Strategi Peternak Sapi Bertahan di Wilayah Rawan Banjir Muaro Jambi

Ilustrasi by AI

Jambi- Peternak sapi di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, menghadapi banjir musiman hampir setiap tahun. Namun di tengah ancaman kehilangan ternak, keterbatasan pakan, dan gangguan akses transportasi, para peternak tetap bertahan. Riset terbaru dari Ariyadi, Nahri Idris, dan Yurleni dari Fakultas Peternakan Universitas Jambi mengungkap strategi konkret agar usaha ternak sapi rakyat tetap tumbuh di wilayah rawan banjir. Studi ini dilakukan pada Mei–Juli 2025 dan dipublikasikan pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research.

Penelitian ini penting karena sebagian besar produksi sapi potong di Indonesia masih bergantung pada peternakan rakyat. Ketika banjir mengganggu wilayah sentra ternak seperti Maro Sebo—yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai Batanghari—dampaknya tidak hanya dirasakan peternak, tetapi juga berpengaruh pada pasokan daging nasional dan stabilitas ekonomi pedesaan.

Banjir Tahunan dan Ancaman bagi Peternak

Banjir di Kecamatan Maro Sebo bukan peristiwa insidental. Setiap musim hujan, air Sungai Batanghari meluap hingga setinggi satu meter dan dapat bertahan selama dua hingga tiga bulan. Rumah warga, jalan desa, lahan pertanian, hingga kandang ternak ikut terendam. Dalam kondisi ini, peternak menghadapi berbagai risiko serius, mulai dari kematian ternak, merebaknya penyakit, hingga krisis pakan hijauan.

Menurut peneliti, kerugian sektor peternakan akibat banjir tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga memengaruhi motivasi peternak untuk terus memelihara sapi. Tanpa strategi adaptif, usaha ternak rakyat di wilayah rawan banjir berpotensi mengalami stagnasi bahkan penurunan.

Survei Langsung ke Peternak Rawan Banjir

Tim peneliti melakukan survei terhadap 56 peternak sapi di tiga desa paling rawan banjir, yaitu Setiris, Mudung Darat, dan Danau Kedap. Seluruh peternak dijadikan responden melalui metode sensus. Data dikumpulkan langsung dari lapangan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan pendekatan SWOT, dilengkapi dengan IFE, EFE, IE Matrix, serta QSPM untuk menentukan strategi paling prioritas.

Hasil analisis menunjukkan bahwa peternak sapi di Maro Sebo sebenarnya memiliki modal sosial dan pengalaman yang kuat. Nilai Internal Factor Evaluation (IFE) mencapai 2,75, sementara External Factor Evaluation (EFE) sebesar 3,52. Angka ini menempatkan usaha ternak sapi rakyat di posisi kuat dan berada pada kategori “tumbuh dan berkembang”.

Kekuatan dan Kelemahan Peternak

Salah satu kekuatan utama peternak adalah pengalaman beternak yang panjang. Lebih dari 40 persen responden telah beternak sapi selama lebih dari 10 tahun. Selain itu, kepemilikan sapi relatif memadai untuk skala usaha rakyat, dengan rata-rata 5–9 ekor per peternak.

Menariknya, 75 persen peternak menyatakan sudah terbiasa menghadapi banjir. Pengalaman menghadapi banjir berulang membuat mereka memiliki pengetahuan lokal, termasuk kapan air mulai naik dan bagaimana memindahkan ternak ke tempat yang lebih aman.

Namun, penelitian ini juga mencatat sejumlah kelemahan. Tingkat pendidikan peternak relatif rendah, mayoritas hanya lulusan sekolah dasar dan menengah pertama. Kondisi ini membatasi akses terhadap teknologi dan inovasi peternakan. Selain itu, penyakit ternak meningkat tajam saat musim banjir, dan lahan evakuasi ternak masih sangat terbatas.

Peluang Pasar Masih Terbuka Lebar

Di sisi eksternal, peluang usaha ternak sapi di Maro Sebo dinilai sangat menjanjikan. Permintaan sapi potong terus meningkat, sementara harga sapi relatif tinggi, berkisar antara Rp15–17 juta per ekor untuk sapi dewasa. Seluruh responden menyebutkan bahwa penjualan sapi tergolong mudah karena pedagang aktif mendatangi desa.

Selain itu, keberadaan jalur darat utama yang tidak sepenuhnya terendam banjir menjadi peluang strategis. Jalur ini berfungsi sebagai rute evakuasi ternak sekaligus akses distribusi pakan dan obat-obatan saat banjir melanda.

Ancaman Nyata: Pakan dan Akses Terputus

Ancaman terbesar bagi peternak adalah menurunnya ketersediaan lahan penggembalaan dan krisis pakan hijauan. Saat banjir, rumput dan sumber pakan terendam, sementara akses ke lokasi alternatif sangat terbatas. Gangguan jalan desa juga memperlambat distribusi sarana produksi, layanan kesehatan hewan, dan pemasaran ternak.

Jika tidak diantisipasi, kondisi ini dapat menurunkan produktivitas ternak secara signifikan dan meningkatkan risiko kematian sapi.

Strategi Prioritas: Kolaborasi dengan Pemerintah

Melalui analisis Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM), peneliti menyusun delapan alternatif strategi dan menentukan prioritasnya. Strategi dengan skor daya tarik tertinggi (TAS 5,43) adalah kolaborasi antara peternak dan pemerintah dalam program mitigasi banjir, khususnya penyediaan kandang komunal di wilayah aman banjir, lokasi evakuasi ternak, serta dukungan manajemen pakan dan kesehatan ternak.

“Kerja sama kelembagaan menjadi kunci bagi peternak rakyat untuk bertahan menghadapi bencana berulang,” tulis Nahri Idris dari Universitas Jambi dalam artikelnya. Strategi lain yang juga direkomendasikan meliputi pembangunan kandang panggung, penyediaan cadangan pakan melalui silase dan hay, serta pelatihan mitigasi bencana bagi peternak.

Dampak bagi Kebijakan dan Ketahanan Pangan

Temuan ini memberikan implikasi penting bagi pemerintah daerah dan nasional. Peternakan rakyat di wilayah rawan bencana tetap memiliki potensi berkembang jika didukung kebijakan adaptif berbasis kondisi lokal. Program mitigasi banjir yang terintegrasi dengan sektor peternakan tidak hanya melindungi peternak, tetapi juga menjaga keberlanjutan pasokan protein hewani.

Bagi masyarakat pedesaan, strategi ini dapat meningkatkan ketahanan ekonomi, mengurangi kerugian akibat bencana, dan menjaga minat generasi muda untuk tetap terlibat dalam usaha peternakan.

Profil Penulis

  • Ariyadi Fakultas Peternakan Universitas Jambi
  • Nahri Idris Fakultas Peternakan Universitas Jambi
  • Yurleni  Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Sumber Penelitian

Ariyadi, Idris, N., & Yurleni. (2026). Cattle Farmers’ Strategies in Flood-Vulnerable Areas in Maro Sebo District, Muaro Jambi Regency. East Asian Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 1, 335–350.

web : https://mtiformosapublisher.org/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar