Pengujian Fitokimia Beberapa Larutan Fermentasi Organik

Ilustrasi by AI

Pekalongan— Tekanan Psikologis dan Stigma Dorong Perilaku Seks Berisiko pada MSM dengan HIV di Pemalang. Penelitian yang dilakukan oleh Azah Istikharoh, Ardiana Priharwanti, dan Jaya Maulana dari Universitas Pekalongan. Artikel ini dipublikasikan di International Journal of Integrated Science and Technology (IJIST) Vol. 4, No. 2 February 2026.

Penelitian yang dilakukan Azah Istikharoh, Ardiana Priharwanti, dan Jaya Maulana menyoroti bagaimana tekanan psikologis, stigma sosial, dan keterbatasan dukungan struktural membentuk pola perilaku yang sulit berubah, meski pengetahuan tentang HIV sudah cukup baik.

Latar Belakang: HIV dan Tekanan Sosial di Balik Angka Statistik

Secara nasional, kelompok MSM merupakan salah satu populasi dengan risiko tertinggi tertular HIV. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sebagian besar kasus baru terjadi pada laki-laki usia muda dan produktif. Di Pemalang sendiri, hingga 2025 tercatat lebih dari 740 kasus HIV kumulatif, dengan sedikitnya 10 kasus berasal dari kelompok MSM di wilayah Petarukan.

Namun, angka-angka ini tidak cukup menjelaskan mengapa penularan terus terjadi. Di balik statistik, terdapat kisah tentang penolakan keluarga, ketakutan akan stigma, keterbatasan ruang aman, dan tekanan ekonomi. Faktor-faktor inilah yang mendorong sebagian individu menjalani kehidupan seksual secara tersembunyi dan berisiko.

Menurut para peneliti, banyak MSM hidup dalam situasi “tersembunyi”—tidak terbuka pada keluarga, lingkungan, bahkan tenaga kesehatan—karena takut dikucilkan. Kondisi ini membuat akses terhadap edukasi, konseling, dan dukungan emosional menjadi terbatas.

 

Temuan Utama: Delapan Faktor yang Saling Berkaitan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku seksual berisiko pada MSM dengan HIV tidak muncul secara tiba-tiba. Ada delapan tema utama yang saling terkait:

  1. Kesadaran Diri dan Status HIV
    Banyak informan baru melakukan tes HIV setelah disarankan petugas kesehatan. Sebagian besar tidak merasa berisiko sebelumnya. Setelah didiagnosis, muncul rasa kaget, takut, dan cemas akan penilaian sosial.
  2. Riwayat dan Pola Hubungan Seksual
    Ketertarikan sesama jenis umumnya muncul sejak remaja. Hubungan seksual sering bersifat tidak eksklusif, dengan pergantian pasangan yang cukup sering.
  3. Penggunaan Kondom yang Tidak Konsisten
    Meski memahami pentingnya kondom, banyak informan tidak menggunakannya secara rutin, terutama dengan pasangan yang dianggap “sudah dikenal”.
  4. Keterlibatan dalam Seks Komersial dan Zat Adiktif
    Tekanan ekonomi mendorong sebagian informan terlibat dalam seks berbayar. Konsumsi alkohol atau narkoba juga menurunkan kontrol diri saat berhubungan.
  5. Faktor Psikologis
    Trauma masa lalu, penolakan keluarga, rasa bersalah, dan kebutuhan akan penerimaan menjadi pemicu utama perilaku berisiko.
  6. Lingkungan Seksual dan Ruang Aman
    Karena kurangnya ruang aman di masyarakat, MSM mencari tempat tertutup atau komunitas terbatas yang cenderung permisif terhadap seks tanpa pengaman.
  7. Stigma dan Diskriminasi
    Informan mengalami stigma ganda: sebagai MSM dan sebagai ODHA. Hal ini membuat mereka enggan terbuka, termasuk di fasilitas kesehatan.
  8. Kesenjangan antara Pengetahuan dan Pengendalian Diri
    Pengetahuan tentang HIV tidak selalu berujung pada perilaku aman. Dalam kondisi emosional tertentu, kontrol diri melemah.

Seorang informan mengungkapkan bahwa hubungan seksual sering menjadi cara untuk merasa “diterima”, meskipun sadar akan risikonya. Sementara tenaga kesehatan menyatakan bahwa banyak pasien memahami bahaya HIV, tetapi sulit keluar dari kebiasaan lama.

Dampak: Mengapa Temuan Ini Penting bagi Publik?

Penelitian ini menunjukkan bahwa pencegahan HIV tidak cukup hanya dengan membagikan kondom atau memberikan penyuluhan. Masalah utamanya jauh lebih kompleks.

Beberapa implikasi penting dari temuan ini antara lain:

  • Bagi layanan kesehatan:
    Perlu layanan yang ramah, bebas stigma, dan menjaga kerahasiaan agar MSM tidak takut mengakses bantuan.
  • Bagi pembuat kebijakan:
    Program HIV harus mengintegrasikan aspek psikologis, sosial, dan ekonomi, bukan hanya medis.
  • Bagi masyarakat:
    Pengurangan stigma menjadi kunci utama. Dukungan keluarga dan lingkungan dapat menekan perilaku berisiko.
  • Bagi dunia pendidikan dan LSM:
    Edukasi seksual perlu disesuaikan dengan realitas kelompok minoritas, disertai pendampingan emosional.

Azah Istikharoh menegaskan bahwa perubahan perilaku membutuhkan dukungan jangka panjang. “Edukasi saja tidak cukup. Mereka butuh ruang aman, konseling, dan penerimaan sosial,” tulis tim peneliti dalam laporannya.

Profil Singkat Penulis

  • Azah Istikharoh, S.KM., M.Kes._Universitas Pekalongan.
  • Ardiana Priharwanti, S.KM., M.Kes._Universitas Pekalongan.
  • Jaya Maulana, S.KM._Universitas Pekalongan.

Sumber Penelitian

Istikharoh, A., Priharwanti, A., & Maulana, J. (2026). Phytochemical Test of Several Organic Fermentation Solutions. International Journal of Integrated Science and Technology, Vol. 4 No. 2, Februari 2026, hlm. 68–81.

DOI: https://doi.org/10.59890/ijist.v4i2.270

URL: https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijist

 


Posting Komentar

0 Komentar