Etika Lingkungan dan Relasi Manusia–Sungai Tercermin dalam Cerpen Indonesia Kontemporer

Ilustrasi by AI

Yogyakarta – Penelitian yang dilakukan oleh Nabilla Silmi dan Else Liliani dari Universitas Negeri Yogyakarta dan dipublikasikan pada 2026 mengungkap bagaimana cerpen Indonesia kontemporer menggambarkan hubungan manusia dengan sungai serta etika lingkungan yang menyertainya. Kajian ini menjadi penting karena memperlihatkan bagaimana karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai cermin krisis ekologis dan moral yang terjadi di masyarakat.

Fenomena kerusakan lingkungan, khususnya sungai, menjadi isu global yang semakin mendesak. Pencemaran air, eksploitasi sumber daya, serta perubahan perilaku manusia terhadap alam mendorong lahirnya berbagai karya sastra yang merefleksikan kegelisahan tersebut. Dalam konteks ini, sastra menjadi medium kritik sosial sekaligus ruang refleksi etika lingkungan yang relevan dengan kondisi saat ini.

Penelitian Nabilla Silmi dan Else Liliani menggunakan pendekatan ekokritisisme sastra untuk membaca enam cerpen Indonesia yang terbit antara tahun 2020 hingga 2024, baik di media cetak maupun daring. Metode yang digunakan bersifat kualitatif deskriptif dengan analisis mendalam terhadap narasi, tokoh, dan simbol yang berkaitan dengan sungai dan lingkungan. Pendekatan ini membantu mengungkap makna di balik cerita tanpa menggunakan istilah teknis yang rumit, sehingga lebih mudah dipahami.

Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga pola utama dalam representasi hubungan manusia dan sungai.

Pertama, pandangan antroposentris muncul dalam bentuk eksploitasi sungai secara berlebihan. Cerita-cerita tersebut menggambarkan bagaimana manusia memanfaatkan sungai untuk kepentingan ekonomi tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Pencemaran, perusakan ekosistem, hingga keserakahan manusia digambarkan sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan yang berujung pada krisis sosial dan ekologis.

Kedua, perspektif ekosentris hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap kerusakan tersebut. Dalam beberapa cerpen, tokoh-tokoh menunjukkan kepedulian terhadap alam dengan menjaga keseimbangan lingkungan dan menolak eksploitasi berlebihan. Narasi ini juga menghadirkan konsekuensi moral, termasuk gambaran “balasan alam” terhadap tindakan manusia yang merusak.

Ketiga, hubungan manusia dan sungai juga direpresentasikan melalui dimensi mitologis dan spiritual. Sungai tidak lagi dipandang sekadar sebagai objek fisik, melainkan sebagai entitas sakral yang memiliki nilai budaya dan spiritual. Praktik ritual, kepercayaan lokal, dan kearifan tradisional muncul sebagai cara masyarakat menjaga harmoni dengan alam.

Menurut Nabilla Silmi dari Universitas Negeri Yogyakarta, karya sastra memiliki peran penting dalam membangun kesadaran ekologis. Ia menegaskan bahwa cerpen-cerpen tersebut tidak hanya menggambarkan realitas, tetapi juga mengajak pembaca untuk merefleksikan kembali hubungan manusia dengan lingkungan. Else Liliani menambahkan bahwa pendekatan ekokritisisme membantu mengungkap pesan moral yang tersembunyi dalam teks sastra, terutama terkait etika lingkungan dan tanggung jawab manusia terhadap alam.

Temuan ini memberikan implikasi luas, baik bagi masyarakat maupun dunia pendidikan. Dalam konteks sosial, hasil penelitian ini dapat meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga ekosistem sungai sebagai sumber kehidupan. Dalam dunia pendidikan, karya sastra dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai lingkungan kepada generasi muda.

Bagi pembuat kebijakan, penelitian ini juga menawarkan perspektif alternatif dalam memahami isu lingkungan. Pendekatan berbasis budaya dan sastra dapat melengkapi kebijakan teknis dengan dimensi etika dan nilai, sehingga menghasilkan solusi yang lebih holistik. Dunia usaha pun dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya praktik berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Lebih jauh, penelitian ini menunjukkan bahwa sastra memiliki kekuatan sebagai alat komunikasi yang mampu menjangkau emosi dan kesadaran manusia. Cerpen tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi juga membangun empati terhadap alam dan mendorong perubahan perilaku.

Profil Penulis
Nabilla Silmi dari Universitas Negeri Yogyakarta,  Else Liliani merupakan akademisi di Universitas Negeri Yogyakarta 

Sumber Penelitian
Silmi, Nabilla & Liliani, Else. “Humans, Rivers, and Environmental Ethics: A Study of Six Contemporary Indonesian Short Stories.” East Asian Journal of Multidisciplinary Research, 2026.

Posting Komentar

0 Komentar