Kalender Tradisional Jawa Berbasis Digital Perkuat Ketahanan Hutan dan Petani Hadapi Perubahan Iklim
Peneliti dari Universitas Islam Majapahit dan Universitas Negeri Surabaya menunjukkan bahwa integrasi Pranata Mangsa dengan teknologi modern mampu meningkatkan pengelolaan hutan dan ketahanan petani terhadap risiko iklim.
Perpaduan kearifan lokal Jawa dengan teknologi digital terbukti efektif memperkuat pengelolaan sumber daya alam dan mitigasi bencana iklim. Temuan ini diungkap oleh tim peneliti yang dipimpin M. Adik Rudiyanto bersama Wuwuh Asrining Puri, Nuril Ahmad (Universitas Islam Majapahit), Achmad Yani (LMDH Wana Mitra Sejahtera), dan Mohammad Arja Bahaudin (Universitas Negeri Surabaya). Studi ini dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS).
Riset tersebut menyoroti transformasi Pranata Mangsa, kalender musim tradisional Jawa, menjadi modul pendidikan ekologis berbasis data iklim, GIS, dan sensor cuaca. Model ini diuji di komunitas LMDH Wana Mitra Sejahtera, Lebak Jabung, Mojokerto, Jawa Timur, wilayah yang bergantung pada hutan dan pertanian sebagai sumber penghidupan utama.
Hasil penelitian penting karena menunjukkan bahwa tradisi lokal tidak harus ditinggalkan untuk menghadapi perubahan iklim. Sebaliknya, tradisi justru bisa diperkuat dengan sains dan teknologi agar tetap relevan dan adaptif.
Kearifan Lokal yang Terdesak Perubahan Iklim
Selama berabad-abad, Pranata Mangsa menjadi pedoman petani Jawa dalam menentukan waktu tanam, panen, hingga pengelolaan hutan. Kalender ini membagi satu tahun menjadi 12 musim berdasarkan tanda-tanda alam seperti hujan, angin, perilaku hewan, dan kondisi tanah.
Namun, perubahan iklim global membuat pola musim semakin sulit diprediksi. Hujan datang tidak menentu, musim kemarau lebih panjang, dan risiko banjir serta kekeringan meningkat. Dalam kondisi ini, kalender tradisional saja tidak lagi cukup.
“Ketidakpastian iklim membuat petani dan pengelola hutan membutuhkan informasi yang lebih akurat tanpa kehilangan pijakan budaya mereka,” tulis tim peneliti dalam artikelnya.
Menggabungkan Tradisi dengan Data Digital
Penelitian ini mengembangkan modul pendidikan ekologis integratif yang menggabungkan Pranata Mangsa dengan:
-Data iklim modern (curah hujan, suhu, kelembapan),
-Geographic Information System (GIS) untuk pemetaan lahan dan risiko bencana,
-Sensor cuaca lapangan,
-Serta aplikasi digital yang mudah diakses masyarakat.
Pendekatan penelitian bersifat kualitatif dengan metode interpretative phenomenological analysis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi kegiatan masyarakat selama Oktober 2024.
Alih-alih sekadar memberikan teknologi, modul ini dirancang sebagai media belajar bersama. Petani, pengelola hutan, dan peneliti terlibat langsung dalam memahami hubungan antara siklus alam tradisional dan data ilmiah modern.
Tiga Temuan Utama Penelitian
Peneliti mencatat setidaknya tiga dampak utama dari transformasi Pranata Mangsa berbasis teknologi ini:
1. Pemahaman Ekologis Meningkat
Masyarakat menjadi lebih memahami hubungan antara musim, iklim, hutan, dan pertanian. Kesadaran terhadap konservasi hutan dan siklus ekologis meningkat secara nyata.
2. Partisipasi Komunitas Lebih Aktif
Pengelolaan sumber daya alam tidak lagi bersifat individual. Warga terlibat dalam perencanaan, pemantauan hutan, dan mitigasi risiko bencana secara kolektif.
3. Ketahanan Sosial-Ekologis Menguat
Kombinasi tradisi dan teknologi memperkuat daya lenting komunitas menghadapi perubahan iklim sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian.
Menurut Nuril Ahmad dari Universitas Islam Majapahit, pendekatan ini menunjukkan bahwa teknologi paling efektif adalah teknologi yang “berakar pada budaya lokal dan dipahami oleh masyarakat, bukan sekadar diimpor dari luar.”
Manfaat Nyata bagi Petani dan Pengelola Hutan
Modul yang dikembangkan tidak hanya berfungsi sebagai bahan edukasi, tetapi juga sebagai alat praktis. Aplikasi berbasis Android dengan fitur sederhana dan akses offline memudahkan petani di wilayah dengan keterbatasan internet.
Fitur utama meliputi:
-kalender musim interaktif berbasis Pranata Mangsa,
-pengingat waktu tanam dan panen,
-pemetaan lahan dan zona rawan banjir atau kekeringan,
-serta notifikasi cuaca berbasis data BMKG dan sensor lokal.
Hasilnya, petani dapat mengambil keputusan lebih cepat dan akurat, sementara risiko gagal panen dan kerusakan lingkungan dapat ditekan.
Implikasi bagi Kebijakan dan Pendidikan Lingkungan
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi kebijakan publik dan pendidikan. Model integrasi Pranata Mangsa dapat dijadikan dasar pengembangan kurikulum lingkungan berbasis lokal, program penyuluhan pertanian, hingga strategi mitigasi bencana berbasis komunitas.
Peneliti juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam:
-penguatan infrastruktur digital pedesaan,
-pelatihan literasi teknologi bagi petani,
-serta kolaborasi lintas sektor antara universitas, komunitas, dan lembaga pemerintah.
Profil Singkat Penulis
-M. Adik Rudiyanto, M.Pd.
Dosen Universitas Islam Majapahit. Keahlian: pendidikan lingkungan dan kearifan lokal.
-Wuwuh Asrining Puri, M.Si.
Dosen Universitas Islam Majapahit. Keahlian: ekologi dan pendidikan partisipatif.
-Nuril Ahmad, M.Si.
Dosen Universitas Islam Majapahit. Keahlian: adaptasi ekologi dan pranata mangsa.
-Achmad Yani
Praktisi LMDH Wana Mitra Sejahtera, Mojokerto. Keahlian: pengelolaan hutan berbasis masyarakat.
-Mohammad Arja Bahaudin, M.Pd.
Dosen Universitas Negeri Surabaya. Keahlian: teknologi pendidikan dan inovasi pembelajaran.
Sumber Penelitian
Rudiyanto, M. A., Puri, W. A., Ahmad, N., Yani, A., & Bahaudin, M. A. (2026).
Transformation of Seasonal Institutions: Innovation of Ecological Education Modules for Sustainable Forest Management and Mitigation of Hydrometeorological Disaster Risks.
International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS), Vol. 4 No. 1, hlm. 1705–1720.
DOI: 10.59890/ijatss.v4i1.155

0 Komentar