Jakarta — Sinergi Filsafat Ilmu
Pertahanan dan Moral dalam Meningkatkan Kemampuan Dasar Bela Negara. Penelitian
ini dilakukan oleh Mohadib, Andriansyah, Taufiqurokhman, dan Azhar Fathoni dari
Universitas Muhammadiyah Jakarta dan dipublikasikan dalam East Asian Journal
of Multidisciplinary Research (EAJMR) pada Februari 2026.
Penelitian yang dilakukan oleh Mohadib,
Andriansyah, Taufiqurokhman, dan Azhar Fathoni mengungkapkan bahwa kekuatan
pertahanan nasional tidak cukup hanya bertumpu pada teknologi militer dan
strategi keamanan. Fondasi filosofis ilmu pertahanan dan integritas moral
menjadi kunci dalam membangun kemampuan dasar bela negara yang berkelanjutan
dan berkeadilan.
Pertahanan
bukan hanya soal kekuatan militer
Dalam
artikelnya, para peneliti menjelaskan bahwa filsafat ilmu pertahanan membantu
negara memahami ancaman secara sistematis, rasional, dan berbasis data. Ilmu
pengetahuan menyediakan metode observasi, pengukuran, analisis, serta prediksi
terhadap berbagai risiko keamanan, mulai dari konflik fisik hingga ancaman
siber dan krisis global.
Namun, mereka
menekankan bahwa kemajuan ilmu tanpa panduan moral berpotensi melahirkan penyalahgunaan
kekuatan. Kebijakan pertahanan harus tetap berpijak pada prinsip keadilan,
kebenaran, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Penelitian ini
memandang moral sebagai pedoman etis dalam penggunaan kekuatan militer maupun
kebijakan keamanan. Dalam situasi konflik, negara dituntut menggunakan kekuatan
secara proporsional dan mempertimbangkan dampaknya terhadap warga sipil dan
lingkungan.
Pendidikan
sebagai fondasi bela negara
Studi ini
menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menganalisis hubungan antara
filsafat ilmu pertahanan, nilai moral, dan kebijakan bela negara. Hasilnya
menunjukkan bahwa penguatan kemampuan dasar bela negara tidak bisa dilepaskan
dari sistem pendidikan.
Konsep bela
negara, sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi, dinilai perlu diintegrasikan
ke dalam kurikulum formal sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.
Pendidikan tidak hanya menanamkan pemahaman teknologi dan strategi pertahanan,
tetapi juga membentuk karakter, kesadaran hukum, dan tanggung jawab sosial.
Para peneliti
mencatat beberapa temuan utama:
- Ilmu pengetahuan meningkatkan efektivitas strategi
pertahanan berbasis data dan riset.
- Moral memastikan penggunaan kekuatan negara tetap
sesuai prinsip kemanusiaan.
- Integrasi pendidikan bela negara membangun kesadaran
kolektif dan partisipasi publik.
- Kemampuan bela negara melibatkan aspek militer,
sipil, ekonomi, dan sosial secara terpadu.
Kemampuan dasar
bela negara, menurut penelitian ini, bukan semata tanggung jawab militer.
Kesiapsiagaan sipil, ketahanan ekonomi, literasi keamanan, dan partisipasi
masyarakat menjadi bagian integral dari sistem pertahanan nasional.
Tantangan
ancaman modern dan siber
Riset ini juga
menyoroti perubahan karakter ancaman global. Serangan siber, disinformasi,
krisis energi, dan perubahan iklim menjadi tantangan baru yang membutuhkan
pendekatan ilmiah yang adaptif. Penguasaan teknologi keamanan siber, kecerdasan
buatan, serta analisis data besar dinilai penting. Namun, kebijakan keamanan
digital tetap harus menjaga etika, privasi, dan hak warga negara.
Penulis
menegaskan bahwa legitimasi publik menjadi faktor krusial. Masyarakat cenderung
mendukung kebijakan pertahanan jika melihat adanya transparansi, akuntabilitas,
dan komitmen terhadap nilai moral.
Sinergi ilmu
dan moral sebagai strategi berkelanjutan
Penelitian ini
menyimpulkan bahwa sinergi antara filsafat ilmu pertahanan dan moral
menciptakan keseimbangan antara kecerdasan strategis dan integritas etis. Ilmu
memberi kekuatan dan kemampuan analitis, sementara moral memberi arah dan
batasan.
“Strategi
pertahanan yang berkelanjutan harus memadukan kecanggihan ilmiah dengan
tanggung jawab moral,” tulis para peneliti dalam artikelnya.
Mereka juga
merekomendasikan penelitian lanjutan berbasis studi empiris di lembaga pendidikan
dan pelatihan pertahanan untuk mengukur efektivitas integrasi nilai moral dalam
penguatan kemampuan bela negara.
Implikasi
bagi kebijakan publik
Hasil studi ini
menawarkan beberapa rekomendasi strategis:
1.
Integrasi pendidikan bela negara berbasis nilai
moral dalam kurikulum nasional.
2.
Pengembangan kebijakan pertahanan berbasis riset
ilmiah dan data akurat.
3.
Penguatan literasi keamanan dan kesadaran publik
terhadap ancaman non-konvensional.
4.
Penegakan prinsip keadilan dan hak asasi manusia
dalam setiap kebijakan pertahanan.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa pertahanan nasional yang kokoh tidak
hanya dibangun melalui alutsista dan teknologi, tetapi juga melalui pembentukan
karakter bangsa.
Profil
penulis
1.
Mohadib – Universitas Muhammadiyah
Jakarta.
2.
Andriansyah – Universitas Muhammadiyah
Jakarta.
3.
Taufiqurokhman – Universitas Muhammadiyah
Jakarta.
4.
Azhar Fathoni – Universitas Muhammadiyah
Jakarta.
Sumber
penelitian
Mohadib, Andriansyah,
Taufiqurokhman, & Fathoni. (2026). Synergy of Defense Science Philosophy
and Morals in Improving Basic National Defense Skills.
East Asian Journal
of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 2, hlm. 745–754.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i2.34
URL Resmi : https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar