Pembentukan moral anak usia dini menjadi fokus penelitian Deby Indah Armayanti Pasaribu, M.I.Kom., dan Icol Dianto, M.Sos., dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Ali Hasan Ahmad Addary. Studi yang diterima pada Januari 2026 dan diterbitkan di International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR) ini menyoroti bagaimana strategi komunikasi dakwah dapat membentuk karakter anak sejak masa “golden age,” periode perkembangan paling menentukan dalam kehidupan manusia. Temuan mereka penting karena memberikan kerangka praktis bagi orang tua, pendidik, dan media dalam menanamkan nilai moral secara efektif sejak dini.
Penelitian ini melihat anak usia dini sebagai audiens dakwah yang unik. Pada rentang usia 0–6 tahun, kemampuan kognitif, emosional, dan perilaku berkembang sangat cepat sehingga nilai yang ditanamkan pada fase ini berpotensi membentuk pola pikir hingga dewasa. Karena itu, pendekatan komunikasi tidak bisa disamakan dengan dakwah untuk remaja atau orang dewasa.
Latar Belakang: Moral Anak Dibentuk Sejak Lingkungan Terdekat
Pasaribu dan Dianto menegaskan bahwa anak kecil cenderung berpikir konkret, memiliki rentang perhatian pendek, serta lebih mudah memahami pesan melalui simbol, cerita, dan contoh nyata dibandingkan penjelasan abstrak. Kondisi ini menuntut strategi komunikasi yang adaptif dan menyenangkan. Dakwah yang terlalu normatif atau berupa ceramah panjang berisiko tidak dipahami anak.
Dalam konteks Islam, dakwah bukan sekadar transfer pengetahuan agama, tetapi proses membentuk sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai keislaman seperti kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab, dan penghormatan kepada orang tua. Pesan moral perlu dikemas secara komunikatif agar mudah diinternalisasi anak.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode library research atau studi kepustakaan dengan menelaah buku, jurnal ilmiah, serta penelitian terdahulu tentang komunikasi dakwah, komunikasi Islam, dan pendidikan moral anak. Analisis dilakukan melalui pendekatan deskriptif-analitis dan tematik untuk menemukan pola strategi komunikasi yang paling efektif.
Dengan membandingkan berbagai literatur kredibel, peneliti menyusun kerangka konseptual yang mengintegrasikan karakter anak, desain pesan moral, strategi komunikasi, serta peran dai, orang tua, dan media.
Temuan Utama Penelitian
Hasil studi menunjukkan bahwa efektivitas komunikasi dakwah pada anak sangat dipengaruhi oleh pemahaman terhadap tahap perkembangan mereka, kesederhanaan pesan, serta strategi yang persuasif dan edukatif.
Beberapa temuan kunci antara lain:
1. Anak belajar melalui imitasi dan pembiasaan
Metode keteladanan (uswah hasanah) dinilai paling efektif karena anak cenderung meniru figur di sekitarnya, terutama orang tua dan guru.
2. Pesan moral harus konkret dan aplikatif
Nilai seperti kejujuran, empati, dan disiplin lebih mudah diterima jika dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari anak.
3. Pendekatan emosional lebih berhasil daripada ancaman
Komunikasi yang lembut dan penuh kasih membuat anak lebih terbuka terhadap ajaran agama dibandingkan pendekatan yang menakutkan.
4. Cerita, lagu, dan permainan efektif menyampaikan pesan
Narasi tentang nabi atau tokoh teladan, permainan bernilai edukatif, serta lagu sederhana membantu anak mengingat dan mempraktikkan nilai moral.
5. Media audio-visual memiliki pengaruh besar
Animasi dan program edukatif Islami terbukti menarik perhatian anak dan mampu memperkuat pesan dakwah, selama kontennya sesuai tahap perkembangan mereka.
Sinergi Dai, Orang Tua, dan Media
Salah satu kesimpulan terpenting penelitian ini adalah pentingnya kolaborasi antara dai, orang tua, dan media. Ketiganya membentuk ekosistem komunikasi yang menentukan keberhasilan pembentukan karakter anak.
Dai berperan sebagai komunikator nilai agama sekaligus teladan perilaku. Orang tua menjadi pendidik utama karena intensitas interaksi sehari-hari. Sementara itu, media berfungsi memperluas jangkauan pesan dan memperkuat pembelajaran moral.
Namun, media juga memiliki sisi ambivalen. Tanpa kurasi yang baik, anak bisa terpapar nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam. Karena itu, pendampingan orang tua tetap krusial dalam memilih konten.
Dampak dan Implikasi
Penelitian Pasaribu dan Dianto memberikan kontribusi penting bagi dunia pendidikan, komunikasi, dan kebijakan keluarga. Strategi dakwah yang adaptif dapat membantu menciptakan generasi berkarakter kuat sejak usia dini.
Secara praktis, temuan ini mendorong:
- orang tua untuk menjadi role model konsisten
- pendidik menggunakan metode kreatif dalam pendidikan moral
- produsen media menghadirkan konten Islami yang ramah anak
- lembaga dakwah mengembangkan pendekatan komunikatif berbasis psikologi anak
Pasaribu dan Dianto menekankan bahwa tanpa konsistensi pesan dan metode, internalisasi nilai moral sulit tercapai. Sebaliknya, pendekatan yang berulang dan terstruktur mampu menanamkan karakter secara berkelanjutan.
Kontribusi Akademik
Studi ini juga mengisi celah penelitian sebelumnya yang cenderung membahas dakwah, pendidikan moral, atau komunikasi Islam secara terpisah. Dengan menggabungkan keempat aspek — karakter anak, pesan moral, strategi komunikasi, dan peran aktor — penelitian ini menawarkan kerangka terpadu dari perspektif Komunikasi Penyiaran Islam.
Kerangka tersebut relevan di era digital ketika anak hidup dalam lingkungan media yang padat stimulus. Dakwah yang kreatif, humanis, dan kontekstual menjadi kunci agar nilai agama tetap relevan bagi generasi muda.
Profil Penulis
Deby Indah Armayanti Pasaribu, M.I.Kom. adalah akademisi di Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary dengan fokus kajian komunikasi Islam dan dakwah.
Icol Dianto, M.Sos. merupakan dosen di universitas yang sama dengan keahlian di bidang komunikasi sosial dan penyiaran Islam.
Keduanya aktif meneliti strategi komunikasi keagamaan serta penguatan karakter berbasis nilai Islam.
Sumber Penelitian
Pasaribu, Deby Indah Armayanti & Dianto, Icol. “Strategies for Islamic Da'wah Communication in Shaping the Morals of Early Childhood: An Islamic Broadcasting Communication Perspective.” International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR), Vol. 4 No. 1, 2026, hlm. 69–88
0 Komentar