Profil Pariwisata Bahari dari Perspektif Ekowisata dan Konservasi Laut di Kepulauan Manswar, Pulau Gam, dan Kawasan Pesisir Waigeo Selatan, Raja Ampat, Papua Barat Daya



Raja Ampat: Pemetaan Profil Wisata Bahari Berbasis Ekowisata yang Menjaga Terumbu, Budaya, dan Ekonomi Lokal

Raja Ampat di Papua Barat Daya kembali mendapat sorotan ilmiah setelah tim peneliti dari Universitas Papua memetakan profil wisata bahari di Kepulauan Mansuar, Pulau Gam, dan pesisir selatan Waigeo. Studi yang dipimpin Absalom Solossa bersama Selvi Tebaiy, A. Hamid Toha, dan Yuanike Kaber ini dilakukan sepanjang 2024 dan menunjukkan bahwa masa depan pariwisata Raja Ampat sangat bergantung pada kesehatan ekosistem laut serta kekuatan pengelolaan berbasis masyarakat. Temuannya penting karena wisata bahari kini menjadi tulang punggung ekonomi lokal, tetapi juga membawa tekanan lingkungan yang kian nyata.

Mengapa Raja Ampat perlu “profil wisata” yang jelas

Raja Ampat dikenal sebagai jantung Segitiga Terumbu Karang dunia, rumah bagi lebih dari 550 spesies karang dan sekitar 1.500 spesies ikan. Keindahan bawah laut, gugusan karst, serta budaya maritim Papua menjadikannya magnet wisata global. Namun, lonjakan kunjungan wisata—diperkirakan sekitar 33.277 orang pada 2024—menuntut pengelolaan yang lebih terencana agar alam tidak menjadi korban popularitasnya.

Tim peneliti melihat bahwa selama ini pengembangan wisata sering berjalan cepat, tetapi data terintegrasi tentang “profil wisata” tiap kawasan masih terbatas. Karena itu, mereka menyusun gambaran menyeluruh tentang potensi alam, aktivitas wisata, kondisi sosial-budaya, aksesibilitas, serta tantangan konservasi di tiga lokasi kunci: Kepulauan Mansuar, Pulau Gam, dan pesisir selatan Waigeo.

Cara penelitian dilakukan (dijelaskan sederhana)

Alih-alih hanya mengandalkan data statistik, tim menggunakan pendekatan partisipatif yang melibatkan warga setempat. Mereka melakukan pemetaan sosial dan sumber daya, berjalan menyusuri lokasi wisata (transect walk), berdiskusi kelompok dengan warga, serta mewawancarai kepala kampung, pemandu wisata, pemilik homestay, nelayan, pemerintah daerah, dan organisasi konservasi.

Peneliti juga menggabungkan data resmi pemerintah, laporan LSM lingkungan, serta tren kunjungan wisata untuk melihat perubahan dari tahun ke tahun. Hasilnya bukan sekadar angka, melainkan peta nyata tentang bagaimana wisata bekerja di lapangan dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat.

Tiga wajah wisata Raja Ampat

Penelitian ini menegaskan bahwa tiap kawasan memiliki karakter wisata yang berbeda.

1. Kepulauan Mansuar – Pusat wisata bahari paling sibuk
Mansuar, termasuk Pulau Kri dan Arborek, merupakan jantung aktivitas selam kelas dunia. Situs seperti Cape Kri, Sardine Reef, dan Blue Magic terkenal karena arus kaya nutrien yang menarik ikan-ikan besar. Pantainya berpasir putih dengan air jernih, ideal untuk snorkeling, dan beberapa lokasi kerap dikunjungi pari manta. Desa Wisata Arborek menonjol sebagai contoh pariwisata berbasis komunitas, dengan homestay lokal dan pertunjukan budaya.

2. Pulau Gam – Ekowisata darat-laut yang lebih tenang
Gam menjadi favorit pencinta burung, terutama untuk melihat Cenderawasih Merah dan Cenderawasih Wilson di alam liar. Wisatawan sering trekking pagi ke titik pengamatan burung di Sawinggrai dan Yenwaupnor. Ekosistem mangrove dan laguna dangkal juga populer untuk kayak. Di bawah laut, terumbu karang sehat seperti di Friwen Wall menawarkan pengalaman snorkeling dan selam yang kaya biodiversitas, tetapi dengan suasana lebih damai dibanding Mansuar.

3. Pesisir Selatan Waigeo – Gerbang utama dan lanskap karst ikonik
Wilayah sekitar Waisai, Saonek, Saporkren, dan Teluk Kabui berfungsi sebagai pintu masuk utama Raja Ampat. Lanskap karst dengan pulau-pulau kecil yang menjulang—mirip mini Wayag—menjadi daya tarik visual utama. Batu Pensil, pilar karst tipis yang berdiri vertikal, menjadi ikon kawasan ini. Beberapa gua karst menyimpan stalaktit, stalagmit, bahkan lukisan prasejarah Papua.

Siapa yang datang ke Raja Ampat?

Data 2024 menunjukkan wisatawan berasal dari 100 negara, dengan total 32.147 pengunjung. Wisatawan Eropa mendominasi, terutama dari Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, dan Belanda, disusul Amerika Serikat. Mereka cenderung tinggal lebih lama (7–14 hari), fokus pada selam, liveaboard, dan memiliki kepedulian lingkungan yang relatif tinggi.

Sebaliknya, wisatawan domestik biasanya tinggal lebih singkat (2–4 hari), lebih sensitif terhadap harga, dan lebih banyak berkunjung ke lokasi populer yang mudah diakses.

Kekuatan budaya lokal: “Sasi” sebagai benteng konservasi

Salah satu temuan penting penelitian ini adalah peran kearifan lokal, terutama tradisi sasi—larangan adat mengambil sumber daya laut atau hutan dalam periode tertentu agar alam pulih. Praktik ini bukan sekadar aturan, tetapi sistem pengelolaan lingkungan berbasis budaya yang diwariskan turun-temurun.

Peneliti menilai sasi kini berfungsi sebagai “modal budaya” dalam ekowisata: melindungi ekosistem sekaligus menjadi daya tarik sosial-budaya bagi wisatawan yang ingin memahami cara hidup masyarakat Papua.

Selain itu, kuatnya ikatan kekerabatan—misalnya di komunitas Biak—mendukung model homestay berbasis keluarga yang autentik dan ramah wisatawan.

Tantangan besar di balik pesona surga laut

Meski pariwisata membawa manfaat ekonomi, penelitian ini mengidentifikasi beberapa risiko serius:

-Tekanan terhadap terumbu karang akibat jangkar kapal dan aktivitas wisata yang intensif.

-Ancaman perubahan iklim dan kenaikan suhu laut yang dapat memicu pemutihan karang.

-Masalah sampah dan mikroplastik di perairan pesisir.

-Keterbatasan kapasitas pengelolaan wisata di tingkat komunitas.

-Koordinasi yang belum optimal antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.

-Ketergantungan sebagian komunitas pada investor luar.

Rencana aksi: bagaimana membuat wisata lebih berkelanjutan

Tim peneliti merekomendasikan beberapa langkah kunci:

-Digitalisasi promosi dan manajemen wisata agar desa wisata lebih terlihat di pasar global.

-Penguatan kelembagaan lokal, termasuk pengelolaan desa wisata dan pengakuan hak adat.

-Pelatihan berkelanjutan bagi pemandu, pengelola homestay, dan pelaku wisata lokal.

-Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, LSM, akademisi, dan pelaku usaha.

-Skema pendanaan berkelanjutan yang memprioritaskan investasi ramah lingkungan.

-Regulasi yang adil, memastikan manfaat ekonomi tersebar merata dan tidak menimbulkan kesenjangan sosial.

Apa artinya bagi masa depan Raja Ampat?

Studi ini menegaskan bahwa Raja Ampat bukan sekadar destinasi wisata, tetapi laboratorium alam global, pusat ekowisata bahari, dan simbol konservasi laut dunia. Jika dikelola dengan benar, pariwisata dapat memperkuat ekonomi lokal sekaligus menjaga laut tetap hidup.

Seperti dirangkum oleh tim peneliti, keberhasilan Raja Ampat bergantung pada sinergi antara konservasi, budaya, dan ekonomi—bukan salah satunya.


Profil Singkat Penulis

Absalom Solossa, S.Pi., M.Si. – Dosen dan peneliti pariwisata pesisir di Universitas Papua, berfokus pada ekowisata dan pengelolaan sumber daya laut berbasis komunitas.

Selvi Tebaiy, M.Si. – Peneliti sosial-budaya pesisir Universitas Papua, mengkaji kearifan lokal dan pariwisata berkelanjutan.

A. Hamid Toha, M.Si. – Akademisi Universitas Papua dengan kepakaran dalam pengelolaan wilayah pesisir dan konservasi laut.

Yuanike Kaber, M.Si. (Penulis korespondensi) – Dosen Universitas Papua, meneliti hubungan pariwisata, masyarakat lokal, dan keberlanjutan lingkungan.


Sumber Penelitian

Judul artikel jurnal: Marine Tourism Profile from the Perspective of Ecotourism and Marine Conservation in the Manswar Archipelago, Gam Island and the South Waigeo Coastal Area, Raja Ampat, Southwest Papua
Jurnal: International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS)
Tahun: 2026
DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i1.167


Posting Komentar

0 Komentar