap mengalami kelelahan jika sistem tidak mendukung.
Dampak bagi Pendidikan dan Kebijakan
Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi berbagai pihak:
Bagi sekolah
- Perlu meningkatkan dukungan administratif
- Menciptakan lingkungan kerja yang lebih suportif
Bagi pemerintah
- Menyusun kebijakan yang mengurangi beban administratif guru
- Menyediakan program kesejahteraan berbasis data
Bagi dunia pendidikan
- Fokus tidak hanya pada pelatihan kompetensi, tetapi juga kesejahteraan mental
Bagi guru
- Mengembangkan self-efficacy tetap penting, tetapi perlu didukung sistem yang sehat
Rekomendasi: Program Wellness untuk Guru
Penelitian ini mengusulkan pengembangan program kesejahteraan (wellness program) yang mencakup:
- Penguatan self-efficacy melalui pelatihan profesional
- Dukungan sosial dan mentoring
- Peningkatan peran kepemimpinan sekolah
- Strategi pengelolaan stres
Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan komitmen sekaligus menekan burnout secara lebih efektif.
0 Komentar