Pekalongan- Aktivitas Fisik dan Faktor Genetik
Tidak Terbukti Picu Hipertensi Usia Produktif di Pekalongan. Penelitian ini
dilakukan oleh Alvatika Qurnia, Imam Purnomo, dan Nur Lu’lu dari Program Studi
Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Pekalongan dan
dipublikasikan dalam International Journal of Education and Life Sciences
(IJELS) Vol. 4 No. 2 (Februari 2026)
Penelitian
dilakukan oleh Alvatika Qurnia, Imam Purnomo, dan Nur Lu’lu menunjukkan bahwa
dua faktor yang selama ini dianggap pemicu utama—aktivitas fisik dan faktor genetik—tidak
terbukti berpengaruh signifikan terhadap kejadian hipertensi pada kelompok usia
15–59 tahun.
Hipertensi Mengancam Usia Produktif
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI)
2023 menunjukkan bahwa hipertensi tidak lagi didominasi kelompok lansia.
Prevalensi pada usia 15–20 tahun mencapai 10,7 persen, sedangkan usia 25–34
tahun sebesar 17,4 persen. Secara global, WHO memperkirakan 33 persen populasi
dunia mengalami hipertensi, dengan dua pertiga kasus terjadi di negara
berkembang.
Di Jawa Tengah, prevalensi hipertensi
mencapai 37,57 persen, dengan angka sedikit lebih tinggi pada perempuan
dibanding laki-laki.
Tingginya kasus pada usia produktif
menjadi perhatian karena berpotensi menurunkan produktivitas kerja,
meningkatkan beban ekonomi keluarga, serta memperbesar tekanan pada sistem
layanan kesehatan.
Studi Kasus-Kontrol terhadap 100
Responden
Penelitian menggunakan desain
observasional analitik dengan pendekatan kasus–kontrol. Sampel terdiri dari:
- 50
responden dengan hipertensi (kasus)
- 50
responden tanpa hipertensi (kontrol)
Data dikumpulkan melalui wawancara
menggunakan kuesioner tertutup serta pengukuran tekanan darah. Analisis
dilakukan dengan uji Chi-square untuk melihat hubungan antara aktivitas fisik,
faktor genetik, dan kejadian hipertensi.
Mayoritas responden berada pada kelompok usia 44–48 tahun (27 persen), dengan tingkat pendidikan terbanyak SMP (57 persen).
Mayoritas Responden Aktivitas Fisik
Ringan
Hasil univariat menunjukkan:
- 57
persen responden melakukan aktivitas fisik ringan
- 27
persen aktivitas sedang
- 16
persen aktivitas berat
Sementara itu, 55 persen responden memiliki riwayat keluarga hipertensi, dan 45 persen tidak memiliki riwayat genetik.
Tidak Ada Hubungan Signifikan
Hasil analisis bivariat menunjukkan:
- Aktivitas
fisik → p =
0,109 (>0,05)
- Faktor
genetik → p =
0,230 (>0,05)
Nilai tersebut menunjukkan tidak ada
hubungan signifikan antara kedua faktor tersebut dengan kejadian hipertensi
pada usia produktif di Desa Kedungwuni Timur tahun 2025.
Odds Ratio aktivitas fisik kategori ringan–sedang sebesar 2,385 dengan interval kepercayaan yang melewati angka 1, sehingga tidak dapat disimpulkan sebagai faktor risiko. Sementara faktor genetik memiliki OR 1,758, juga tidak signifikan secara statistik.
Mengapa Tidak Berpengaruh?
Peneliti menjelaskan bahwa sebagian
besar responden memiliki pola aktivitas yang relatif homogen. Banyak responden
tetap aktif bekerja atau melakukan aktivitas rutin sehari-hari, sehingga
variasi aktivitas fisik tidak terlalu mencolok.
Selain itu, meskipun faktor genetik
dapat meningkatkan kerentanan terhadap hipertensi, kondisi tersebut tidak
berdiri sendiri. Faktor lain seperti usia, pola makan tinggi garam, stres,
obesitas, dan kebiasaan merokok dapat berperan lebih dominan.
Temuan ini sejalan dengan sejumlah penelitian sebelumnya yang juga tidak menemukan hubungan signifikan antara aktivitas fisik maupun faktor genetik dengan hipertensi pada kelompok usia tertentu.
Tantangan Lapangan
Penelitian ini juga menghadapi
sejumlah kendala, antara lain:
- Responden
usia produktif sulit ditemui karena bekerja di luar rumah
- Beberapa
responden dengan pendidikan rendah memerlukan penjelasan tambahan saat
wawancara
- Potensi
bias ingatan terkait riwayat keluarga hipertensi
Meski demikian, dukungan pemerintah desa dan Puskesmas Kedungwuni I membantu kelancaran proses pengumpulan data.
Implikasi Kebijakan Kesehatan
Hasil studi ini menegaskan bahwa
pencegahan hipertensi pada usia produktif tidak dapat hanya berfokus pada
aktivitas fisik dan faktor keturunan.
Upaya pencegahan perlu diarahkan pada:
- Edukasi
gaya hidup sehat
- Pengurangan
konsumsi garam
- Pengendalian
stres
- Skrining
tekanan darah rutin
- Promosi
perilaku hidup bersih dan sehat
Puskesmas sebagai fasilitas layanan kesehatan primer diharapkan memperkuat program promotif dan preventif untuk menekan angka hipertensi di masyarakat.
Kesimpulan
Penelitian di Desa Kedungwuni Timur
menunjukkan bahwa aktivitas fisik dan faktor genetik tidak memiliki pengaruh
signifikan terhadap kejadian hipertensi pada usia produktif tahun 2025.
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa
hipertensi merupakan penyakit multifaktorial, yang dipengaruhi oleh kombinasi
berbagai faktor risiko, bukan hanya aktivitas fisik dan keturunan.
Pendekatan pencegahan berbasis edukasi dan perubahan gaya hidup tetap menjadi strategi utama untuk mengendalikan hipertensi di masyarakat.
Profil Penulis
- Alvatika Qurnia- Universitas Pekalongan.
- Imam Purnomo & Nur Lu’lu- Universitas Pekalongan
Sumber Penelitian
Qurnia, A., Purnomo, I., & Lu’lu,
N. (2026). The Effect of Genetic Factors and Physical Activity on the
Incidence of Hypertension among the Productive-Age Population in Kedungwuni
Timur Village, Kedungwuni District, Pekalongan Regency.
International Journal of Education and
Life Sciences (IJELS), Vol. 4 No. 2, 185–198. DOI: https://doi.org/10.59890/ijels.v4i2.274
URL: https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijels

0 Komentar