Pola Komunikasi Dakwah Humanis Tingkatkan Pemahaman Agama Santri MDTA Ar-Royhan
Komunikasi dakwah yang komunikatif, persuasif, dan edukatif terbukti berperan besar dalam membentuk pemahaman serta sikap keagamaan siswa di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Ar-Royhan, Desa Sihitang, Kota Padangsidimpuan. Temuan ini berasal dari penelitian Muhammad Yusup Hasibuan dan Icol Dianto dari Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary, yang dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Global Sustainable Research. Studi ini menegaskan bahwa cara guru menyampaikan pesan agama menjadi faktor kunci keberhasilan pembinaan religius anak sejak dini.
Penelitian tersebut penting karena MDTA merupakan lembaga pendidikan Islam nonformal yang berfungsi melengkapi pendidikan sekolah umum, terutama dalam menanamkan nilai iman, ibadah, dan akhlak. Di tengah keterbatasan fasilitas dan waktu belajar, strategi komunikasi guru menjadi penentu apakah pesan keagamaan dapat dipahami dan dipraktikkan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan Agama Butuh Pendekatan yang Tepat
Bagi masyarakat Muslim, pendidikan agama bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga proses pembentukan karakter. MDTA hadir sebagai ruang pembelajaran yang menekankan internalisasi nilai, bukan hanya hafalan materi.
Namun, penyampaian pesan agama tidak selalu mudah. Komunikasi yang terlalu kaku atau satu arah berpotensi membuat siswa kurang memahami makna ajaran Islam. Sebaliknya, pendekatan dialogis dan humanis memungkinkan anak terlibat aktif dalam proses belajar.
Hasibuan dan Dianto melihat adanya celah penelitian pada pola komunikasi dakwah di lembaga nonformal seperti MDTA. Sebagian besar studi sebelumnya lebih berfokus pada pendidikan formal atau transformasi digital dakwah, sehingga praktik komunikasi langsung antara guru dan siswa belum banyak dikaji secara mendalam.
Studi Kasus dengan Pendekatan Kualitatif
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus di MDTA Ar-Royhan. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara mendalam, serta dokumentasi kegiatan madrasah. Informan meliputi kepala sekolah, guru, dan siswa yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Analisis dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Validitas temuan dijaga menggunakan triangulasi sumber dan metode, sehingga gambaran praktik komunikasi dakwah yang diperoleh mencerminkan kondisi nyata di lapangan.
Tiga Pola Komunikasi yang Terbukti Efektif
Penelitian menemukan bahwa keberhasilan pembinaan religius siswa bertumpu pada tiga pola komunikasi utama:
Hasilnya, siswa menunjukkan peningkatan pemahaman agama sekaligus perubahan sikap yang lebih religius.
Guru sebagai Komunikator dan Teladan
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah peran ganda guru sebagai pendidik sekaligus dai. Interaksi tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga dalam kegiatan seperti salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan pembinaan akhlak.
Pendekatan interpersonal yang intens memungkinkan guru menyesuaikan pesan dengan kebutuhan dan perkembangan siswa. Dalam perspektif teori komunikasi, pola ini mencerminkan model transaksional—guru dan siswa sama-sama aktif dalam pertukaran pesan.
Hasibuan menekankan bahwa guru harus menjadi teladan. Ketika perilaku guru sejalan dengan pesan yang disampaikan, siswa lebih mudah menerima dan meniru nilai-nilai tersebut.
Kekuatan Komunikasi Verbal dan Nonverbal
Komunikasi verbal menjadi metode paling dominan, terutama melalui ceramah singkat yang dipadukan dengan dialog. Strategi ini membantu menghindari pembelajaran satu arah.
Namun, penelitian juga menyoroti pentingnya komunikasi nonverbal. Keteladanan guru—seperti disiplin beribadah, sopan santun, dan perilaku sehari-hari—menjadi media dakwah yang sangat kuat.
Anak-anak cenderung meniru figur yang mereka anggap penting. Karena itu, konsistensi antara ucapan dan tindakan guru mempercepat internalisasi nilai agama.
Pembiasaan Ibadah sebagai Strategi Dakwah
Rutinitas keagamaan di MDTA Ar-Royhan, seperti doa bersama, membaca Al-Qur’an sebelum pelajaran, dan salat berjamaah, berfungsi lebih dari sekadar latihan ibadah. Aktivitas ini merupakan bentuk komunikasi simbolik yang menanamkan pesan bahwa ibadah adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan Muslim.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep dakwah bil hal—menyampaikan ajaran melalui tindakan nyata, bukan hanya kata-kata.
Faktor Pendukung dan Hambatan
Penelitian mengidentifikasi dua faktor utama yang mendukung keberhasilan komunikasi dakwah:
- Komitmen tinggi para guru
- Lingkungan masyarakat yang religius
Sementara itu, hambatan seperti keterbatasan waktu belajar dan sumber daya tidak menjadi kendala besar. Kreativitas guru serta pendekatan komunikatif mampu mengatasinya.
Dampak bagi Pendidikan dan Kebijakan
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi pengelola MDTA dan lembaga pendidikan Islam lainnya. Model komunikasi yang humanis dan dialogis dapat dijadikan acuan dalam merancang strategi pembinaan keagamaan anak.
Secara teoritis, studi ini memperkuat pandangan bahwa komunikasi dakwah harus mempertimbangkan karakter audiens dan konteks sosial. Secara praktis, pendekatan tersebut dapat membantu lembaga pendidikan menghasilkan generasi yang tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga mengamalkannya.
Hasibuan dan Dianto menilai bahwa integrasi antara komunikasi pendidikan dan nilai dakwah menjadi fondasi penting bagi pembentukan karakter religius sejak usia dini.
Profil Singkat Penulis
Sumber Penelitian
0 Komentar