Perubahan Profil Imunogenetik dan Sitokin pada Gangguan Spektrum Autisme: Sebuah Studi Klinis


Ilustrasi by AI 

Çankırı- Sebuah studi klinis terbaru menunjukkan bahwa anak-anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) memiliki pola gangguan sistem imun yang khas, ditandai oleh perubahan kadar sitokin dan respons peradangan dalam tubuh. Penelitian ini dilakukan oleh Rana Abdulrazzaq Naji dari Çankırı Karatekin University dan dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Natural and Health Sciences. Temuan ini penting karena memperkuat bukti bahwa autisme tidak hanya berkaitan dengan faktor genetik dan perilaku, tetapi juga melibatkan mekanisme imun dan peradangan yang berpotensi memengaruhi perkembangan otak anak.

Penelitian tersebut menganalisis kondisi imun pada 100 anak dengan ASD berusia 1 hingga 12 tahun dan membandingkannya dengan 30 anak sehat sebagai kelompok kontrol. Seluruh peserta berasal dari Baghdad dan dievaluasi secara klinis menggunakan Childhood Autism Rating Scale (CARS), sebuah alat standar untuk mengukur tingkat keparahan autisme. Selain pemeriksaan klinis, peneliti juga menganalisis sampel darah untuk melihat kadar sitokin—molekul sinyal sistem imun—serta imunoglobulin dan aktivitas sel imun alami.

Autism Spectrum Disorder selama ini dikenal sebagai gangguan perkembangan saraf yang kompleks dan sangat beragam. Anak dengan ASD dapat menunjukkan gejala ringan hingga berat, mulai dari kesulitan komunikasi sosial hingga perilaku repetitif yang signifikan. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian ilmuwan semakin tertuju pada peran sistem imun dalam kondisi ini. Banyak studi internasional melaporkan bahwa peradangan kronis tingkat rendah dan ketidakseimbangan sistem imun sering ditemukan pada anak autisme.

Dalam studi ini, Rana Abdulrazzaq Naji menemukan bahwa anak dengan ASD memiliki peningkatan kadar sitokin proinflamasi seperti interleukin-6 (IL-6), tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), dan interferon-gamma (IFN-γ). Zat-zat ini berperan dalam memicu dan mempertahankan respons peradangan. Kadar IL-6, khususnya, menunjukkan korelasi kuat dengan tingkat keparahan autisme berdasarkan skor CARS. Artinya, semakin tinggi IL-6 dalam darah, semakin berat gejala autisme yang dialami anak.

Sebaliknya, beberapa komponen sistem imun yang bersifat protektif justru menunjukkan penurunan fungsi. Aktivitas sel Natural Killer (NK), yaitu sel imun bawaan yang berperan melawan infeksi virus dan menjaga keseimbangan imun, terbukti menurun secara signifikan pada kelompok ASD. Penurunan ini terjadi meskipun jumlah sel NK relatif normal, menunjukkan adanya gangguan fungsi, bukan sekadar kekurangan sel.

Penelitian ini juga mencatat perubahan pada sitokin regulator seperti IL-27 dan IL-37. Kedua molekul ini berperan menjaga keseimbangan antara peradangan dan pengendalian respon imun. Perubahan kadar IL-27 dan IL-37 mengindikasikan bahwa sistem imun anak dengan ASD berada dalam kondisi tidak seimbang, di mana mekanisme pengendalian peradangan tidak bekerja secara optimal.

Selain sitokin, tim peneliti mengukur imunoglobulin—antibodi yang mencerminkan imunitas adaptif. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar IgG dan IgM pada anak dengan ASD secara signifikan lebih rendah dibandingkan anak sehat. Temuan ini mengarah pada dugaan adanya defisiensi selektif dalam sistem kekebalan humoral, yang dapat membuat anak lebih rentan terhadap infeksi atau stres biologis tertentu. Sementara itu, kadar IgA dan IgE tidak menunjukkan perbedaan berarti antara kedua kelompok.

Menurut Naji, pola-pola ini mendukung konsep “kerangka imunogenetik” pada autisme. Dalam kerangka ini, faktor genetik yang memengaruhi sistem imun berinteraksi dengan respons peradangan tubuh, lalu berdampak pada perkembangan otak sejak usia dini. “Ketidakseimbangan sitokin dan gangguan regulasi imun dapat berkontribusi pada jalur neuroinflamasi yang memengaruhi perkembangan saraf,” tulis Naji dalam artikelnya.

Penelitian ini juga mencatat perbedaan profil imun berdasarkan tingkat keparahan dan riwayat regresi autisme. Pada sebagian anak, gejala autisme muncul setelah periode perkembangan awal yang tampak normal. Pada kelompok ini, perbedaan kadar sitokin tertentu, seperti IL-29, menunjukkan kemungkinan peran imun dalam proses regresi perkembangan tersebut.

Dari sisi metodologi, penelitian ini menggunakan kombinasi pemeriksaan laboratorium modern, termasuk ELISA dan analisis sel imun, serta pendekatan statistik untuk memastikan bahwa perbedaan yang ditemukan signifikan secara ilmiah. Semua prosedur dilakukan dengan persetujuan etik dan persetujuan tertulis dari orang tua atau wali anak.

Implikasi dari temuan ini cukup luas. Bagi dunia medis, hasil penelitian ini membuka peluang untuk mengidentifikasi subtipe biologis autisme berdasarkan profil imun. Hal ini dapat membantu pengembangan pendekatan terapi yang lebih personal, termasuk kemungkinan intervensi imunomodulator di masa depan. Bagi pembuat kebijakan dan praktisi kesehatan anak, penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan multidisipliner dalam menangani autisme, tidak hanya dari sisi pendidikan dan perilaku, tetapi juga kesehatan biologis.

Meski demikian, penulis menekankan bahwa hasil ini belum dapat menjawab secara pasti apakah gangguan imun merupakan penyebab utama autisme atau konsekuensi dari kondisi tersebut. Ukuran sampel yang relatif terbatas dan kompleksitas sistem imun manusia menjadi tantangan tersendiri. Naji merekomendasikan penelitian lanjutan dengan skala lebih besar dan pendekatan genetik yang lebih mendalam.

Profil Penulis
Rana Abdulrazzaq Naji, adalah peneliti di bidang imunologi dan biologi kesehatan di Çankırı Karatekin University, Turki. Bidang keahliannya meliputi imunogenetika, sitokin, dan mekanisme peradangan pada penyakit neurologis dan perkembangan.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar