Kesehatan gigi dan mulut sering diabaikan, padahal kondisi
yang buruk dapat menyebabkan nyeri, gangguan makan, hingga menurunkan rasa
percaya diri. Secara global, penyakit seperti karies dan gangguan gusi masih
menjadi penyumbang utama masalah kesehatan. Rendahnya pengetahuan dan kesadaran
masyarakat menjadi faktor utama tingginya kasus tersebut.
Program edukasi ini dilaksanakan pada 17 Desember 2025
dengan melibatkan 22 peserta yang terdiri dari pasien, ibu hamil, dan
pendamping pasien. Kegiatan dilakukan secara interaktif melalui penyampaian
materi, demonstrasi, serta diskusi. Materi yang diberikan mencakup anatomi
dasar gigi, penyebab kerusakan gigi, cara pencegahan, serta praktik menyikat
gigi yang benar menggunakan alat peraga.
Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk
mengukur perubahan pemahaman peserta. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang
nyata:
- Peserta dengan pengetahuan rendah turun dari 50% menjadi 22,73%
- Pengetahuan kategori sedang meningkat dari 45,45% menjadi 59,09%
- Pengetahuan baik meningkat dari 5% menjadi 18,18%
Selain peningkatan pengetahuan, peserta juga menunjukkan
antusiasme tinggi selama kegiatan. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, dan
mengikuti praktik langsung menyikat gigi. Metode pembelajaran yang
menggabungkan penjelasan visual dan praktik terbukti lebih mudah dipahami
dibandingkan teori semata.
Riadah dari Universitas Ngudi Waluyo menegaskan bahwa
edukasi kesehatan merupakan langkah awal dalam mendorong perubahan perilaku.
Menurutnya, peningkatan pengetahuan akan membantu masyarakat lebih mandiri
dalam menjaga kesehatan gigi dan mencegah penyakit sejak dini.
Dampak dari program ini tidak hanya berhenti pada
peningkatan pemahaman, tetapi juga membuka peluang perubahan perilaku jangka
panjang. Edukasi semacam ini dapat menjadi strategi efektif dalam upaya
promotif dan preventif di layanan kesehatan primer, terutama di wilayah dengan
keterbatasan akses informasi kesehatan.
Penelitian ini juga menekankan pentingnya pelaksanaan
edukasi secara berkelanjutan. Masih adanya peserta dengan pengetahuan rendah
setelah kegiatan menunjukkan bahwa intervensi satu kali belum cukup. Kolaborasi
antara tenaga kesehatan, institusi pendidikan, dan fasilitas layanan kesehatan
menjadi kunci untuk meningkatkan efektivitas program di masa depan.
Profil Penulis
- Riadah - Universitas Ngudi Waluyo
- Rikha Indriastanti- Universitas Ngudi Waluyo
- Arina Manasika- Universitas Ngudi Waluyo
- Dian Yuliana Saputri- Universitas Ngudi Waluyo
- Dulce dos Santos Pinto Tilman- Universitas Ngudi Waluyo
- Alfan Affandi- Universitas Ngudi Waluyo
Sumber Penelitian
Riadah, Indriastanti, R., Manasika, A., Saputri, D. Y., Tilman, D. dos S. P.,
& Affandi, A. (2026). Oral and Dental Health Education at Formoza Public
Health Center, Dili, Timor-Leste. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari
(JPMB), Vol. 5 No. 3, 195–200.
DOI: https://doi.org/10.55927/jpmb.v5i3.2

0 Komentar