Pentingnya Stabilitas Jaringan dalam Digitalisasi Pertanian: Temuan Baru Peneliti Universitas Teknologi Yogyakarta

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Yogyakarta - Efektivitas pemantauan irigasi presisi berbasis teknologi Internet of Things (IoT) ternyata sangat bergantung pada stabilitas jaringan internet, bukan sekadar akurasi sensor semata. Temuan ini diungkapkan oleh Nurwahdaniah Maulida dan Joko Sutopo dari Program Studi Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Teknologi Yogyakarta dalam riset terbaru yang dipublikasikan pada awal 2026 di Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA). Penelitian ini menyoroti bahwa gangguan koneksi seperti keterlambatan pengiriman data (latensi) dan hilangnya paket data (packet loss) dapat merusak visualisasi tren kelembapan tanah, yang pada akhirnya berisiko memicu kesalahan pengambilan keputusan penyiraman oleh petani.

Tantangan Visualisasi Data di Lahan Pertanian

Di era pertanian modern, pemantauan kelembapan tanah secara real-time menjadi kunci untuk efisiensi penggunaan air dan peningkatan produktivitas tanaman, terutama di wilayah yang rentan kekeringan. Namun, banyak sistem IoT menghadapi kendala teknis saat diimplementasikan di lingkungan pertanian yang seringkali memiliki infrastruktur jaringan yang belum memadai.

Masalah utama yang diangkat dalam riset ini adalah bagaimana ketidakstabilan jaringan memengaruhi penyajian data historis. Jika transmisi data terganggu, grafik pemantauan pada dashboard petani akan menunjukkan pola yang tidak teratur, lonjakan palsu, atau bahkan celah kosong (gap). "Kondisi tersebut dapat menyebabkan kesalahan interpretasi pola kelembapan tanah dan menghasilkan keputusan irigasi yang tidak akurat," tulis Maulida dan Sutopo dalam laporannya.

Sederhananya Teknologi di Balik Riset

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif-analitik untuk membedah hubungan antara performa jaringan dan kualitas visualisasi data. Perangkat utama yang digunakan meliputi:

  • Mikrokontroler ESP32: Otak sistem yang membaca kondisi lingkungan dan mengirimkan data secara nirkabel.
  • Sensor Kelembapan Tanah Kapasitif: Alat pengukur kadar air tanah yang lebih tahan lama dan konsisten dibandingkan sensor tipe resistif yang mudah berkarat.
  • Sistem Visualisasi: Data dikirim setiap 30 detik melalui Wi-Fi ke peladen (server) untuk diolah menjadi grafik deret waktu (time-series) mingguan dan harian.

Temuan Utama: Kecil Gangguannya, Besar Dampaknya

Melalui pengamatan sistematis, para peneliti menemukan empat parameter jaringan yang paling berpengaruh terhadap akurasi pemantauan:

  1. Latensi Tinggi: Lonjakan keterlambatan hingga 1.320 milidetik menyebabkan grafik di dashboard tampak macet atau stagnan sementara karena data baru terlambat masuk.
  2. Hilangnya Paket Data (Packet Loss): Meskipun hanya 0,24% data yang hilang (2 dari 840 paket), hal ini sudah cukup menciptakan celah kosong pada grafik yang mengaburkan tren pengeringan tanah yang sebenarnya.
  3. Jeda Pengiriman (Delay Interval): Ketika sinyal melemah, interval pengiriman yang seharusnya tiap 30 detik membengkak hingga 75 detik, membuat grafik tidak halus dan data tidak stabil.
  4. Waktu Henti (Downtime): Terhentinya koneksi total selama rata-rata 5 menit per insiden mengakibatkan pemantauan berhenti sepenuhnya, yang merupakan kondisi paling kritis dalam sistem otomatis.

Implikasi bagi Masa Depan Pertanian Digital

Hasil penelitian ini memberikan pesan kuat bagi pengembang teknologi dan pengambil kebijakan: investasi pada perangkat keras canggih harus dibarengi dengan penguatan infrastruktur konektivitas di pedesaan. Untuk dunia usaha, riset ini menyarankan implementasi mekanisme penyimpanan lokal sementara (local buffering) atau pengiriman ulang data otomatis untuk menjaga integritas informasi saat sinyal buruk.

Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai dampak jaringan ini, transformasi menuju pertanian digital di Indonesia diharapkan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan minim risiko kesalahan teknis yang merugikan petani secara ekonomi.

Profil Penulis

  • Nurwahdaniah Maulida: Peneliti dari Program Studi Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Teknologi Yogyakarta. Memiliki fokus keahlian pada sistem pemantauan berbasis IoT dan pengolahan data sensor untuk aplikasi pertanian.
  • Joko Sutopo: Dosen dan peneliti di Universitas Teknologi Yogyakarta dengan spesialisasi pada teknologi informasi dan pengembangan arsitektur sistem cerdas untuk sektor lingkungan dan agrikultur.

Sumber Penelitian Maulida, N., & Sutopo, J. (2026). Analysis of Iot-Based Soil Moisture Data Visualization and Network Stability Effects on Precision Irrigation Monitoring. Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA), Vol. 5, No. 1, hlm. 49-68. DOI: https://doi.org/10.55927/ijaea.v5i1.15882.

Posting Komentar

0 Komentar