Pengaruh Technostress terhadap Kinerja Karyawan: Peran Mediasi Kecemasan di Kalangan Generasi Z dalam Industri Kreatif

Ilustrasi by AI 

Tekanan Teknologi Picu Kecemasan dan Turunkan Kinerja Gen Z di Industri Kreatif Surabaya

Tekanan penggunaan teknologi di tempat kerja terbukti memengaruhi kesehatan mental dan kinerja pekerja muda di industri kreatif. Temuan ini berasal dari riset Brido Putra Darmawan, Mochammad Arfani, Galuh Ajeng Ayuningtiyas, dan Priyanto dari Universitas Dr. Soetomo Surabaya, yang dipublikasikan pada 2026 di Internasional Journal of Integrative Sciences (IJIS). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa technostress atau stres akibat teknologi meningkatkan kecemasan pekerja Generation Z, yang pada akhirnya berdampak pada performa kerja mereka. Hasil ini penting karena industri kreatif Indonesia semakin bergantung pada teknologi digital dalam proses produksi dan kolaborasi kerja. 

Latar Belakang: Transformasi Digital dan Risiko Kesehatan Mental

Transformasi digital di Indonesia berkembang pesat, terutama di kota besar seperti Surabaya yang menjadi pusat industri kreatif. Tingginya penetrasi internet membuat pekerja harus selalu terhubung dengan berbagai sistem digital. Kondisi ini memicu fenomena techno-invasion, yaitu kaburnya batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan akibat konektivitas tanpa henti.

Pada saat yang sama, survei kesehatan mental nasional menunjukkan bahwa satu dari tiga anak muda Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, dengan kecemasan sebagai salah satu gangguan utama. Kombinasi tuntutan teknologi yang tinggi dan dinamika kerja kreatif yang cepat meningkatkan risiko tekanan psikologis di kalangan pekerja muda.

Dalam konteks ini, riset dari Universitas Dr. Soetomo Surabaya menyoroti peran kecemasan sebagai mekanisme psikologis yang menjelaskan bagaimana technostress memengaruhi kinerja pekerja Gen Z di sektor kreatif.

Metodologi Penelitian Singkat

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis survei terhadap 100 pekerja Gen Z di industri kreatif Surabaya. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang mengukur tingkat technostress, kecemasan, dan kinerja kerja.

Analisis hubungan antarvariabel dilakukan menggunakan teknik statistik pemodelan struktural. Metode ini memungkinkan peneliti melihat pengaruh langsung maupun tidak langsung antara tekanan teknologi, kondisi psikologis, dan performa kerja.

Temuan Utama Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan hubungan kuat antara technostress, kecemasan, dan kinerja pekerja:

a. Technostress meningkatkan kecemasan secara signifikan. Koefisien hubungan mencapai 0,811, menandakan tekanan teknologi menjadi faktor dominan pemicu kecemasan.
b. Kecemasan berpengaruh pada kinerja kerja. Koefisien 0,347 menunjukkan kondisi emosional pekerja berdampak nyata pada produktivitas.
c. Kecemasan memediasi pengaruh technostress terhadap kinerja. Artinya, technostress tidak hanya berdampak langsung, tetapi juga melalui kondisi psikologis pekerja.
d. Model penelitian menunjukkan 65,8% variasi kecemasan dijelaskan oleh technostress, sedangkan 38,6% variasi kinerja dijelaskan oleh kombinasi technostress dan kecemasan.

Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa tekanan teknologi merupakan faktor teknis sekaligus psikologis yang memengaruhi performa kerja.

Dampak dan Implikasi Penelitian

Hasil penelitian memiliki relevansi luas bagi dunia kerja digital:

1. Manajemen Perusahaan
Perusahaan kreatif perlu mengelola penggunaan teknologi secara seimbang, misalnya dengan pelatihan digital, sistem kerja fleksibel, serta pengaturan beban komunikasi daring.

2. Kesehatan Mental Pekerja
Temuan mengenai peran kecemasan menegaskan pentingnya program dukungan psikologis, seperti konseling, pelatihan manajemen stres, dan budaya kerja suportif.

3. Pendidikan dan Pengembangan SDM
Institusi pendidikan dapat mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja digital melalui penguatan literasi teknologi dan keterampilan regulasi emosi.

4. Kebijakan Publik
Pemerintah dan pemangku kepentingan ketenagakerjaan dapat mempertimbangkan kebijakan yang mendukung keseimbangan kerja digital dan kesehatan mental pekerja muda.

Kutipan Akademik

Peneliti korespondensi Galuh Ajeng Ayuningtiyas dari Universitas Dr. Soetomo Surabaya menegaskan bahwa tekanan teknologi tidak hanya memengaruhi aspek teknis pekerjaan. Para penulis menyimpulkan bahwa tekanan digital “tidak hanya berdampak langsung pada kinerja, tetapi juga melalui kondisi psikologis karyawan,” sehingga pengelolaan kesehatan mental menjadi faktor penting dalam transformasi digital di tempat kerja. 

Signifikansi Lebih Luas

Penelitian ini memperkaya literatur global mengenai masa depan kerja digital, khususnya dalam konteks negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi kreatif yang pesat. Meski Generation Z dikenal sebagai generasi digital native, hasil studi menunjukkan bahwa adaptasi teknologi tetap dapat menimbulkan tekanan psikologis.

Bagi industri kreatif Indonesia yang bergantung pada inovasi dan kolaborasi digital, menjaga keseimbangan antara tuntutan teknologi dan kesejahteraan mental pekerja menjadi kunci mempertahankan produktivitas dan daya saing.

Profil Penulis

Brido Putra Darmawan – Universitas Dr. Soetomo Surabaya
Mochammad Arfani – Universitas Dr. Soetomo Surabaya
Galuh Ajeng Ayuningtiyas, M.M. – Universitas Dr. Soetomo Surabaya
Priyanto –  Universitas Dr. Soetomo Surabaya

Sumber Penelitian

Judul: The Effect of Technostress on Employee Performance: The Mediating Role of Anxiety among Generation Z in the Creative Industry
Jurnal: Internasional Journal of Integrative Sciences (IJIS)
Tahun: 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/ijis.v5i2.5
Official URL : https://journalijis.my.id/index.php/ijis/index

Posting Komentar

0 Komentar