Edukasi Kesehatan Gigi di Dili Tingkatkan Pengetahuan Masyarakat Secara Signifikan

Ilustrasi By AI
Program edukasi kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan oleh Riadah bersama Rikha Indriastanti, Arina Manasika, Dian Yuliana Saputri, Dulce dos Santos Pinto Tilman, dan Alfan Affandi dari Program Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Ngudi Waluyo pada 2025 terbukti meningkatkan pengetahuan masyarakat di Puskesmas Formoza, Dili, Timor-Leste. Hasil ini penting karena masalah kesehatan gigi masih menjadi persoalan global yang berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat.

Kesehatan gigi dan mulut sering diabaikan, padahal kondisi yang buruk dapat menyebabkan nyeri, gangguan makan, hingga menurunkan rasa percaya diri. Secara global, penyakit seperti karies dan gangguan gusi masih menjadi penyumbang utama masalah kesehatan. Rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat menjadi faktor utama tingginya kasus tersebut.

Program edukasi ini dilaksanakan pada 17 Desember 2025 dengan melibatkan 22 peserta yang terdiri dari pasien, ibu hamil, dan pendamping pasien. Kegiatan dilakukan secara interaktif melalui penyampaian materi, demonstrasi, serta diskusi. Materi yang diberikan mencakup anatomi dasar gigi, penyebab kerusakan gigi, cara pencegahan, serta praktik menyikat gigi yang benar menggunakan alat peraga.

Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pemahaman peserta. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang nyata:

  • Peserta dengan pengetahuan rendah turun dari 50% menjadi 22,73%
  • Pengetahuan kategori sedang meningkat dari 45,45% menjadi 59,09%
  • Pengetahuan baik meningkat dari 5% menjadi 18,18%

Selain peningkatan pengetahuan, peserta juga menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, dan mengikuti praktik langsung menyikat gigi. Metode pembelajaran yang menggabungkan penjelasan visual dan praktik terbukti lebih mudah dipahami dibandingkan teori semata.

Riadah dari Universitas Ngudi Waluyo menegaskan bahwa edukasi kesehatan merupakan langkah awal dalam mendorong perubahan perilaku. Menurutnya, peningkatan pengetahuan akan membantu masyarakat lebih mandiri dalam menjaga kesehatan gigi dan mencegah penyakit sejak dini.

Dampak dari program ini tidak hanya berhenti pada peningkatan pemahaman, tetapi juga membuka peluang perubahan perilaku jangka panjang. Edukasi semacam ini dapat menjadi strategi efektif dalam upaya promotif dan preventif di layanan kesehatan primer, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses informasi kesehatan.

Penelitian ini juga menekankan pentingnya pelaksanaan edukasi secara berkelanjutan. Masih adanya peserta dengan pengetahuan rendah setelah kegiatan menunjukkan bahwa intervensi satu kali belum cukup. Kolaborasi antara tenaga kesehatan, institusi pendidikan, dan fasilitas layanan kesehatan menjadi kunci untuk meningkatkan efektivitas program di masa depan.

Profil Penulis

  • Riadah - Universitas Ngudi Waluyo
  • Rikha Indriastanti- Universitas Ngudi Waluyo
  •  Arina Manasika- Universitas Ngudi Waluyo
  •  Dian Yuliana Saputri- Universitas Ngudi Waluyo
  •  Dulce dos Santos Pinto Tilman- Universitas Ngudi Waluyo
  • Alfan Affandi- Universitas Ngudi Waluyo

Sumber Penelitian
Riadah, Indriastanti, R., Manasika, A., Saputri, D. Y., Tilman, D. dos S. P., & Affandi, A. (2026). Oral and Dental Health Education at Formoza Public Health Center, Dili, Timor-Leste. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), Vol. 5 No. 3, 195–200.

 DOI: https://doi.org/10.55927/jpmb.v5i3.2

URL : https://journaljpmb.my.id/index.php/jpmb

Posting Komentar

0 Komentar