Jakarta — Penelitian Teuku Muhammad Fauzan Robbani dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang dipublikasikan tahun 2026 menunjukkan bahwa Surah Ar-Rahman ayat 10–33 memuat konsep hubungan harmonis antara manusia dan alam semesta yang menekankan tanggung jawab ekologis manusia sebagai pengelola bumi. Kajian berbasis Tafsir Al-Jawahir karya Tantawi Jauhari ini memperlihatkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang spiritualitas, tetapi juga menghadirkan perspektif ilmiah tentang keseimbangan alam yang relevan dengan tantangan lingkungan modern.
Isu kerusakan lingkungan dan perubahan iklim semakin menjadi perhatian global. Dalam konteks tersebut, pendekatan keagamaan yang menekankan hubungan manusia dengan alam memiliki peran penting dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat. Tafsir Al-Jawahir menjadi salah satu rujukan penting karena mengintegrasikan pemahaman teks Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan modern.
Penelitian ini menyoroti bagaimana Tantawi Jauhari menafsirkan alam sebagai bagian dari sistem kehidupan yang saling terhubung dengan manusia. Alam dipahami sebagai amanah yang harus dijaga, bukan sekadar sumber daya yang dimanfaatkan tanpa batas. Perspektif ini memperkuat gagasan bahwa krisis lingkungan tidak hanya berkaitan dengan teknologi atau ekonomi, tetapi juga dengan kesadaran moral manusia terhadap alam.
Kajian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka terhadap Tafsir Al-Jawahir dan literatur terkait tafsir ilmiah Al-Qur’an. Analisis difokuskan pada Surah Ar-Rahman ayat 10–33 yang menjelaskan penciptaan bumi, keseimbangan kosmos, serta tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan manusia dan alam dalam Tafsir Al-Jawahir bersifat timbal balik dan saling bergantung. Alam diciptakan untuk menunjang kehidupan manusia, sementara manusia bertugas menjaga keseimbangan yang telah ditetapkan dalam struktur semesta.
Konsep keseimbangan atau mizan dalam Surah Ar-Rahman dipahami sebagai prinsip harmoni universal yang harus dijaga manusia. Pelanggaran terhadap prinsip tersebut berpotensi menimbulkan kerusakan ekologis yang berdampak langsung terhadap kehidupan manusia sendiri.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa manusia berasal dari unsur-unsur bumi sebagaimana dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an. Kesadaran ini menunjukkan bahwa merusak lingkungan berarti merusak sumber kehidupan manusia sendiri. Pandangan tersebut memperlihatkan keterkaitan antara dimensi spiritual dan ilmiah dalam memahami relasi manusia dengan alam.
Selain itu, Tafsir Al-Jawahir menafsirkan ayat tentang kemampuan manusia menembus langit dan bumi sebagai dorongan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penguasaan ilmu dipandang sebagai sarana utama manusia untuk memahami alam sekaligus menjalankan tanggung jawabnya sebagai pengelola bumi.
Penafsiran terhadap fenomena alam seperti pertemuan dua lautan juga dijelaskan sebagai ajakan untuk melakukan penelitian ilmiah. Dalam konteks ini, pengembangan ilmu kelautan, astronomi, dan biologi dipahami sebagai bagian dari bentuk syukur manusia terhadap karunia alam.
Menurut Teuku Muhammad Fauzan Robbani dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Tafsir Al-Jawahir menghadirkan pendekatan integratif antara agama dan sains yang relevan untuk menjawab tantangan lingkungan masa kini. Ia menegaskan bahwa pemahaman ayat-ayat tentang alam dapat memperkuat kesadaran ekologis masyarakat modern.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa Tantawi Jauhari menggunakan ilustrasi ilmiah dan data empiris dalam tafsirnya untuk membantu pembaca memahami ayat-ayat Al-Qur’an secara lebih kontekstual. Pendekatan tersebut menjadi inovasi penting dalam tradisi tafsir modern karena menghubungkan teks keagamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Temuan penelitian ini memiliki implikasi penting bagi pendidikan, kebijakan lingkungan, dan pengembangan kajian tafsir tematik berbasis sains. Integrasi nilai keagamaan dan kesadaran ekologis dinilai dapat memperkuat upaya konservasi lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di masyarakat.
Teuku Muhammad Fauzan Robbani merupakan peneliti dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
0 Komentar