Program Ekonomi Kreatif Bogor Dinilai Efektif, Kendala Utama Ada pada Keterbatasan Anggaran


Gambar dibuat oleh AI

Program pengembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Bogor terbukti mampu meningkatkan keterlibatan pelaku ekonomi kreatif dalam berbagai event budaya dan pariwisata. Temuan ini disampaikan oleh Faisal Tri Ramdani bersama Shifa Nursahwa, Euis Salbiah, dan Robby Firliandoko dari Universitas Djuanda dalam penelitian yang dipublikasikan tahun 2026. Studi ini penting karena menunjukkan bagaimana kebijakan daerah dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat sektor pariwisata berbasis kreativitas.

Penelitian ini berfokus pada implementasi program yang dijalankan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (DISPAREKRAF) Kabupaten Bogor dalam mendukung pelaku ekonomi kreatif agar terlibat aktif dalam event budaya dan pariwisata. Hasilnya menunjukkan bahwa program berjalan dengan kategori “baik” hingga “sangat baik”, meski masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait sumber daya.

Latar belakang penelitian ini berangkat dari posisi ekonomi kreatif sebagai sektor strategis di Indonesia. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional terus meningkat, dari 7,44% pada 2019 menjadi 8,03% pada 2024. Kabupaten Bogor sendiri memiliki potensi besar dengan sekitar 13 juta kunjungan wisatawan, serta dominasi sektor kuliner, kriya, dan fesyen dalam ekonomi kreatifnya.

Meski potensinya besar, pelaku ekonomi kreatif masih menghadapi berbagai tantangan. Di antaranya adalah keterbatasan kemampuan branding, rendahnya pemanfaatan teknologi digital, serta manajemen usaha yang belum optimal. Kondisi ini membuat kontribusi mereka dalam event budaya dan pariwisata belum maksimal.

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 66 responden, terdiri dari 11 aparatur DISPAREKRAF dan 50 pelaku ekonomi kreatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, observasi, dan studi literatur. Analisis mengacu pada model implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn yang mencakup enam dimensi utama, mulai dari standar kebijakan hingga kondisi sosial ekonomi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program secara keseluruhan berada pada kategori baik hingga sangat baik. Aparatur pemerintah memberikan skor rata-rata 4,11 (kategori baik), sementara pelaku ekonomi kreatif memberikan skor 4,31 (kategori sangat baik).

Dimensi dengan nilai tertinggi adalah standar dan tujuan kebijakan. Pelaku ekonomi kreatif menilai program memiliki tujuan yang jelas dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan program sudah tepat sasaran.

Komunikasi antar lembaga juga dinilai efektif. Informasi terkait program dan event dapat diterima dengan baik oleh pelaku ekonomi kreatif. Selain itu, kolaborasi dengan sektor swasta dan UMKM dinilai mampu memperluas peluang usaha dan meningkatkan keberhasilan event.

Dari sisi pelaksanaan, aparatur DISPAREKRAF dinilai memiliki kapasitas yang memadai. Mereka dianggap profesional, mampu mengelola program dengan baik, serta memberikan pendampingan yang dibutuhkan oleh pelaku ekonomi kreatif.

Dampak ekonomi dari program ini juga cukup signifikan. Pelaku ekonomi kreatif merasakan peningkatan peluang usaha dan pendapatan setelah terlibat dalam event budaya dan pariwisata. Hal ini menunjukkan bahwa program tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga memberikan manfaat nyata.

Namun demikian, penelitian ini juga mengungkap sejumlah kendala. Dimensi sumber daya menjadi aspek dengan nilai terendah. Keterbatasan anggaran menjadi salah satu hambatan utama dalam pelaksanaan program. Selain itu, luasnya wilayah Kabupaten Bogor menyebabkan distribusi informasi dan jangkauan program belum merata.

Sebagian pelaku ekonomi kreatif juga menunjukkan sikap apatis terhadap program pemerintah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam meningkatkan partisipasi mereka.

Untuk mengatasi kendala tersebut, pemerintah daerah mengembangkan sejumlah strategi. Salah satunya adalah program “Temu Simpul” yang bertujuan menghubungkan komunitas ekonomi kreatif di berbagai wilayah. Selain itu, pemerintah juga memperkuat kolaborasi dengan KABEKRAF serta menjalin kerja sama dengan pihak swasta dan investor.

Upaya lain dilakukan melalui peningkatan komunikasi dan pemanfaatan media untuk memperluas sosialisasi program. Langkah ini diharapkan mampu menjangkau lebih banyak pelaku ekonomi kreatif dan meningkatkan keterlibatan mereka.

Penelitian ini menunjukkan bahwa program ekonomi kreatif memiliki dampak luas. Bagi masyarakat, program ini membuka peluang kerja dan meningkatkan pendapatan. Bagi pemerintah, program ini memperkuat strategi pembangunan berbasis kreativitas. Sementara bagi pelaku usaha, program ini memperluas jaringan dan peluang pasar.

Faisal Tri Ramdani dari Universitas Djuanda menegaskan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan sektor swasta. Sinergi ini menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Penelitian ini berjudul “Implementation of Creative Economy Development Programs in Supporting the Involvement of Creative Economy Actors” yang dipublikasikan dalam International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS), Vol. 4 No. 3 tahun 2026. Artikel ini dapat diakses melalui DOI https://doi.org/10.59890/ijarss.v4i3.207.

Temuan ini menegaskan bahwa ekonomi kreatif memiliki potensi besar sebagai motor pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan penguatan kolaborasi dan optimalisasi sumber daya, sektor ini berpeluang menjadi tulang punggung ekonomi masa depan.

Posting Komentar

0 Komentar