Struktur Naratif Panji dalam Hikayat Susunan Kuning di Negeri Gagelang

Gambar Ilustrasi AI

Penelitian UNS Ungkap Transformasi Cerita Panji dalam Hikayat Melayu Menjadi Kisah Kekuasaan dan Dinasti

Penelitian terbaru dari Bayu Aji Prasetya, M.A., Prof. Dr. Bani Sudardi, dan Dr. Asti Kurniawati dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengungkap bagaimana tradisi cerita Panji dari Jawa mengalami perubahan besar ketika masuk ke dalam sastra Melayu klasik. Studi yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Contemporary Sciences (IJCS) ini menunjukkan bahwa sebuah naskah Melayu berjudul Hikayat Susunan Kuning dalam Negeri Gagelang mengubah kisah Panji yang biasanya berfokus pada romansa menjadi narasi politik tentang kekuasaan kerajaan, perang, dan legitimasi dinasti.

Temuan ini penting karena memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi sastra yang menyebar di Asia Tenggara dapat berubah sesuai konteks budaya dan politik di tempat yang berbeda. Adaptasi tersebut memperlihatkan bahwa karya sastra klasik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana membangun gagasan tentang kepemimpinan dan kekuasaan

Tradisi Cerita Panji di Asia Tenggara

Cerita Panji merupakan salah satu tradisi sastra klasik yang sangat berpengaruh di Asia Tenggara. Kisah ini berasal dari lingkungan kerajaan di Jawa pada masa lampau dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah seperti Thailand, Kamboja, Myanmar, hingga kawasan Melayu.

Dalam bentuk aslinya, cerita Panji biasanya mengisahkan seorang pangeran yang melakukan perjalanan panjang untuk mencari kekasihnya yang hilang. Petualangan tersebut dipenuhi berbagai ujian, penyamaran, dan konflik antar kerajaan. Pada akhir cerita, sang pangeran biasanya berhasil bertemu kembali dengan sang putri dan memulihkan keseimbangan kerajaan.

Namun ketika cerita ini masuk ke dunia sastra Melayu, banyak unsur cerita yang mengalami penyesuaian. Dalam tradisi Melayu, cerita tersebut sering ditulis dalam bentuk hikayat, yaitu prosa naratif klasik yang memadukan unsur sejarah, legenda, dan nilai moral.

Proses penyesuaian ini sering disebut oleh para ahli sebagai “Malayisasi”, yaitu adaptasi cerita asing agar sesuai dengan nilai budaya dan struktur politik masyarakat Melayu.

Naskah Hikayat dari Abad ke-19

Objek utama penelitian ini adalah naskah Hikayat Susunan Kuning dalam Negeri Gagelang (HSK). Naskah tersebut merupakan manuskrip Melayu yang disalin pada tahun 1820 oleh seorang penulis bernama Ja’in Abdurrahman di Batavia.

Penyalinan naskah dilakukan atas permintaan seorang pejabat kolonial Belanda bernama Kolonel Jan David van Schelle. Saat ini manuskrip tersebut disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, dengan kode koleksi Or. 1755.

Berbeda dengan cerita Panji yang umum dikenal, hikayat ini berpusat pada tokoh Susunan Kuning, seorang penguasa kuat dari kerajaan Gagelang. Dalam cerita tersebut, Susunan Kuning menaklukkan kerajaan Daha dan mengalahkan rajanya, Pakubuwana Jaya Negara.

Setelah kemenangan tersebut, Susunan Kuning kemudian mengangkat putranya sebagai penguasa baru di kerajaan yang telah ditaklukkan. Alur cerita ini menunjukkan bahwa fokus utama hikayat bukan lagi pencarian cinta, melainkan ekspansi kekuasaan dan pembentukan dinasti kerajaan.

Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Sebelas Maret menggunakan pendekatan kualitatif dalam kajian filologi dan sastra klasik.

Para peneliti menganalisis struktur naratif hikayat dengan memperhatikan beberapa unsur utama, antara lain:

  • karakter tokoh utama dan tokoh pendukung
  • latar tempat dan kerajaan yang muncul dalam cerita
  • motif perjalanan dan peperangan
  • pola konflik serta hubungan kekuasaan antar kerajaan

Naskah dianalisis melalui pembacaan mendalam terhadap teks transliterasi, kemudian dibandingkan dengan pola umum cerita Panji yang berkembang di Jawa dan wilayah Asia Tenggara lainnya.

Pendekatan ini membantu peneliti memahami bagaimana struktur cerita Panji dipertahankan, tetapi makna dan pesan narasinya mengalami perubahan.

Temuan Utama Penelitian

Penelitian ini menemukan beberapa perubahan penting dalam struktur cerita Panji yang muncul dalam Hikayat Susunan Kuning dalam Negeri Gagelang.

1. Tokoh utama menjadi figur penakluk

Dalam cerita Panji klasik, tokoh utama biasanya adalah pangeran pengembara yang mencari kekasihnya.

Namun dalam hikayat ini, Susunan Kuning digambarkan sebagai pemimpin militer yang kuat dan penakluk kerajaan lain.

Karakteristik tokoh utama antara lain:

  • pemimpin yang berani dalam peperangan
  • memiliki kekuatan luar biasa
  • mampu memperluas wilayah kekuasaan kerajaan

Tokoh ini lebih menyerupai raja penakluk dibandingkan pahlawan romantis.

2. Peran perempuan berubah menjadi simbol dinasti

Dalam cerita Panji tradisional, tokoh perempuan seperti Candra Kirana memiliki peran penting sebagai pusat konflik dan tujuan perjalanan sang pangeran.

Dalam hikayat ini, tokoh perempuan memiliki fungsi yang berbeda. Mereka lebih sering muncul sebagai:

  • permaisuri kerajaan
  • ibu dari pewaris tahta
  • penghubung aliansi antar kerajaan

Dengan demikian, pernikahan dalam cerita berfungsi sebagai strategi politik untuk memperkuat kekuasaan.

3. Dunia cerita dipenuhi kerajaan dan konflik politik

Hikayat ini menggambarkan jaringan kerajaan yang luas, di antaranya:

  • Gagelang
  • Daha
  • Majapahit
  • Darwati
  • Tuban
  • Kuripan
  • Palinggam Cahaya
  • Zamin Umbara

Kerajaan-kerajaan tersebut menjadi latar berbagai konflik politik dan peperangan yang membentuk alur cerita.

Deskripsi kota dan istana sering menekankan kekuatan militer, pasukan penjaga, serta kemegahan kerajaan.

4. Perjalanan berubah menjadi ekspedisi politik

Dalam cerita Panji klasik, perjalanan tokoh utama biasanya berkaitan dengan pencarian identitas atau cinta.

Namun dalam hikayat ini, perjalanan lebih sering berkaitan dengan:

  • ekspedisi militer
  • misi diplomatik
  • penaklukan wilayah baru

Perubahan ini menunjukkan bahwa narasi Panji telah diubah menjadi kisah kepemimpinan dan ekspansi kekuasaan.

Dampak dan Makna Penelitian

Penelitian ini menunjukkan bahwa karya sastra klasik memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat kuat ketika berpindah dari satu budaya ke budaya lain.

Struktur dasar cerita Panji tetap dipertahankan, tetapi makna cerita berubah sesuai dengan konteks politik dan sosial masyarakat Melayu pada masa itu.

Menurut Bayu Aji Prasetya dari Universitas Sebelas Maret, hikayat ini memperlihatkan bagaimana tradisi Panji dapat berkembang menjadi narasi heroik yang menekankan ekspansi wilayah, stabilitas politik, dan legitimasi kekuasaan kerajaan.

Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi studi sastra Asia Tenggara karena menunjukkan hubungan budaya yang erat antara tradisi Jawa dan Melayu.

Selain itu, penelitian ini juga membantu para peneliti memahami bagaimana karya sastra klasik dapat mencerminkan ideologi politik dan konsep kepemimpinan pada masa lampau.

Profil Penulis

Bayu Aji Prasetya, M.A.
Dosen dan peneliti di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Bidang keahlian: filologi, sastra Melayu klasik, dan tradisi naratif Asia Tenggara.

Prof. Dr. Bani Sudardi
Guru Besar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret. Fokus penelitian meliputi sastra Indonesia, budaya Jawa, dan kajian naratif tradisional.

Dr. Asti Kurniawati
Dosen di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret. Keahlian utama pada filologi, studi manuskrip, dan sastra klasik Nusantara.

Sumber Penelitian


Posting Komentar

0 Komentar