Temuan ini penting karena memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan tidak harus selalu dimulai dari konsep abstrak atau isu global, tetapi dapat berangkat dari pengetahuan lokal tentang tumbuhan yang dekat dengan kehidupan siswa. Dalam konteks krisis lingkungan yang terus memburuk, hasil penelitian ini memberi sinyal kuat bahwa sekolah memiliki peran strategis dalam menanamkan kesadaran lingkungan sejak usia dini.
Krisis Lingkungan dan Peran Perilaku Manusia
Kerusakan lingkungan saat ini tidak lepas dari perilaku manusia yang mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Pemanasan global, pencemaran air dan udara, serta hilangnya keanekaragaman hayati menjadi masalah nyata yang dampaknya semakin terasa, termasuk di Indonesia. Berbagai kajian menunjukkan bahwa faktor utama di balik kerusakan lingkungan adalah rendahnya kepedulian dan kesadaran manusia terhadap alam.
Dalam dunia pendidikan, sikap peduli lingkungan dipandang sebagai bagian penting dari pembentukan karakter siswa. Namun, membangun sikap tersebut tidak cukup hanya melalui imbauan moral. Dibutuhkan pengetahuan yang membuat siswa memahami hubungan antara manusia dan alam secara nyata. Di sinilah etnobotani—ilmu yang mempelajari hubungan manusia dengan tumbuhan dalam konteks budaya—menjadi relevan.
Mengkaji Hubungan Pengetahuan dan Sikap Lingkungan
Penelitian ini dilakukan di SMP PGRI 2 Denpasar, sebuah sekolah menengah pertama yang juga dikenal sebagai sekolah Adiwiyata, yakni sekolah yang menerapkan program pendidikan berwawasan lingkungan. Peneliti melibatkan 50 siswa kelas VII sebagai responden.
Pendekatan yang digunakan adalah penelitian kuantitatif korelasional. Data dikumpulkan melalui tes pengetahuan etnobotani berupa soal pilihan ganda dan kuesioner sikap peduli lingkungan dengan skala penilaian sikap. Instrumen penelitian telah melalui uji validitas dan reliabilitas, sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson dan regresi linier sederhana untuk melihat seberapa kuat hubungan antara pengetahuan etnobotani dan sikap peduli lingkungan siswa.
Hasil: Hubungan Kuat dan Signifikan
Hasil penelitian menunjukkan gambaran yang cukup jelas. Sebanyak 78 persen siswa memiliki tingkat pengetahuan etnobotani dalam kategori tinggi, dengan nilai rata-rata mendekati 75. Artinya, sebagian besar siswa sudah memahami jenis-jenis tanaman, manfaatnya, serta perannya bagi kehidupan manusia dan lingkungan.
Sementara itu, 72 persen siswa menunjukkan sikap peduli lingkungan dalam kategori baik. Sikap ini tercermin dari kesadaran menjaga kebersihan, merawat tanaman sekolah, serta menghargai peran tumbuhan dalam keberlangsungan hidup.
Analisis statistik menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,697, yang termasuk dalam kategori hubungan kuat. Nilai signifikansi yang sangat kecil menandakan bahwa hubungan tersebut bukan kebetulan. Lebih jauh, analisis regresi menunjukkan bahwa pengetahuan etnobotani menjelaskan sekitar 48,5 persen variasi sikap peduli lingkungan siswa.
Dengan kata lain, hampir setengah dari sikap peduli lingkungan siswa dapat dijelaskan oleh seberapa baik mereka memahami etnobotani.
Sekolah dan Aktivitas Lingkungan Berperan Penting
Peneliti mencatat bahwa hasil positif ini tidak lepas dari lingkungan sekolah yang mendukung. SMP PGRI 2 Denpasar secara aktif menjalankan berbagai kegiatan berbasis lingkungan, seperti perawatan kebun sekolah, penanaman tanaman obat keluarga, lomba kebersihan kelas, hingga kegiatan “Jumat Bersih”.
Melalui aktivitas tersebut, siswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga berinteraksi langsung dengan tanaman. Pengalaman nyata ini memperkuat pemahaman mereka tentang manfaat tumbuhan dan menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk menjaga lingkungan.
Menurut Dewa Ayu Sri Ratnani, interaksi langsung dengan alam membuat pengetahuan menjadi lebih bermakna. Siswa tidak sekadar tahu nama tanaman, tetapi juga memahami fungsi dan nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Implikasi bagi Pendidikan Lingkungan
Temuan penelitian ini memiliki implikasi luas bagi dunia pendidikan. Pertama, hasil ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal berbasis etnobotani efektif sebagai pintu masuk pendidikan lingkungan. Pendekatan ini lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan siswa dibandingkan isu lingkungan yang bersifat global dan abstrak.
Kedua, penelitian ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam kegiatan sekolah sehari-hari, bukan hanya sebagai materi pelajaran tambahan. Ketika siswa terbiasa merawat tanaman dan lingkungan sekitarnya, sikap peduli akan tumbuh secara alami.
Bagi pembuat kebijakan pendidikan, hasil ini dapat menjadi dasar untuk mendorong kurikulum yang lebih kontekstual dan berbasis kearifan lokal, terutama di daerah yang kaya keanekaragaman hayati seperti Bali dan wilayah Indonesia lainnya.
Pengetahuan sebagai Dasar Perubahan Perilaku
Penelitian ini juga memperkuat pandangan bahwa perubahan perilaku lingkungan berawal dari pengetahuan. Siswa yang memahami peran tumbuhan dalam kehidupan cenderung memiliki empati lebih besar terhadap alam. Pengetahuan tersebut membentuk kesadaran emosional dan spiritual bahwa manusia sangat bergantung pada lingkungan yang sehat.
Dalam jangka panjang, pendidikan etnobotani berpotensi melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan.
Profil Penulis
Dewa Ayu
Sri Ratnani, S.Pd., M.Pd. adalah dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Mahasaraswati Denpasar. Bidang keahliannya meliputi pendidikan biologi,
pendidikan lingkungan, dan pengembangan karakter peduli lingkungan.
I Made Maduriana, S.Pd., M.Pd. merupakan dosen di Institut Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Saraswati Tabanan, dengan fokus kajian pada pendidikan sains
dan pembelajaran berbasis lingkungan.
Sumber Penelitian
Ratnani, D. A. S., & Maduriana, I. M. (2026). Correlation of Ethnobotanical Knowledge with Students’ Environmental Concern Attitude at SMP PGRI 2 Denpasar. Indonesian Journal of Advanced Research, Vol. 5 No. 1, hlm. 107–116.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijar.v5i1.16105
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar
0 Komentar