Kenaikan Harga Produk Minyak Bumi dan Kelangsungan Hidup Usaha Kecil di Pasar Konvensional Lagos


Ilustrasi by AI 

Lagos,- Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di Nigeria terbukti memukul daya tahan usaha kecil di pasar-pasar tradisional Lagos. Studi terbaru yang ditulis Bolawale Abayomi Odunaike dan Oreoluwa Eyitayo Balogun dari Lagos State University pada 2026 menemukan bahwa biaya operasional pelaku usaha melonjak drastis, pendapatan menurun tajam, dan berbagai strategi bertahan hanya memberi kelegaan sementara. Temuan ini penting karena usaha kecil menyumbang sekitar 96 persen unit usaha dan lebih dari 50 persen Produk Domestik Bruto Nigeria.

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Applied and Scientific Research (Vol. 4 No. 2, 2026). Odunaike dan Balogun meneliti dampak kenaikan harga BBM terhadap keberlangsungan usaha kecil di tiga pasar berbeda di Lagos: Iyana-Iba (semi-urban), Badagry (wilayah perbatasan), dan Lagos Island (pusat kota metropolitan).

Krisis BBM di Negara Penghasil Minyak

Nigeria adalah produsen minyak terbesar di Afrika, namun ironisnya menghadapi ketidakstabilan harga BBM domestik selama bertahun-tahun. Penghapusan subsidi pada 2023, fluktuasi nilai tukar, dan dinamika harga minyak global mendorong kenaikan harga lebih dari 200 persen.

Bagi usaha kecil yang bergantung pada BBM untuk transportasi barang dan generator listrik, lonjakan ini langsung menggerus margin keuntungan. Di banyak wilayah, listrik publik tidak stabil sehingga pelaku usaha mengandalkan genset berbahan bakar bensin atau solar.

Odunaike menegaskan, pelaku usaha kecil berada di garis depan dampak kebijakan energi. “Ketika harga BBM naik, biaya transportasi dan energi langsung menjadi hambatan utama dalam operasi bisnis sehari-hari,” tulisnya.

Wawancara 45 Pelaku Usaha

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sebanyak 45 pemilik usaha kecil diwawancarai secara mendalam—masing-masing 15 orang di setiap pasar. Mereka berasal dari beragam sektor: penjual bahan makanan, pedagang pakaian, pedagang elektronik, penjual ikan dan sayur, hingga pemilik barbershop dan restoran.

Wawancara dilakukan langsung di lokasi usaha, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan tematik untuk mengidentifikasi pola masalah dan strategi adaptasi.

Biaya Transportasi Melonjak 150–250 Persen

Hasil penelitian menunjukkan kenaikan harga BBM berdampak paling besar pada dua komponen biaya:

  1. Transportasi: Biaya angkut barang dari pemasok meningkat antara 150 hingga 250 persen. Pedagang yang mengambil barang dari luar kota atau luar negeri merasakan dampak paling berat.
  2. Energi dan Listrik: Usaha yang membutuhkan pendingin atau pasokan listrik konstan—seperti penjual makanan beku—menghabiskan hingga ₦30.000 per hari hanya untuk solar genset.

Kenaikan biaya ini menciptakan efek berantai. Pedagang harus menaikkan harga jual, tetapi pelanggan yang daya belinya menurun justru mengurangi pembelian.

Penurunan Penjualan, Terutama Barang Non-Pangan

Penelitian menemukan pergeseran perilaku konsumen. Saat harga BBM naik dan inflasi meningkat, masyarakat memprioritaskan kebutuhan pokok.

Dampaknya:

  • Pedagang sepatu, pakaian, dan elektronik mengalami penurunan penjualan paling tajam.
  • Restoran melaporkan penurunan jumlah pelanggan harian hampir setengahnya.
  • Pedagang bahan pangan tetap memiliki pembeli, tetapi margin keuntungan habis terserap biaya transportasi.

Seorang pedagang minyak sawit di Badagry mengaku biaya angkut yang sebelumnya sekitar ₦10.000 kini melonjak menjadi lebih dari ₦25.000. “Penjualan tetap ada, tapi hampir tidak ada keuntungan tersisa,” ujarnya dalam wawancara.

Wilayah Perbatasan dan Semi-Urban Lebih Rentan

Lokasi usaha memengaruhi tingkat kerentanan.

  • Badagry, sebagai wilayah perbatasan dengan aktivitas perdagangan lintas negara, menghadapi biaya logistik lebih tinggi dan rantai pasok lebih panjang.
  • Iyana-Iba, pasar semi-urban, terkendala infrastruktur dan akses pembiayaan.
  • Lagos Island, meski berada di pusat kota, menghadapi biaya sewa dan pungutan administrasi lebih tinggi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pelaku usaha di wilayah semi-urban dan perbatasan memiliki akses lebih terbatas terhadap dukungan keuangan dan infrastruktur alternatif.

Strategi Bertahan: Kolaborasi hingga Energi Surya

Meski tertekan, pelaku usaha menunjukkan daya tahan tinggi. Beberapa strategi adaptasi yang ditemukan antara lain:

  • Transportasi bersama untuk menekan ongkos kirim.
  • Pembelian dalam jumlah besar melalui asosiasi pedagang.
  • Mencari pemasok lokal untuk mengurangi jarak distribusi.
  • Beralih ke energi alternatif, seperti panel surya atau gas.
  • Penyesuaian harga fleksibel dan pengurangan jam operasional.

Namun, sebagian besar responden menyatakan strategi tersebut hanya mengurangi beban sementara. Misalnya, penggunaan gas sebagai pengganti bensin awalnya lebih murah, tetapi kenaikan permintaan membuat harga gas ikut melonjak.

Balogun mencatat bahwa tanpa dukungan struktural, adaptasi ini tidak cukup menjamin pertumbuhan usaha. “Strategi yang ada bersifat bertahan hidup, bukan transformasional,” tulisnya.

Implikasi Kebijakan

Temuan ini memiliki implikasi luas bagi kebijakan publik di Nigeria. Jika usaha kecil terus melemah, dampaknya akan terasa pada lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, dan stabilitas ekonomi lokal.

Penelitian merekomendasikan:

  • Program subsidi transportasi untuk komoditas penting.
  • Skema pembiayaan mikro berbunga rendah bagi pedagang kecil.
  • Investasi pada infrastruktur energi terbarukan di pasar tradisional.
  • Regulasi pungutan pasar agar tidak meningkat saat krisis ekonomi.

Menurut Odunaike, kebijakan energi harus mempertimbangkan dampaknya terhadap sektor informal. “Tanpa intervensi terarah, fluktuasi harga BBM akan terus menjadi ancaman eksistensial bagi usaha kecil,” tegasnya.

Profil Penulis

Dr. Bolawale Abayomi Odunaike adalah akademisi di Lagos State University dengan fokus pada ekonomi pembangunan dan kewirausahaan sektor informal.
Oreoluwa Eyitayo Balogun merupakan peneliti di Lagos State University yang menekuni bidang kebijakan publik dan ekonomi energi.

Keduanya aktif meneliti dampak kebijakan makroekonomi terhadap pelaku usaha kecil di Nigeria.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar