Program pendampingan media ajar kebun mini yang dilakukan
oleh Sutari bersama Nurul Kaya, Nurfitriana Malida, Anisa, Ramadanti, dan
Rohali Bundu dari Universitas Muhammadiyah Luwuk pada 2026 menunjukkan bahwa
kebun mini efektif sebagai sarana edukasi pelestarian lingkungan bagi anak usia
dini di TK Negeri Kombutokan. Temuan ini penting karena pembelajaran berbasis
pengalaman langsung dinilai lebih efektif dalam membangun kesadaran lingkungan
sejak dini.
Pendidikan lingkungan pada anak usia dini masih sering
terbatas pada penjelasan di dalam kelas tanpa praktik langsung. Padahal, anak
lebih mudah memahami konsep melalui aktivitas nyata yang melibatkan pengalaman
langsung. Di TK Negeri Kombutokan, guru sebelumnya belum memiliki media
pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar menanam dan merawat tanaman secara
langsung, meskipun lingkungan sekolah memiliki potensi untuk dimanfaatkan.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim peneliti melaksanakan
program selama dua hari, pada 12–13 Januari, dengan melibatkan mahasiswa, guru,
dan siswa. Kegiatan diawali dengan pendampingan kepada guru dalam membuat kebun
mini menggunakan bahan sederhana seperti ban bekas yang diisi tanah.
Selanjutnya, siswa dilibatkan dalam praktik menanam berbagai jenis tanaman
seperti terong, rica, dan tomat.
Proses ini memberikan pengalaman belajar langsung yang
menggabungkan teori dan praktik dalam satu kegiatan pembelajaran yang
kontekstual.
Hasil kegiatan menunjukkan dampak positif yang signifikan:
- Siswa lebih antusias dan aktif selama pembelajaran berlangsung
- Anak memahami proses menanam dan merawat tanaman secara langsung
- Muncul rasa tanggung jawab dalam menjaga tanaman
- Kepedulian terhadap lingkungan meningkat sejak usia dini
Observasi di halaman 7 juga menunjukkan bahwa siswa aktif
bertanya tentang proses pertumbuhan tanaman dan menunjukkan rasa ingin tahu
yang tinggi selama kegiatan berlangsung. Selain itu, guru mendapatkan
pengalaman baru dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis lingkungan yang
murah dan mudah diterapkan.
Sutari dari Universitas Muhammadiyah Luwuk menegaskan bahwa
pembelajaran berbasis kebun mini memberikan pengalaman belajar yang lebih
bermakna dibandingkan metode teoritis. Menurutnya, anak tidak hanya memahami
konsep lingkungan, tetapi juga membangun kebiasaan merawat alam melalui praktik
langsung.
Dampak program ini meluas tidak hanya pada siswa, tetapi
juga pada guru dan sekolah. Guru kini memiliki media pembelajaran yang dapat
digunakan secara berkelanjutan, sementara sekolah dapat mengembangkan kegiatan
serupa untuk memperkaya metode pembelajaran. Kebun mini juga berpotensi menjadi
laboratorium belajar sederhana yang mendukung berbagai aspek perkembangan anak,
termasuk motorik, sosial, dan kognitif.
Meski demikian, penelitian ini mencatat bahwa keberhasilan
program masih dipengaruhi oleh ketersediaan sarana dan dukungan berkelanjutan.
Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi antara sekolah, pendidik, dan pemangku
kebijakan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis lingkungan secara
lebih luas.
Dalam jangka panjang, kebun mini dapat menjadi model
pembelajaran inovatif di pendidikan anak usia dini, terutama dalam menanamkan
nilai kepedulian lingkungan sejak dini melalui pengalaman belajar yang nyata
dan menyenangkan.
Profil Penulis
- Sutari - Universitas Muhammadiyah Luwuk
- Nurul Kaya- Universitas Muhammadiyah Luwuk
- Nurfitriana Malida- Universitas Muhammadiyah Luwuk
- Anisa, Ramadanti- Universitas Muhammadiyah Luwuk
- Rohali Bundu - Universitas Muhammadiyah Luwuk
Sumber Penelitian
Sutari, Kaya, N., Malida, N., Anisa, Ramadanti, & Bundu, R. (2026). Mini
Garden Teaching Media Assistance as a Means of Environmental Conservation
Education for Early Childhood at Kombutokan State Kindergarten. Jurnal
Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), Vol. 5 No. 3, 249–256.
URL : https://journaljpmb.my.id/index.php/jpmb
DOI: https://doi.org/10.55927/jpmb.v5i3.10

0 Komentar