Jakarta—
Tiga Pilar Budaya Organisasi dan Keterampilan Interpersonal Kunci Sukses
Wirausaha Ekonomi Kreatif Jakarta. Penelitian dilakukan oleh Aristo Surya
Gunawan dan Ati Cahayani dari Program Studi Administrasi Bisnis,
Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya yang dipublikasikan dalam Indonesian
Journal of Business Analytics (IJBA) edisi Februari 2026.
Penelitian
yang dilakukan oleh Aristo Surya Gunawan dan Ati Cahayani menegaskan
bahwa keberlanjutan tiga pilar budaya ini sangat bergantung pada empat
keterampilan interpersonal utama: kemampuan memengaruhi orang lain, komunikasi,
mendengarkan, serta kemampuan memahami dan bekerja sama dengan orang lain.
Ekonomi
Kreatif Butuh Lebih dari Sekadar Ide
Ekonomi
kreatif bertumpu pada kreativitas, inovasi, dan gagasan manusia. Namun,
mengubah ide menjadi bisnis berkelanjutan membutuhkan fondasi organisasi yang
kuat.
Penelitian
ini mengidentifikasi tiga pilar budaya organisasi yang dominan:
- Inovasi dan Keberanian Mengambil
Risiko
- Kenyamanan dan Stabilitas
- Orientasi Tim
Menariknya,
penekanan pada masing-masing pilar berbeda tergantung pada tahap perkembangan
bisnis.
Pilar
Pertama: Inovasi dan Keberanian Mengambil Risiko
Pelaku usaha
yang masih dalam tahap awal (kurang dari lima tahun) menilai inovasi dan
keberanian mengambil risiko sebagai budaya paling penting.
Pada fase
rintisan, bisnis harus mencari diferensiasi agar mampu bersaing. Pemilik usaha
mendorong karyawan berani mencoba ide baru dan mengambil risiko terukur.
Tanpa
kreativitas, tidak ada inovasi. Tanpa inovasi, sulit bertahan dalam persaingan.
Pilar
Kedua: Kenyamanan dan Stabilitas
Bagi pelaku
usaha yang telah berjalan lebih dari lima tahun, stabilitas menjadi prioritas
utama.
Bisnis yang
matang membutuhkan sistem manajemen yang mapan, pembagian kerja yang jelas,
serta proses produksi yang stabil. Stabilitas menciptakan kenyamanan kerja,
meningkatkan produktivitas, dan menekan tingkat turnover karyawan.
Reputasi
eksternal yang baik pun lahir dari stabilitas internal yang terjaga.
Pilar
Ketiga: Orientasi Tim
Baik pada
tahap awal maupun tahap matang, orientasi tim tetap menjadi elemen penting.
Seluruh
informan sepakat bahwa proses kerja tidak dapat dilakukan secara individual.
Kolaborasi dan kerja sama tim menjadi fondasi utama operasional bisnis.
Budaya ini
mencerminkan nilai kolektivisme, di mana keharmonisan kelompok dan tanggung
jawab bersama lebih diutamakan daripada kepentingan individu.
Empat
Keterampilan Interpersonal yang Menopang Budaya
Penelitian
ini juga mengidentifikasi empat keterampilan interpersonal yang menopang tiga
pilar budaya tersebut:
- Kemampuan Memengaruhi Orang Lain
- Keterampilan Komunikasi
- Keterampilan Mendengarkan
- Kemampuan Memahami dan Bekerja
Sama
1️⃣ Kemampuan Memengaruhi: Keterampilan
Paling Penting
Seluruh 15
informan menyatakan bahwa kemampuan memengaruhi orang lain adalah keterampilan
paling krusial.
Sebagai
pemimpin usaha, wirausaha harus mampu menggerakkan karyawan, menyelesaikan
konflik, dan memastikan tujuan organisasi tercapai. Pengaruh tidak hanya
berbentuk instruksi, tetapi juga motivasi dan negosiasi.
Sebagian
besar informan menggunakan insentif finansial sebagai salah satu cara
memotivasi dan memengaruhi karyawan.
2️⃣ Komunikasi dan Mendengarkan yang
Aktif
Para pelaku
usaha lebih memilih komunikasi tatap muka karena dinilai mampu mengurangi
kesalahpahaman dan memungkinkan klarifikasi langsung.
Mereka juga
menekankan pentingnya mendengarkan secara aktif, baik terhadap pelanggan,
pemasok, maupun karyawan. Kritik diterima selama bersifat objektif dan berbasis
fakta.
Mendengar
tanpa memahami tidak memberikan manfaat. Komunikasi efektif menuntut perhatian
dan pemahaman penuh.
3️⃣ Memahami dan Bekerja Sama
Sebagian
besar informan merasa mampu memahami dan bekerja sama dengan pihak lain,
meskipun tiga orang mengakui masih perlu meningkatkan kemampuan tersebut.
Dalam
menghadapi konflik, seluruh informan memilih pendekatan diskusi dan negosiasi
dengan tujuan mencapai solusi win-win.
Pendekatan kolaboratif menjadi gaya penyelesaian konflik yang dominan.
Hubungan
Langsung antara Budaya dan Keterampilan
Penelitian
ini menyimpulkan bahwa setiap pilar budaya organisasi membutuhkan dukungan
keterampilan interpersonal:
- Inovasi dan risiko membutuhkan
kemampuan memengaruhi, berkomunikasi, mendengarkan, dan memahami
perspektif karyawan.
- Stabilitas dan kenyamanan
membutuhkan kemampuan kerja sama, mendengarkan, dan menyelesaikan konflik.
- Orientasi tim membutuhkan
komunikasi yang efektif, empati, dan kepemimpinan yang mampu memengaruhi
anggota tim.
Keterampilan
interpersonal memperkuat budaya organisasi, sementara budaya organisasi memberi
arah pada perilaku interpersonal.
Implikasi
bagi Wirausaha Ekonomi Kreatif
Temuan ini
menegaskan bahwa keberhasilan usaha kreatif tidak hanya bergantung pada ide
inovatif, tetapi juga pada kekuatan budaya organisasi dan kualitas kepemimpinan
interpersonal.
Menurut
Aristo Surya Gunawan dan Ati Cahayani, keberlanjutan tiga pilar budaya
organisasi sangat ditentukan oleh kemampuan interpersonal pemilik usaha. Tanpa
keterampilan tersebut, nilai budaya sulit diterapkan secara konsisten dalam
operasional sehari-hari
Profil
Penulis
- Aristo Surya Gunawan- Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.
- Ati Cahayani- Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Sumber
Penelitian
Gunawan, A. S., & Cahayani, A. (2026). Three Pillars of the Organizational Cultural Framework and Interpersonal Skill of Creative Economy Entrepreneurs in Jakarta. Indonesian Journal of Business Analytics (IJBA), Vol. 6 No. 1, hlm. 71–84.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijba.v6i1.16134
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijba

0 Komentar