Purwokerto—
Riset UMP: Manfaat dan Kemudahan
Tingkatkan Niat Beli di TikTok Shop, Risiko Jadi Penghambat. Penelitian ini dilakukan oleh Wahyu
Ghani Febri Setioko, S.E., M.M., Dian Widyaningtyas, S.E., M.M., Purnadi,
S.E., M.M., dan Arini Hidayah, S.E., M.M. dari Fakultas Ekonomi
dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) yang dipublikasikan
di Indonesian Journal of Business Analytics (IJBA) edisi Februari 2026.
Penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Ghani Febri Setioko, S.E., M.M., Dian Widyaningtyas, S.E., M.M., Purnadi, S.E., M.M., dan Arini Hidayah, S.E., M.M. mengungkapkan bahwa persepsi manfaat, kemudahan penggunaan, dan kepercayaan terbukti meningkatkan niat beli konsumen di TikTok Shop, sementara persepsi risiko justru menurunkannya.
Mengapa
TikTok Shop Perlu Dikaji?
TikTok
Shop bukan sekadar marketplace. Platform ini menggabungkan video pendek, live
streaming, promosi influencer, serta fitur pembelian instan dalam satu
ekosistem.
Namun
di balik kemudahan tersebut, muncul sejumlah persoalan:
- Produk
tidak sesuai dengan deskripsi saat live.
- Keterlambatan
pengiriman.
- Kekhawatiran
keamanan data dan transaksi.
- Biaya
pemrosesan pesanan tambahan.
Di
Kebumen, fenomena ini juga terjadi. Banyak konsumen tertarik karena promosi
agresif dan tampilan visual menarik, tetapi sebagian mengalami kekecewaan
akibat ketidaksesuaian barang.
Kondisi
inilah yang mendorong tim peneliti UMP menguji empat faktor utama yang
memengaruhi niat beli:
- Perceived
Benefit (Persepsi Manfaat)
- Trust
(Kepercayaan)
- Perceived
Risk (Persepsi Risiko)
- Perceived
Ease of Use (Persepsi Kemudahan Penggunaan)
Metode:
Survei 150 Pengguna Aktif
Penelitian
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 150
responden pengguna aktif TikTok Shop di Kabupaten Kebumen.
Kriteria
responden:
- Usia
minimal 17 tahun
- Berdomisili
di Kebumen
- Pernah
menggunakan TikTok Shop
Data
dianalisis menggunakan metode PLS-SEM (Partial Least Squares Structural
Equation Modeling) untuk menguji hubungan antarvariabel.
Profil
responden menunjukkan mayoritas:
- Berusia
26–35 tahun (61%)
- Perempuan
(57%)
- Pendidikan
D3/S1 (58%)
- Bekerja
sebagai karyawan swasta
- Berpenghasilan
Rp2,5–5 juta per bulan
Artinya,
pengguna TikTok Shop didominasi kelompok usia produktif dengan daya beli
menengah.
Temuan
Utama Penelitian
Model
penelitian memiliki kekuatan prediksi tinggi dengan Adjusted R² sebesar 0,718,
yang berarti 71,8% variasi niat beli dapat dijelaskan oleh keempat variabel
tersebut
Berikut
hasil pengujiannya:
1️⃣ Persepsi Manfaat → Berpengaruh
Positif dan Signifikan
Semakin
besar manfaat yang dirasakan — seperti harga promo, kemudahan mencari produk,
efisiensi waktu — semakin tinggi niat beli konsumen.
Nilai
statistik menunjukkan pengaruh signifikan (p = 0,001)
Artinya,
diskon, gratis ongkir, dan fitur interaktif benar-benar mendorong transaksi.
2️⃣ Kepercayaan → Berpengaruh Positif dan
Signifikan
Kepercayaan
terhadap sistem pembayaran, keamanan data, dan kejujuran informasi produk
meningkatkan niat beli.
Meski
pengaruhnya lebih kecil dibanding variabel lain, hasilnya tetap signifikan (p =
0,044)
Dalam
konteks social commerce yang sangat visual dan impulsif, trust menjadi fondasi
utama keputusan pembelian.
3️⃣ Persepsi Risiko → Berpengaruh Negatif
dan Signifikan
Semakin
tinggi risiko yang dirasakan — seperti barang tidak sesuai, potensi kerugian
finansial, atau keterlambatan pengiriman — semakin rendah niat beli.
Hasil
uji menunjukkan pengaruh negatif yang sangat signifikan (p = 0,000)
Ini
menjadi alarm bagi platform dan seller. Risiko bukan sekadar keluhan kecil,
tetapi faktor nyata yang menahan transaksi.
4️⃣ Persepsi Kemudahan Penggunaan →
Pengaruh Paling Kuat
Kemudahan
navigasi, tampilan jelas, dan proses pembayaran cepat memiliki pengaruh paling
besar terhadap niat beli (p = 0,000)
Semakin
mudah aplikasi digunakan, semakin tinggi kemungkinan konsumen bertransaksi.
Namun
peneliti juga mencatat sisi lain: kemudahan yang terlalu instan dapat membuat
konsumen mengabaikan detail produk, yang kemudian memicu kekecewaan.
Apa
Dampaknya bagi Pelaku Usaha dan Platform?
Penelitian
ini memberikan beberapa implikasi strategis:
🔹 Bagi TikTok Shop dan platform sejenis
- Tingkatkan
transparansi deskripsi produk.
- Perkuat
sistem retur dan perlindungan konsumen.
- Perjelas
informasi biaya tambahan.
- Bangun
sistem rating dan review yang kredibel.
🔹 Bagi Seller dan Influencer
- Hindari
klaim berlebihan saat live.
- Pastikan
visual dan deskripsi sesuai kondisi barang.
- Bangun
reputasi jangka panjang, bukan sekadar penjualan cepat.
🔹 Bagi Pembuat Kebijakan
- Perlu
pengawasan kualitas produk live commerce.
- Edukasi
konsumen tentang literasi digital dan risiko transaksi online.
Menurut
Wahyu Ghani Febri Setioko dan tim dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto,
kombinasi antara manfaat yang jelas, kemudahan penggunaan, dan manajemen risiko
yang baik dapat menciptakan pengalaman belanja yang lebih sehat dan
berkelanjutan.
Profil
Penulis
- Wahyu Ghani Febri Setioko, S.E., M.M._ Universitas Muhammadiyah Purwokerto
- Dian Widyaningtyas, S.E., M.M._
Universitas Muhammadiyah
Purwokerto
- Purnadi, S.E., M.M._ Akademisi di bidang manajemen bisnis dan strategi digital.
- Arini Hidayah, S.E., M.M._ Peneliti
bidang perilaku konsumen dan ekonomi digital.
Sumber
Penelitian
Setioko, W.G.F., Widyaningtyas, D.,
Purnadi, & Hidayah, A. (2026).
The Influence of Perceived Benefits, Trust, Perceived Risk, and Perceived
Ease of Use on Purchase Intentions on the TikTok Shop Application. Indonesian Journal of Business Analytics (IJBA), Vol. 6 No. 1, Februari
2026, hlm. 13–32.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijba.v6i1.15976
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijba

0 Komentar