Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Bogor - Narasi SARA Dominasi Diskursus Politik Digital Saat Pemilu, Studi STIN Ungkap Pola Framing Identitas. Penelitian yang dilakukan oleh Caesya Gabrietha Nicerth Sinuraya bersama Pratama Dahlia Persadha dan Ing Suhardi dari Sekolah Tinggi Intelijen Negara Indonesia dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 3 Tahun 2026 menyoroti bahwa isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) sering dibingkai secara sistematis untuk memengaruhi persepsi publik dan memperkuat polarisasi politik di ruang digital.
Penelitian yang dilakukan oleh Caesya Gabrietha Nicerth Sinuraya bersama Pratama Dahlia Persadha dan Ing Suhardi dari Sekolah Tinggi Intelijen Negara Indonesia menyoroti bahwa bagaimana komunikasi politik digital tidak lagi sekadar debat program, tetapi berubah menjadi kontestasi identitas yang emosional dan polaristik.
Latar Belakang Bagaimana Narasi SARA Dibentuk
Penelitian ini menjadi penting karena media sosial kini menjadi arena utama pertarungan politik. Indonesia memiliki sekitar 167 juta pengguna media sosial atau sekitar 60,4 persen populasi, dan 42,3 persen warga mengandalkan media sosial sebagai sumber informasi politik. Dalam kondisi tersebut, narasi yang beredar di ruang digital sangat menentukan pembentukan opini publik. Pada saat yang sama, data menunjukkan lebih dari separuh hoaks yang beredar pada 2023 berkaitan dengan isu politik, memperlihatkan tingginya kerentanan ruang digital terhadap manipulasi informasi dan eksploitasi identitas.
Penelitian yang dilakukan oleh Caesya Gabrietha Nicerth Sinuraya bersama Pratama Dahlia Persadha dan Ing Suhardi dari Sekolah Tinggi Intelijen Negara Indonesia menyoroti bahwa bagaimana komunikasi politik digital tidak lagi sekadar debat program, tetapi berubah menjadi kontestasi identitas yang emosional dan polaristik.
Latar Belakang Bagaimana Narasi SARA Dibentuk
Penelitian ini menjadi penting karena media sosial kini menjadi arena utama pertarungan politik. Indonesia memiliki sekitar 167 juta pengguna media sosial atau sekitar 60,4 persen populasi, dan 42,3 persen warga mengandalkan media sosial sebagai sumber informasi politik. Dalam kondisi tersebut, narasi yang beredar di ruang digital sangat menentukan pembentukan opini publik. Pada saat yang sama, data menunjukkan lebih dari separuh hoaks yang beredar pada 2023 berkaitan dengan isu politik, memperlihatkan tingginya kerentanan ruang digital terhadap manipulasi informasi dan eksploitasi identitas.
Metode yang digunakan Narasi SARA Dibentuk
Penelitian ini menganalisis bagaimana narasi SARA dibentuk dalam kontroversi pemilu di media sosial, portal berita online, dan komentar politik digital. Para peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis framing, yang memeriksa bagaimana suatu isu didefinisikan, siapa yang dianggap penyebabnya, bagaimana penilaian moral dibangun, dan solusi apa yang ditawarkan dalam narasi politik digital. Selain itu, struktur bahasa, tema, dan gaya retorika dalam konten digital juga dianalisis untuk melihat pola pembingkaian identitas.
Hasil Penelitian Narasi SARA dalam Diskursus Politik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi SARA dalam diskursus politik digital muncul melalui tiga pola utama. Pertama, mobilisasi identitas. Dalam pola ini, kandidat atau kelompok politik dikaitkan dengan simbol agama atau etnis tertentu untuk memperkuat solidaritas pendukung. Narasi ini menempatkan pilihan politik sebagai bentuk loyalitas terhadap identitas kelompok, bukan pertimbangan kebijakan. Kedua, polarisasi moral. Diskursus digital sering menggambarkan satu kandidat sebagai pembela nilai moral atau agama, sementara lawannya diposisikan sebagai ancaman terhadap nilai tersebut. Pembingkaian ini menciptakan pembelahan “kami” dan “mereka” yang memperkuat konflik opini publik. Ketiga, amplifikasi emosional. Narasi politik identitas disebarkan dengan bahasa emosional, simbol keagamaan, dan metafora konflik. Konten seperti ini cenderung viral karena memicu reaksi kuat pengguna, sehingga algoritma platform digital ikut memperluas penyebarannya.
Implikasi Penelitian
Penelitian ini menganalisis bagaimana narasi SARA dibentuk dalam kontroversi pemilu di media sosial, portal berita online, dan komentar politik digital. Para peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis framing, yang memeriksa bagaimana suatu isu didefinisikan, siapa yang dianggap penyebabnya, bagaimana penilaian moral dibangun, dan solusi apa yang ditawarkan dalam narasi politik digital. Selain itu, struktur bahasa, tema, dan gaya retorika dalam konten digital juga dianalisis untuk melihat pola pembingkaian identitas.
Hasil Penelitian Narasi SARA dalam Diskursus Politik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi SARA dalam diskursus politik digital muncul melalui tiga pola utama. Pertama, mobilisasi identitas. Dalam pola ini, kandidat atau kelompok politik dikaitkan dengan simbol agama atau etnis tertentu untuk memperkuat solidaritas pendukung. Narasi ini menempatkan pilihan politik sebagai bentuk loyalitas terhadap identitas kelompok, bukan pertimbangan kebijakan. Kedua, polarisasi moral. Diskursus digital sering menggambarkan satu kandidat sebagai pembela nilai moral atau agama, sementara lawannya diposisikan sebagai ancaman terhadap nilai tersebut. Pembingkaian ini menciptakan pembelahan “kami” dan “mereka” yang memperkuat konflik opini publik. Ketiga, amplifikasi emosional. Narasi politik identitas disebarkan dengan bahasa emosional, simbol keagamaan, dan metafora konflik. Konten seperti ini cenderung viral karena memicu reaksi kuat pengguna, sehingga algoritma platform digital ikut memperluas penyebarannya.
Implikasi Penelitian
Temuan penelitian ini memiliki implikasi luas. Bagi masyarakat, hasil studi ini membantu memahami bagaimana opini publik dapat dipengaruhi melalui narasi identitas. Bagi pembuat kebijakan, penelitian ini menjadi dasar untuk merancang regulasi komunikasi politik digital. Bagi pelaku media, studi ini menunjukkan pentingnya praktik jurnalistik yang tidak memperkuat polarisasi identitas. Dalam konteks demokrasi digital yang semakin berkembang, penelitian ini menegaskan bahwa kualitas diskursus publik sangat dipengaruhi oleh cara isu politik dibingkai. Narasi identitas memang dapat memperkuat solidaritas kelompok, tetapi jika digunakan secara berlebihan, ia berpotensi memperdalam konflik sosial. Memahami mekanisme framing menjadi langkah penting untuk menjaga ruang digital tetap sehat dan mendukung demokrasi yang inklusif.
Profil Penulis
Profil Penulis
Caesya Gabrietha Nicerth Sinuraya adalah peneliti bidang komunikasi politik digital dari Sekolah Tinggi Intelijen Negara Indonesia. Penelitiannya berfokus pada analisis diskursus politik, media digital, dan dinamika identitas dalam komunikasi publik.
Pratama Dahlia Persadha merupakan akademisi dan peneliti di Sekolah Tinggi Intelijen Negara Indonesia dengan keahlian komunikasi strategis, keamanan informasi, dan analisis media digital.
Ing Suhardi adalah dosen dan peneliti di Sekolah Tinggi Intelijen Negara Indonesia yang menekuni studi komunikasi politik, kebijakan publik, serta dinamika demokrasi digital.
Sumber Penelitian
Sinuraya, C. G. N., Persadha, P. D., & Suhardi, I. (2026). Digital Political Discourse and Identity Narratives: A Framing Analysis of SARA Issues in Electoral Controversies. Formosa Journal of Applied Sciences, Vol. 5 No. 3, 917–932.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i3.33
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

0 Komentar