Pupuk Ramah Lingkungan Berbasis Zeolit dan Limbah Kulit Lai Tingkatkan Pengetahuan Petani Samarinda
Program pengenalan teknologi pupuk lepas lambat berbasis green chemistry berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani di Desa Lempake, Samarinda. Kegiatan ini dipimpin oleh Hajar Anuar bersama tim peneliti dari Universitas Mulawarman, dan dipublikasikan pada 2026 dalam Indonesian Journal of Society Development. Program ini penting karena menawarkan solusi praktis atas ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang mahal dan berdampak negatif bagi lingkungan.
Penelitian ini melibatkan 30 petani dari kelompok tani Karya Mandiri dan Sedap Malam. Melalui pelatihan langsung dan pendampingan, petani diajarkan cara membuat pupuk ramah lingkungan dari bahan lokal seperti zeolit, karbon aktif dari kulit buah lai, kompos, dan pupuk kandang. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman petani, sekaligus membuka peluang praktik pertanian berkelanjutan.
Ketergantungan Pupuk Kimia Jadi Masalah Serius
Selama beberapa dekade terakhir, praktik pertanian modern sangat bergantung pada pupuk kimia. Namun, penggunaan berlebihan justru menimbulkan berbagai masalah seperti penurunan kualitas tanah, pencemaran air, dan rendahnya efisiensi penyerapan unsur hara oleh tanaman.
Di Samarinda, khususnya Desa Lempake, kondisi ini diperparah oleh kenaikan harga pupuk kimia dan ketersediaannya yang tidak stabil. Banyak petani terpaksa mengurangi dosis pupuk, yang berujung pada penurunan produktivitas.
Situasi ini mendorong para peneliti dari Universitas Mulawarman untuk memperkenalkan alternatif pupuk berbasis prinsip green chemistry, yang lebih ramah lingkungan dan memanfaatkan sumber daya lokal.
Metode Pelatihan: Dari Teori ke Praktik Langsung
Program ini dirancang sebagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan pendekatan partisipatif. Kegiatan dilakukan dalam tiga tahap utama:
-
Persiapan
Survei lapangan dan identifikasi masalah petani, serta penyusunan materi pelatihan. -
Pelaksanaan
Pelatihan teori green chemistry dan demonstrasi pembuatan pupuk lepas lambat, dilanjutkan praktik langsung oleh petani. -
Evaluasi
Pengukuran peningkatan pengetahuan melalui pre-test dan post-test, serta survei kepuasan peserta.
Formula pupuk yang diajarkan terdiri dari:
- 30% zeolit alami
- 20% karbon aktif dari kulit lai (Durio kutejensis)
- 40% kompos
- 10% pupuk kandang
Kombinasi ini dirancang untuk menyimpan dan melepaskan nutrisi secara bertahap sesuai kebutuhan tanaman.
Hasil Utama: Pengetahuan Petani Meningkat Tajam
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan:
- Nilai pre-test petani hanya berkisar 30–40%
- Setelah pelatihan, nilai post-test meningkat menjadi 80–90%
- Tingkat kepuasan peserta mencapai 88–95%
Peningkatan ini menunjukkan bahwa metode pelatihan yang menggabungkan teori dan praktik langsung sangat efektif. Petani tidak hanya memahami konsep pupuk ramah lingkungan, tetapi juga mampu memproduksinya secara mandiri.
Menurut tim peneliti dari Universitas Mulawarman, keberhasilan ini menunjukkan bahwa transfer teknologi sederhana dapat memberikan dampak besar jika disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Cara Kerja Pupuk Lepas Lambat
Pupuk yang dikembangkan dalam program ini memiliki mekanisme kerja yang berbeda dari pupuk kimia biasa.
- Zeolit berfungsi sebagai penyimpan nutrisi karena memiliki struktur berpori dan kemampuan pertukaran ion tinggi.
- Karbon aktif (biochar) membantu menyerap air dan nutrisi, sekaligus memperbaiki struktur tanah.
- Kompos dan pupuk kandang menyediakan unsur hara organik yang dibutuhkan tanaman.
Kombinasi ini memungkinkan nutrisi dilepaskan secara perlahan, sehingga:
- Penyerapan nutrisi lebih efisien
- Risiko pencucian nutrisi berkurang
- Tanah menjadi lebih subur dalam jangka panjang
Dampak Nyata bagi Petani dan Lingkungan
Program ini memberikan manfaat langsung bagi masyarakat:
- Mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia mahal
- Meningkatkan keterampilan petani dalam produksi pupuk mandiri
- Memanfaatkan limbah lokal seperti kulit buah lai
- Mendorong pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan
Selain itu, penggunaan limbah biomassa sebagai bahan baku pupuk membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Limbah yang sebelumnya tidak bernilai kini dapat diolah menjadi produk bermanfaat.
Tim peneliti menekankan bahwa pendekatan ini tidak hanya meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem.
Implikasi Lebih Luas untuk Kebijakan Pertanian
Temuan ini relevan bagi pengembangan kebijakan pertanian di Indonesia. Dengan meningkatnya harga pupuk kimia dan tekanan terhadap lingkungan, teknologi pupuk berbasis green chemistry menjadi solusi strategis.
Program seperti ini dapat:
- Diadopsi oleh pemerintah daerah
- Diperluas ke wilayah pertanian lain
- Menjadi bagian dari program ketahanan pangan nasional
Pendekatan berbasis pemberdayaan masyarakat juga terbukti efektif karena melibatkan petani secara langsung dalam proses pembelajaran.
Profil Singkat Penulis
Hajar Anuar, S.Si.
Peneliti bidang kimia terapan dan pengabdian masyarakat, Universitas Mulawarman.
Noor Hindryawati, M.Si.
Dosen dan peneliti kimia lingkungan di Universitas Mulawarman, dengan fokus pada green chemistry dan teknologi ramah lingkungan.
Tim peneliti juga terdiri dari akademisi dan praktisi lain dari Universitas Mulawarman yang memiliki keahlian di bidang kimia, pertanian, dan pemberdayaan masyarakat.
Sumber Penelitian
Introducing Green Chemistry–Based Slow-Release Fertilizer Technology to Farmers Using Zeolite and Biomass-Derived Carbon in Lempake, Samarinda.
Indonesian Journal of Society Development, Vol. 5 No. 1, 49–56.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsd.v5i1.5
URL : https://journalijsd.my.id/index.php/ijsd/index
0 Komentar