Interaksi Obat Berpotensi Terjadi pada 76% Resep Pasien Diabetes Tipe 2 di Rumah Sakit Bandar Lampung

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS Lampung- Kasus potensi interaksi obat pada pasien diabetes tipe 2 masih cukup tinggi di layanan kesehatan. Penelitian yang dilakukan oleh Harum Puspita Ningrum, Elma Viorentina Sembiring, dan Ageng Hasna Fauziyah dari Program Studi Farmasi Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang menemukan bahwa 76% resep pasien rawat jalan diabetes tipe 2 di sebuah rumah sakit swasta di Bandar Lampung mengandung potensi interaksi obat. Temuan ini berasal dari analisis rekam medis pasien pada tahun 2024 dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah farmasi kesehatan.

Penelitian tersebut penting karena pasien diabetes sering menerima lebih dari satu jenis obat untuk mengontrol kadar gula darah maupun penyakit penyerta. Kombinasi obat yang tidak diawasi dengan baik berpotensi memengaruhi efektivitas terapi bahkan meningkatkan risiko efek samping.

Diabetes dan Risiko Interaksi Obat

Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah. Penyakit ini menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia dan dunia.

Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menunjukkan bahwa pada tahun 2022 terdapat lebih dari 18.600 pasien diabetes di Kota Bandar Lampung, dari total sekitar 89.900 kasus diabetes di Provinsi Lampung. Tingginya angka kasus ini membuat penggunaan obat antidiabetes juga meningkat.

Dalam praktik klinis, pasien diabetes sering menerima beberapa obat sekaligus, baik untuk mengontrol gula darah maupun untuk menangani penyakit lain seperti hipertensi, gangguan jantung, atau infeksi. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan terjadinya drug–drug interaction atau interaksi antarobat.

Interaksi obat dapat menyebabkan dua hal yang berbeda:

  • Efek obat menjadi lebih kuat, sehingga meningkatkan risiko efek samping.
  • Efek obat menjadi lebih lemah, sehingga terapi menjadi kurang efektif.

Analisis 100 Rekam Medis Pasien

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan menganalisis 100 rekam medis pasien diabetes tipe 2 di instalasi rawat jalan rumah sakit tersebut.

Data dikumpulkan dari rekam medis pasien sepanjang tahun 2024. Tim peneliti kemudian mengidentifikasi potensi interaksi obat menggunakan beberapa basis data farmasi digital, seperti Medscape, Drugs.com, dan DrugBank.

Beberapa karakteristik pasien yang dianalisis meliputi:

  • jenis kelamin
  • usia
  • jumlah obat dalam resep
  • jenis obat antidiabetes
  • obat tambahan yang digunakan
  • potensi interaksi antarobat

Pasien Perempuan dan Usia Paruh Baya Mendominasi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien diabetes tipe 2 dalam studi ini adalah perempuan.

Distribusi pasien:

  • Perempuan: 57%
  • Laki-laki: 43%

Sementara itu, kelompok usia yang paling banyak adalah 46–65 tahun, mencapai sekitar 72% dari seluruh pasien.

Menurut peneliti, faktor hormonal dapat memengaruhi risiko diabetes pada perempuan, terutama setelah menopause. Penurunan hormon estrogen dan progesteron dapat mengurangi sensitivitas tubuh terhadap insulin sehingga meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

Metformin Paling Sering Diresepkan

Dalam analisis terhadap obat antidiabetes yang digunakan pasien, metformin menjadi obat yang paling sering diresepkan.

Distribusi penggunaan obat antidiabetes menunjukkan:

  • Metformin: 30,9%
  • Sulfonilurea (kelas obat): 34,6%
  • Insulin: sekitar 10,6%
  • obat lain seperti sitagliptin, vildagliptin, dan gliclazide dalam jumlah lebih kecil.

Metformin memang dikenal sebagai terapi lini pertama untuk diabetes tipe 2 karena efektif menurunkan kadar gula darah dan relatif jarang menyebabkan hipoglikemia.

Obat ini bekerja dengan cara:

  • menghambat produksi glukosa di hati
  • meningkatkan penggunaan glukosa oleh jaringan tubuh

261 Kasus Potensi Interaksi Obat

Dari 100 resep yang dianalisis, peneliti menemukan 261 kejadian potensi interaksi obat.

Jika dilihat dari tingkat keparahan, interaksi tersebut terbagi menjadi:

  • Interaksi sedang (moderate): 63,2%
  • Interaksi ringan (minor): 30,3%
  • Interaksi berat (major): 6,5%

Interaksi sedang menjadi kategori yang paling dominan. Jenis ini dapat memengaruhi kondisi klinis pasien dan biasanya membutuhkan pemantauan atau penyesuaian terapi.

Salah satu interaksi yang paling sering ditemukan adalah:

Ramipril + Metformin (6,1%)

Kombinasi ini dapat meningkatkan risiko hipoglikemia atau kadar gula darah terlalu rendah jika tidak dipantau dengan baik.

Interaksi Obat Berdasarkan Mekanisme

Penelitian ini juga mengelompokkan interaksi obat berdasarkan mekanisme kerjanya.

Hasilnya menunjukkan:

  • Farmakokinetik: 50,6%
  • Farmakodinamik: 30,3%
  • Mekanisme tidak diketahui: 19,2%

Interaksi farmakokinetik terjadi ketika satu obat memengaruhi proses penyerapan, distribusi, metabolisme, atau pengeluaran obat lain di dalam tubuh.

Sedangkan interaksi farmakodinamik terjadi ketika dua obat bekerja pada sistem tubuh yang sama sehingga efeknya saling memperkuat atau melemahkan.

Contoh Interaksi yang Ditemukan

Beberapa contoh interaksi obat yang teridentifikasi dalam penelitian ini antara lain:

Interaksi ringan:

  • Metformin + vitamin B12 
    → dapat menurunkan kadar vitamin B12

Interaksi sedang:

  • Ramipril + metformin → meningkatkan risiko hipoglikemia

Interaksi berat:

  • Lansoprazole + gliclazide → dapat meningkatkan efek gliclazide dan memicu hipoglikemia.

Meski sebagian besar interaksi bersifat potensial dan belum tentu terjadi secara klinis, temuan ini menunjukkan pentingnya evaluasi terapi obat secara berkala.

Pentingnya Pemantauan Resep Obat

Para peneliti menekankan bahwa tingginya potensi interaksi obat pada pasien diabetes menunjukkan perlunya pemantauan lebih ketat terhadap terapi obat.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • evaluasi resep oleh tenaga farmasi
  • pemantauan kadar gula darah secara rutin
  • edukasi pasien mengenai penggunaan obat
  • koordinasi antar tenaga kesehatan

Keterlibatan farmasis klinis juga dinilai penting untuk meninjau resep dan memberikan konseling kepada pasien guna mencegah efek samping yang tidak diinginkan.

Profil Penulis Penelitian

1. Harum Puspita Ningrum
Peneliti farmasi dari Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang dengan fokus pada farmasi klinis dan penggunaan obat pada penyakit kronis.

2. Elma Viorentina Sembiring
Dosen di Program Studi Farmasi Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang dengan bidang keahlian farmakologi dan keamanan penggunaan obat.

3. Ageng Hasna Fauziyah
Akademisi farmasi dari Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang yang meneliti interaksi obat serta evaluasi terapi farmakologis pada pasien penyakit kronis.

Sumber Penelitian

Ningrum, H. P., Sembiring, E. V., & Fauziyah, A. H. (2026).
“Potential Drug–Drug Interactions in Prescriptions for Outpatients with Type 2 Diabetes Mellitus at A Private Hospital in Bandar Lampung.”

Dipublikasikan dalam Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 3, 2026, halaman 647–662.

Posting Komentar

0 Komentar