Sulawesi— Transformasi Digital SDM
Perbankan Syariah Sulsel Ditentukan Budaya Digital. Penelitian yang dilakukan
oleh M Yusuf Alfian Rendra Anggoro KR dari Universitas Muhammadiyah
Makassar dan dipublikasikan pada Januari 2026 di International
Journal of Business and Applied Economics (IJBAE).
Penelitian
yang dilakukan oleh M Yusuf Alfian Rendra Anggoro KR dari Universitas
Muhammadiyah Makassar menunjukkan bahwa budaya digital menjadi
faktor paling kuat dalam meningkatkan kinerja karyawan bank syariah dan
menyoroti peran kepemimpinan digital serta pemanfaatan people analytics
berbasis nilai syariah.
Penelitian
ini penting karena meskipun adopsi teknologi digital di perbankan syariah
Indonesia terus meningkat, dampaknya terhadap kinerja karyawan belum merata.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sebagian besar bank syariah telah
menggunakan teknologi digital dalam pengelolaan SDM, namun hanya sebagian kecil
yang benar-benar merasakan peningkatan kinerja secara menyeluruh. Kondisi ini
juga terlihat jelas di Sulawesi Selatan, wilayah dengan pertumbuhan aset
perbankan syariah yang tinggi tetapi masih menghadapi tantangan adaptasi SDM
terhadap teknologi.
Tantangan
Digitalisasi SDM Bank Syariah
Dalam
beberapa tahun terakhir, bank syariah di Sulawesi Selatan tumbuh pesat seiring
meningkatnya aktivitas ekonomi berbasis syariah dan UMKM Islam. Namun,
pertumbuhan tersebut tidak selalu diiringi kesiapan SDM. Banyak karyawan masih
mengalami kesenjangan kompetensi digital dan resistensi terhadap perubahan,
terutama ketika teknologi dipersepsikan bertentangan dengan nilai-nilai
religius yang mereka pegang.
Survei
nasional menunjukkan sebagian besar karyawan bank syariah merasa kepemimpinan
digital di institusinya belum sepenuhnya mendorong inovasi. Di sisi lain,
pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam proses rekrutmen dan manajemen SDM di
bank syariah Sulawesi Selatan masih tertinggal dibanding rata-rata nasional.
Situasi inilah yang mendorong penelitian ini dilakukan.
Riset
Lapangan pada 15 Bank Syariah
Penelitian
ini melibatkan 178 karyawan dari 15 bank syariah di Sulawesi Selatan
yang dipilih secara proporsional berdasarkan jabatan dan jenis bank. Responden
merupakan karyawan yang telah bekerja minimal satu tahun dan terlibat langsung
dalam penggunaan sistem digital, seperti HR Information System, people
analytics, atau platform kolaborasi digital.
Data dikumpulkan melalui survei dan dianalisis menggunakan pendekatan statistik untuk melihat hubungan antara empat faktor utama: kepemimpinan digital, people analytics, budaya digital, dan kinerja karyawan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat tidak hanya pengaruh langsung teknologi dan kepemimpinan, tetapi juga peran budaya kerja sebagai penghubung utama.
Budaya
Digital Jadi Faktor Penentu
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan digital dan people analytics
sama-sama berpengaruh positif terhadap pembentukan budaya digital di bank
syariah. Namun, temuan paling menonjol adalah budaya digital memiliki
pengaruh paling kuat terhadap kinerja karyawan dibanding faktor lainnya.
Budaya
digital dalam konteks perbankan syariah tidak hanya berarti penggunaan
teknologi, tetapi juga mencakup cara berpikir, nilai kerja, dan sikap karyawan
terhadap inovasi digital yang selaras dengan prinsip Islam. Ketika budaya ini
terbentuk dengan baik, karyawan lebih mudah menerima teknologi, bekerja lebih
produktif, dan tetap menjaga nilai keadilan, transparansi, serta etika syariah.
Penelitian
ini juga menemukan bahwa budaya digital berperan sebagai jembatan antara
kepemimpinan digital dan people analytics dengan peningkatan kinerja karyawan.
Artinya, teknologi dan kepemimpinan tidak akan berdampak maksimal jika tidak
didukung budaya kerja yang tepat.
Integrasi
Teknologi dan Nilai Lokal
Keunikan
penelitian ini terletak pada pendekatannya yang mengintegrasikan teknologi
digital dengan nilai syariah dan kearifan lokal Sulawesi Selatan. Budaya
kerja seperti siri’ na pacce—nilai harga diri, solidaritas, dan tanggung
jawab sosial—dipandang relevan untuk memperkuat budaya digital di lingkungan
bank syariah.
Menurut
peneliti, pendekatan digital yang sensitif terhadap konteks lokal dan religius
akan lebih mudah diterima oleh karyawan. Teknologi tidak diposisikan sebagai
ancaman, melainkan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas kerja sekaligus
sarana ibadah dan kontribusi sosial.
Dampak
bagi Industri dan Regulator
Temuan
ini memberikan implikasi praktis bagi industri perbankan syariah. Bank
disarankan tidak hanya berinvestasi pada sistem digital, tetapi juga pada pengembangan
kepemimpinan digital berbasis nilai syariah, pemanfaatan people analytics
yang adil dan transparan, serta program internal untuk membangun budaya digital
yang inklusif.
Bagi regulator seperti OJK dan Bank Indonesia, penelitian ini menjadi rujukan penting dalam merumuskan kebijakan transformasi digital SDM perbankan syariah. Insentif, panduan etika AI, dan standar budaya digital berbasis syariah dinilai perlu dikembangkan agar transformasi berjalan seimbang antara efisiensi dan nilai keislaman.
Profil
Penulis
M Yusuf Alfian Rendra Anggoro KR, S.E., M.M - Universitas Muhammadiyah Makassar
Sumber Penelitian
Anggoro KR, M Yusuf Alfian
Rendra. Digital Transformation of Human Resources in Islamic Banking: The
Role of Digital Leadership and People Analytics in Building a Digital Culture
for Performance Improvement (A Study of Islamic Banks in South Sulawesi).
International Journal of Business and Applied Economics (IJBAE), Vol. 5 No.
1, 2026.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijbae.v5i1.58 URL RESMI: https://nblformosapublisher.org/index.php/ijbae
.png)
0 Komentar