Metode Tahsin-Tahfidz Tingkatkan Literasi Al-Qur’an Siswa SD di Wilayah Kepulauan Banggai
Kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an siswa sekolah dasar di wilayah terpencil Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah, menunjukkan peningkatan signifikan setelah penerapan metode tahsin dan tahfidz. Temuan ini dilaporkan oleh Suma K. Saleh bersama tim dari Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai dalam penelitian pengabdian masyarakat yang dipublikasikan pada 2026. Program ini dinilai penting karena menjawab tantangan rendahnya literasi Al-Qur’an di daerah kepulauan dengan akses pendidikan terbatas.
Penelitian dilakukan di SD Inpres Bolonan, sebuah sekolah dasar yang berada di Desa Bolonan, Kecamatan Totikum. Sebanyak 37 siswa kelas IV hingga VI menjadi peserta program. Kondisi awal menunjukkan sebagian besar siswa belum mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar sesuai kaidah tajwid, serta memiliki keterbatasan dalam menghafal surah pendek. Permasalahan ini berpotensi memengaruhi kualitas ibadah dan pembentukan karakter religius sejak usia dini.
Dalam konteks pendidikan dasar, literasi Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga membangun pemahaman, sikap religius, dan kebiasaan ibadah. Namun, keterbatasan fasilitas, waktu belajar, serta motivasi siswa di daerah terpencil sering menjadi hambatan utama. Kondisi tersebut mendorong tim peneliti untuk merancang program pembelajaran yang sederhana, aplikatif, dan mudah diterapkan oleh guru di sekolah.
Program ini menggabungkan dua pendekatan utama, yaitu tahsin (perbaikan bacaan) dan tahfidz (hafalan). Pada tahap awal, siswa mengikuti pre-test untuk mengukur kemampuan dasar mereka. Selanjutnya, kegiatan pembelajaran dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan guru Pendidikan Agama Islam di sekolah.
Metode tahsin diterapkan melalui pendekatan talaqqi, yaitu pembelajaran langsung antara guru dan siswa. Dalam metode ini, siswa membaca ayat Al-Qur’an di hadapan guru, kemudian mendapatkan koreksi langsung, terutama pada pengucapan huruf (makhraj) dan penerapan tajwid. Pendekatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan akurasi dan kelancaran bacaan.
Sementara itu, metode tahfidz dilakukan melalui teknik talqin dan muraja’ah. Talqin memberikan contoh bacaan yang benar untuk ditirukan siswa, sedangkan muraja’ah merupakan pengulangan hafalan secara rutin untuk memperkuat ingatan. Kombinasi keduanya membantu siswa tidak hanya menghafal, tetapi juga menjaga kualitas bacaan.
Hasil program menunjukkan perubahan yang jelas dalam kemampuan siswa. Beberapa capaian utama antara lain:
- Peningkatan akurasi pengucapan huruf hijaiyah sesuai makhraj
- Pemahaman dasar tajwid yang lebih baik
- Kelancaran membaca Al-Qur’an meningkat
- Bertambahnya jumlah surah pendek yang berhasil dihafal
- Meningkatnya kepercayaan diri siswa saat membaca di depan kelas
Suma K. Saleh menjelaskan bahwa interaksi langsung antara guru dan siswa menjadi faktor kunci keberhasilan program ini. “Pendampingan intensif dan pengulangan yang konsisten membuat siswa lebih cepat memahami kesalahan dan memperbaiki bacaannya,” ungkapnya.
Selain peningkatan kemampuan teknis, program ini juga berdampak pada sikap belajar siswa. Mereka terlihat lebih antusias mengikuti pelajaran, lebih percaya diri, dan terbiasa melakukan muraja’ah bersama sebelum kegiatan belajar dimulai. Perubahan ini menunjukkan bahwa literasi Al-Qur’an juga berkontribusi pada pembentukan karakter dan kebiasaan positif.
Keterlibatan guru sekolah dalam seluruh proses, mulai dari perencanaan hingga evaluasi, menjadi faktor penting lainnya. Guru tidak hanya berperan sebagai pendamping, tetapi juga melanjutkan praktik pembelajaran setelah program selesai. Hal ini memastikan keberlanjutan program di lingkungan sekolah.
Penelitian ini juga menegaskan pentingnya pendekatan berbasis komunitas dalam pendidikan di daerah terpencil. Dengan melibatkan pihak sekolah secara aktif, program tidak berhenti sebagai kegiatan sementara, tetapi berkembang menjadi bagian dari budaya belajar di sekolah.
Dampak yang lebih luas dari temuan ini adalah potensi penerapan model serupa di sekolah dasar lain, terutama di wilayah kepulauan atau daerah dengan keterbatasan akses pendidikan. Metode tahsin dan tahfidz yang terintegrasi terbukti sederhana, efektif, dan dapat diadaptasi sesuai kondisi lokal.
Dalam jangka panjang, peningkatan literasi Al-Qur’an sejak usia dini diharapkan dapat membentuk generasi yang tidak hanya mampu membaca, tetapi juga memahami dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadi fondasi penting dalam pembangunan karakter dan kualitas sumber daya manusia.
Profil Penulis
Suma K. Saleh adalah akademisi dari Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai yang memiliki fokus pada pendidikan Islam dan pengabdian masyarakat. Ia bekerja sama dengan Indah Marfu’ah, Marsella Lasiamini, dan Robi Modoling dalam penelitian ini. Tim ini aktif mengembangkan program pendidikan berbasis komunitas, khususnya di wilayah terpencil.Sumber Penelitian
DOI :https://doi.org/10.55927/ijsd.v5i2.9
URL : https://journalijsd.my.id/index.php/ijsd/index
0 Komentar