Dalam studi yang dilakukan pada Juni–Juli 2025 di wilayah Citayam, Bogor, tim peneliti menguji apakah limbah filter rokok—yang sebagian besar tersusun dari selulosa asetat dan sulit terurai—bisa dimanfaatkan ulang secara aman. Hasilnya penting karena puntung rokok termasuk salah satu jenis sampah paling banyak dibuang sembarangan di dunia dan membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai secara alami.
Masalah Lingkungan dari Puntung Rokok
Setiap tahun, miliaran batang rokok dikonsumsi dan sebagian besar ujungnya berakhir di jalanan, tanah, atau saluran air. Filter rokok mengandung serat selulosa asetat, sejenis plastik mikro yang mampu menyerap zat berbahaya seperti nikotin, tar, dan logam berat. Limbah ini tidak hanya merusak estetika lingkungan, tetapi juga mencemari tanah dan perairan.
Di sisi lain, pertanian perkotaan dan sistem hidroponik terus berkembang sebagai solusi pangan berkelanjutan. Namun, media tanam hidroponik seperti rockwool relatif mahal dan proses produksinya tidak sepenuhnya ramah lingkungan. Kondisi ini mendorong para peneliti mencari alternatif media tanam yang lebih murah, mudah didapat, dan berkelanjutan.
Mengubah Limbah Jadi Media Tanam
Tim Universitas Negeri Jakarta mengolah puntung rokok melalui serangkaian proses ketat agar aman digunakan. Filter rokok dibersihkan dari sisa kertas dan tembakau, direndam air selama beberapa hari, disterilkan dengan alkohol 70 persen, lalu direbus selama tiga jam untuk menghilangkan residu berbahaya. Setelah dikeringkan, material ini siap digunakan sebagai media tanam hidroponik.
Uji coba dilakukan pada tanaman kangkung air (Ipomoea aquatica) menggunakan sistem hidroponik wick. Tanaman dibagi menjadi dua kelompok: satu menggunakan media dari limbah filter rokok, satu lagi menggunakan rockwool sebagai pembanding. Seluruh tanaman mendapatkan nutrisi dan kondisi air yang sama agar hasil pengamatan tetap objektif.
Hasil Pertumbuhan Setara Media Komersial
Selama 26 hari masa tanam, peneliti mengamati tinggi tanaman, jumlah daun, dan panjang daun. Secara visual, kangkung yang ditanam di media puntung rokok tumbuh stabil dan sehat hingga masa panen. Data kuantitatif kemudian dianalisis secara statistik.
Hasil uji Independent Sample T-Test menunjukkan nilai signifikansi 0,86 (p > 0,05). Artinya, tidak ada perbedaan signifikan antara pertumbuhan kangkung yang ditanam di media puntung rokok dan rockwool. Rata-rata tinggi tanaman dan jumlah daun di kedua media hampir sama.
Secara fisik, struktur serat selulosa asetat pada filter rokok dinilai mampu menyimpan air dan menyediakan sirkulasi udara yang baik bagi akar, mirip dengan karakteristik rockwool. Yang terpenting, tidak ditemukan tanda-tanda toksisitas pada tanaman, menandakan proses sterilisasi berhasil menghilangkan zat berbahaya.
Dampak bagi Lingkungan dan Pertanian
Penelitian ini membuka peluang besar bagi pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular. Limbah puntung rokok yang selama ini menjadi masalah dapat diubah menjadi produk bernilai guna untuk pertanian, khususnya hidroponik skala rumah tangga dan urban farming.
Bagi masyarakat, temuan ini menawarkan alternatif media tanam yang lebih terjangkau. Bagi lingkungan, pemanfaatan ulang puntung rokok berpotensi mengurangi volume sampah yang mencemari tanah dan air. Sementara bagi dunia usaha, inovasi ini dapat dikembangkan menjadi produk ramah lingkungan dengan nilai ekonomi baru.
“Media tanam dari limbah filter rokok mampu menggantikan fungsi rockwool tanpa menurunkan kualitas pertumbuhan tanaman,” tulis Nara Abdullah Sufi Al Amin Sabilillah dari Universitas Negeri Jakarta dalam artikelnya. Ia menegaskan bahwa kunci keberhasilan terletak pada proses pembersihan dan sterilisasi yang ketat.
Catatan Keamanan dan Riset Lanjutan
Meski hasilnya menjanjikan, para peneliti menekankan pentingnya kehati-hatian. Prosedur sterilisasi harus diikuti dengan benar sebelum media digunakan, terutama untuk tanaman konsumsi. Penelitian lanjutan juga diperlukan untuk memastikan tidak ada residu logam berat atau zat berbahaya yang terserap ke jaringan tanaman.
Selain itu, studi lanjutan disarankan untuk menguji efektivitas media ini pada jenis tanaman lain dan dalam skala yang lebih besar, serta membandingkan biaya produksi dengan harga media hidroponik komersial.
Profil Penulis
Nara Abdullah Sufi Al Amin Sabilillah adalah peneliti muda dari Universitas Negeri Jakarta dengan fokus kajian pada lingkungan, pertanian berkelanjutan, dan inovasi material berbasis limbah. Raffael Rayya Rabbani dan Dini Nurrahmawati, juga dari Universitas Negeri Jakarta, terlibat dalam riset pengelolaan lingkungan dan sistem pertanian alternatif.
Sumber Penelitian
Sabilillah, N.A.S.A.A., Rabbani, R.R., & Nurrahmawati, D. (2026). Utilization of Cigarette Butt Filter Waste as an Alternative Growing Medium in Hydroponic Systems. Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5 No. 1, hlm. 143–154.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijar.v5i1.16115
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar
0 Komentar