Ketiadaan Ayah Menurunkan Kesejahteraan Psikologis Pria Dewasa Muda, Studi UKWMS Ungkap Dampak Emosional

Created by AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Penelitian terbaru tahun 2026 yang dipimpin Yonathan Setyawan bersama tim dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya menyoroti dampak psikologis jangka panjang dari pengalaman tumbuh tanpa figur ayah. Studi yang dipublikasikan di International Journal of Education and Psychological Science (IJEPS) ini menemukan bahwa pria dewasa muda yang mengalami fatherlessness cenderung memiliki kesejahteraan subjektif yang rendah, meski mulai menunjukkan tanda penerimaan diri dan strategi coping positif.

Temuan ini penting karena Indonesia disebut sebagai salah satu negara dengan tingkat fatherlessness tinggi, sehingga dampaknya berpotensi luas bagi kesehatan mental generasi muda.

Fenomena Fatherless yang Semakin Mengkhawatirkan

Fenomena anak tumbuh tanpa figur ayah bukan lagi kasus individual. Berbagai laporan menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat fatherlessness tinggi secara global. Ketidakhadiran ayah dapat terjadi karena perceraian, konflik keluarga, atau jarak emosional dalam hubungan orang tua.

Ketiadaan figur ayah berarti hilangnya peran penting dalam kehidupan anak, seperti:

  • Dukungan emosional
  • Perlindungan
  • Teladan identitas laki-laki
  • Pendampingan dalam pengambilan keputusan

Banyak penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa anak tanpa figur ayah berisiko mengalami kesulitan sosial, emosional, hingga akademik. Namun, dampaknya pada pria dewasa muda masih belum banyak dieksplorasi secara mendalam, terutama di konteks Indonesia.

Fokus Penelitian: Kesejahteraan Subjektif Pria Dewasa Muda

Studi ini mengeksplorasi subjective well-being (SWB) atau kesejahteraan subjektif, yaitu cara individu menilai kebahagiaan, kepuasan hidup, dan pengalaman emosionalnya.

SWB terdiri dari dua komponen utama:

  1. Kognitif – penilaian kepuasan hidup
  2. Afektif – keseimbangan emosi positif dan negatif

Penelitian berfokus pada pria dewasa muda yang kehilangan figur ayah sejak masa kanak-kanak.

Metode Penelitian yang Mendalam

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus untuk memahami pengalaman hidup secara mendalam.

Detail penelitian:

  • Partisipan: 1 pria usia 19 tahun
  • Kondisi: tumbuh tanpa ayah sejak lahir karena perceraian
  • Metode pengumpulan data:
    • Wawancara semi-terstruktur
    • Observasi
    • Analisis tematik berbasis teori SWB Diener (1984)

Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggali pengalaman emosional, persepsi hidup, dan strategi coping secara komprehensif.

Temuan Utama: Dominasi Emosi Negatif

Hasil penelitian menunjukkan kesejahteraan subjektif partisipan tergolong rendah.

1. Komponen Kognitif: Kepuasan Hidup Rendah

Partisipan menilai hidupnya secara negatif karena:

  • Sering membandingkan diri dengan “keluarga ideal”
  • Merasa diperlakukan tidak adil oleh keluarga pengasuh
  • Kesulitan menentukan arah hidup tanpa figur ayah
  • Kekhawatiran finansial dan masa depan pendidikan
  • Rasa kurang percaya diri dan manajemen waktu buruk

Ia juga mengaku merasa iri melihat teman dengan keluarga utuh.

Namun, penelitian menemukan munculnya self-acceptance atau penerimaan diri, ditandai dengan fokus pada masa depan dan keinginan berkembang.

2. Komponen Afektif: Emosi Negatif Lebih Dominan

Dalam aspek emosional, perasaan negatif lebih sering muncul dibanding emosi positif.

Emosi negatif utama:

  • Iri
  • Kemarahan terpendam
  • Rasa tidak aman
  • Kecemasan masa depan

Kurangnya kedekatan emosional dengan ibu yang bekerja di luar negeri memperkuat perasaan kesepian dan kekosongan.

Penelitian menyimpulkan bahwa ketiadaan ayah dan minimnya kedekatan emosional dengan ibu menghambat kebahagiaan dan aktualisasi diri pada masa dewasa awal.

Namun Ada Sinyal Harapan

Meski didominasi emosi negatif, penelitian menemukan faktor pelindung penting.

Partisipan menunjukkan:

  • Mulai menerima kondisi hidupnya
  • Memiliki strategi coping positif
  • Aktif mencari dukungan sosial dari teman
  • Terlibat organisasi kampus
  • Menyalurkan emosi melalui hobi (biliar, menggambar, game)

Peneliti mencatat bahwa dukungan sosial teman berperan sebagai faktor protektif yang membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Menurut tim peneliti dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, hubungan hangat dengan teman dan mentor dapat meningkatkan rasa memiliki, harga diri, dan kepuasan hidup meski tanpa figur ayah.

Dampak bagi Pendidikan, Keluarga, dan Kebijakan

Temuan penelitian ini memiliki implikasi luas.

1. Bagi keluarga

  • Kehadiran ayah sangat penting dalam pembentukan identitas laki-laki
  • Hubungan emosional orang tua–anak perlu diperkuat
  • Figur mentor laki-laki dapat menjadi alternatif dukungan

2. Bagi pendidikan

  • Kampus perlu menyediakan program mentoring dan konseling
  • Organisasi mahasiswa berperan sebagai ruang dukungan sosial

3. Bagi kebijakan publik

  • Program parenting perlu menekankan keterlibatan ayah
  • Intervensi kesehatan mental bagi keluarga single parent perlu diperkuat

Penelitian ini menegaskan bahwa fatherlessness bukan hanya isu keluarga, tetapi juga isu kesehatan mental dan pembangunan manusia.

Rekomendasi Penelitian Lanjutan

Peneliti menyarankan:

  • Studi dengan sampel lebih besar
  • Penelitian eksperimental untuk menemukan intervensi psikologis
  • Program peningkatan kesejahteraan pria dewasa muda tanpa figur ayah

Profil Penulis

  • Dylla Aura Permata Sari, S.Psi. – Peneliti psikologi perkembangan, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
  • Dewi Sartika, M.Psi., Psikolog – Dosen psikologi keluarga dan perkembangan, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
  • Ika Risky Hidayah, M.Psi. – Peneliti kesejahteraan psikologis, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
  • Bagus Samsuri, M.Psi. – Akademisi psikologi sosial, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
  • Yonathan Setyawan, M.Psi. – Dosen psikologi dan peneliti kesehatan mental dewasa muda, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Sumber Penelitian

Sari, D. A. P., Sartika, D., Hidayah, I. R., Samsuri, B., & Setyawan, Y. (2026).
Subjective Well-Being Among Young Adult Men Who Have Experienced Fatherlessness.
International Journal of Education and Psychological Science (IJEPS), Vol. 4 No. 2, 165–178.

Posting Komentar

0 Komentar