Kepuasan terhadap gaji dan insentif menjadi faktor utama yang memengaruhi niat karyawan untuk meninggalkan perusahaan di industri animasi. Temuan ini dilaporkan oleh Andreas Wahyu Gunawan Putra dan Nys Nur Hikmah dari Universitas Trisakti dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Business and Applied Economics (IJBAE). Studi ini menyoroti pentingnya sistem kompensasi yang adil untuk mempertahankan tenaga kerja kreatif di industri animasi yang berkembang pesat.
Industri animasi global dan Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Data dari Indonesian Animation Industry Association menunjukkan bahwa sektor ini tumbuh 153 persen selama periode 2015–2019, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sekitar 26 persen. Namun di balik pertumbuhan tersebut, perusahaan animasi menghadapi tantangan serius berupa tingginya turnover intention, yaitu keinginan karyawan untuk meninggalkan pekerjaannya.
Laporan Talent Trends 2022 dari Michael Page menunjukkan bahwa Indonesia memiliki tingkat turnover intention tertinggi kedua di Asia dengan angka 84 persen. Di sektor media dan agensi—yang termasuk industri kreatif dan animasi—tingkatnya bahkan mencapai 74 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata industri secara nasional. Kondisi ini membuat perusahaan animasi menghadapi risiko kehilangan talenta kreatif yang sangat dibutuhkan.
Metodologi Penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh tim Universitas Trisakti menggunakan pendekatan survei kuantitatif terhadap karyawan perusahaan animasi.
Beberapa poin utama metodologi penelitian:
- Responden penelitian: 210 karyawan perusahaan animasi
- Teknik pengambilan sampel: purposive sampling
- Metode analisis: Structural Equation Modeling (SEM) menggunakan perangkat lunak AMOS.
Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis hubungan antara kepuasan gaji dan insentif, komitmen organisasi, serta niat karyawan untuk keluar dari perusahaan.
Temuan Utama Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan penting:
-
Kepuasan terhadap gaji dan insentif berpengaruh negatif terhadap turnover intention.
Semakin puas karyawan terhadap kompensasi yang diterima, semakin kecil keinginan mereka untuk meninggalkan perusahaan. -
Kepuasan gaji dan insentif juga memengaruhi komitmen organisasi.
Karyawan yang merasa dihargai secara finansial cenderung memiliki loyalitas yang lebih tinggi terhadap perusahaan. -
Komitmen organisasi menurunkan turnover intention.
Karyawan yang memiliki keterikatan emosional dan rasa memiliki terhadap perusahaan lebih cenderung bertahan. -
Komitmen organisasi berperan sebagai mediator.
Artinya, kepuasan terhadap kompensasi dapat menurunkan niat keluar dari perusahaan melalui peningkatan komitmen karyawan.
Dampak bagi Industri Animasi
Temuan ini menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya manusia menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan industri animasi. Tanpa kebijakan kompensasi yang kompetitif, perusahaan berisiko kehilangan talenta kreatif yang sangat dibutuhkan dalam industri berbasis proyek dan kreativitas tinggi.
Menurut Andreas Wahyu Gunawan Putra dari Universitas Trisakti, perusahaan animasi perlu meningkatkan kepuasan karyawan melalui penyesuaian gaji yang mengikuti standar biaya hidup dan inflasi. Selain itu, pemberian insentif berbasis kinerja serta program kesejahteraan karyawan dapat memperkuat loyalitas tenaga kerja.
Peneliti juga menekankan pentingnya membangun komitmen organisasi, misalnya melalui rotasi pekerjaan, komunikasi yang terbuka, dan pemberian umpan balik rutin agar karyawan merasa dihargai dan memiliki kontribusi nyata terhadap perusahaan.
Profil Penulis
- Andreas Wahyu Gunawan Putra – Universitas Trisakti
- Nys Nur Hikmah – Universitas Trisakti
Sumber Penelitian
Putra, A. W. G., & Hikmah, N. N. (2026). “Antecedents of Turnover Intention in the Animation Industry.” International Journal of Business and Applied Economics (IJBAE), Vol. 5 No. 2, 2026, pp. 753–766.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijbae.v5i2.23

0 Komentar